Selasa, 16 Januari 2018

HYPER GRACE: Suatu Telaah Teologis

 Tinjauan Konsep Hyper-Grace Mengenai Isu ‘Menentang Pertobatan’ Berdasarkan Surat 1 Yohanes 1:9

Oleh : Yosep Belay


BAB I. PENDAHULUAN

          Konsep “Kasih Karunia” dalam teologi Kristen memiliki peranan yang sangat fundamental. Hal ini disebabkan karena konsep ini merupakan satu-satunya konsep Keselamatan yang memiliki ciri khas serta perbedaan tajam dengan konsep keselamatan agama lain. Kasih Karunia merupakan pemberian Allah (Theosentris), sedangkan konsep agama lain merupakan usaha manusia (Antroposentris). Namun seiring dengan perkembangan pemikiran teologi yang terus berlangsung, maka hal tersebut melahirkan beragam pemikiran yang ikut mempengaruhi konsep ini, dan tak terkecuali di zaman sekarang. Saat ini terdapat salah satu kelompok yang mengajarkan konsep Kasih Karunia yang melenceng, yaitu para penganut “Hyper-Grace”[1]

          Dalam meganalisa konsep pengajaran kelompok tersebut, Penulis menjumpai sedikitnya dua belas penyimpangan pengajaran yang berhubungan dengan Kasih Karunia. Salah satunya yang akan penulis angkat dalam tulisan ini adalah menyangkut isu penolakan kalangan Hyper-Grace yaitu “menentang Pertobatan”. Isu tersebut dapat di lihat pada isi khotbah dan beberapa tulisan dari kalangan tersebut. Sebagai contoh, dalam bukunya “The Hyper Grace Gospel”, Paul Ellis[2] membuka argumentasinya untuk menjawab Brown dengan mengutip argumentasi yang dibangun Brown, yaitu, 

Para pengkhotbah hiper-anugerah mengatakan bahwa pertobatan tidak diperlukan. Mereka mengatakan bahwa pertobatan adalah tanda ketidak percayaan[3]

Ia kemudian melanjutakan dengan argumentasinya sebagai pembelaan yang mewakili kalangan Hyper-Grace.

Isu untuk “Menolak pertobatan” oleh kalangan Hyper-Grace, tentu memiliki dampak yang fatal dalam hal etika dan buah kehidupan kristiani. Dari kepentingan ini maka penulis merasa penting untuk mengangkat Isu tersebut (“Menentang pertobatan”) yang akan diuji oleh terang Firman Allah dengan maksud agar Orang percaya dapat melihat dengan benar dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan praktis.


BAB II. KAJIAN EKSEGETIKAL 

I. Apakah “Kasih Karunia” itu?

Kasih Karunia merupakan suatu kalimat yang menyatakan secara utuh kepenuhan tindakan kasih Allah kepada manusia, tanpa intervensi sedikitpun oleh manusia tersebut. Sean Michael Lucas mengatakan bahwa Kasih Karunia adalah,

(tindakan) Allah yang mengambil kita yang hancur berantakan oleh dosa dan menunjukan kepada kita perkenanan yang tidak layak kita terima, yang diberikan tanpa paksaan … kedua kata itu ditemukan dalam Efesus 2:4, “Tetapi Allah!” meskipun kita telah hancur berantakan oleh dosa kita, Allah dalam Anugerah-Nya mencurahkan kekayaan anugerah-Nya atas kita dalam Yesus Kristus[4].

Dalam konsep pengajaran Hyper-Grace, makna kasih Karunia juga memiliki definisi yang sama. Ellis mengatakan bahwa anugerah berbicara mengenai Allah yang mengasihi manusia dengan kasih yang tak terukur. Mengutip Philip Yancey, ia menanjutkan bahwa, 

“Anugerah berarti tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membuat Allah lebih mengasihi saya, dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membuat Allah kurang mengasihi saya”[5]

Dapat disimpulkan bahwa makna Kasih Karunia baik dari kalangan Otrodoks maupun kalangan Hyper-Grace adalah sama, yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia yang didasari secara mutlak atas kasih, kemurahan, kebaikan, dan kedaulatan-Nya untuk manusia. Pada titik tersebut, penulis menemukan bahwa tidak ada perbedaan mendasar mengenai konsep “Kasih Karunia”.

II. Korelasi Antara Kasih Karunia dan Pertobatan

 dalam konsep Hyper-grace.

  Isu penting yang menjadi perdebatan adalah penolakan kalangan “Hyper-Grace” mengenai pertobatan bagi Orang percaya. Bulletin Doa bulanan GBI yang mengutip Pandangan Dr. Brown, menjabarkan pandangan kalangan Hyper-Grace demikian,

Dalam pengajaran Hyper-Grace, orang yang sudah lahir baru itu tidak perlu minta ampun. Kalau minta ampun itu justru mereka berdosa. Sehingga mereka menolak “Doa Bapa Kami” karena disitu Tuhan Yesus menyebutkan, “Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Artinya mereka katakana, “tuhan Yesus, salah Kamu!” Mana bisa orang yang sudah bertobat terus menita ampun lagi dan kalau mereka disadarkan atas dosanya maka doa mereka seperti ini, “Terima Kasih Tuhan, saya dalam keselamatan dan Kasih Karunia-Mu sehingga saya tidak dihukum” … “Terima Kasih Tuhan, sekalipun saya berbuat dosa, saya tetap benar sempurna dihadapan-Mu”.[6]

          Dengan demikian maka jelas bahwa kalangan Hyper-Grace menekankan secara berlebihan menganai Kasih Karunia sehingga mengakibatkan orang percaya menjadi “mati rasa” terhadap dosa. Suatu pengajaran yang mematikan nurani orang percaya sebagai alarm terhadap dosa. “Pertobatan” tidak lagi diperlukan dalam konsep Hyper-Grace, karena di dalam anugerah Allah memang tidak ada dosa lagi yang menuntut suatu “pertobatan”.

Setelah meninjau dari kalangan yang kontra Hyper-Grace, maka berikut penulis menyajikan jawaban dari Ellis yang menwakili kelompok Hyper-Grace dalam usaha untuk menyajikan suatu sudut pandang yang holistic dan objektif. Menjawab  tuduhan tersebut, Ellis mengatakan bahwa,

Pertobatan adalah salah satu kata yang memilki arti berbeda bagi orang-orang berbeda. Orang yang pola pikirnya berorientasi perbuatan biasanya mengiterpretasikan pertobatan sebagai berbalik dari dosa … Injil anugerah-campuran akan mendefinisikan pertobatan sebagai suatu rangkaian sikap yang dianjurkan (misalnya, berbalik dari dosa) dan emosi-emosi (misalnya, penyesalan dan kesedihan). Tetapi mewajibkan cara yang benar untuk orang bertobat sama dengan menempatkan orang di bawah hokum taurat … pertobatan itu sendiri sebenarnya adalah pembaharuan pikiran. Itulah arti harfiah kata tersebut.[7]

Dari penjelasan demikian, dapat penulis simpulkan dua hal. Pertama, bahwa penganut Hyper-Grace menolak “Pertobatan” dengan suatu tindakan usaha manusia, karena akan terjebak pada pola taurat, dan hal itu bukan lagi merupakan Kasih Karunia, tetapi usaha manusia. Hal tersebut bukan lagi Injil Anugerah, akan tetapi Injil Anugerah-Campuran.

Dan kedua, kalangan Hyper-Grace bertumpu pada istilah “Pertobatan” dimana kata pertobatan tersebut dibatasi secara etimologi, yaitu “Metanoia”—Perubahan pola pikir. Pertobatan dalam perspektif Hyper-Grace bukanlah suatu tindakan aktif (sikap yang ekspresif) akan tetapi hanya merupakan suatu perupahan pola pikir. Suatu perubahan pola pikir, dimana proses pertobatan tersebut pasif, hanya saja pola pikir yang berubah dan menggantungkan semua dosa dan kesalahan pada karya Kristus.

Meninjau kedua sudut pandang tersebut, maka dapat dilihat bahwa terdapat kekeliruan dalam perspektif kalangan konservatif mengenai pandangan Hyper-Grace, dan begitu juga sebaliknya. Kalangan konservatif menuduh Hyper-Grace “Menentang Pertobatan” akan tetapi tidak demikian. Kalangan Hyper-Grace membatasi konsep “Pertobatan” hanya pada definisi kata tersebut dan korelasinya pada karya Kristus sehingga memberikan konsekwensi logis pada pemaknaan kata tersebut yang pasif (tanpa perlu suatu perbuatan aktif dari si petobat). 

Sementara kalangan Hyper-Grace menuduh kalangan konservatif telah membuat suatu hukum taurat baru dengan menambahkan tindakan praktis bagi si petobat (misalnya, saran-saran seperti harus meninggalkan perbuatan dosa-dosa lama). Dengan demikian menurut mereka, hal tersebut tidak lagi murni sebagai sebuah anugerah, namun anugerah-campur perbuatan. Meski demikian ada kelemahan dalam konsep “Pertobatan” menurut Hyper-Grace. Pada sub bab berikut, penulis akan menjabarkannya.

III. Evaluasi Isu “Menentang Pertobatan—Hyper Grace” Berdasarkan Surat 1 Yohanes 1:9.

Dalam usaha untuk mengevaluasi pandangan tersebut, maka penulis akan membagi bagian ini menjadi dua bagian. Pertama, tinjauan dari sudut pandang Alkitab berdasarkan Surat 1 Yohanes 1:9, dan ayat lainnya. Kemudian yang kedua, tinjauan dari sudut etimologi kata “Pertobatan”.

1. Tinjauan berdasarkan Surat 1 Yohanes 1:9.

          Dalam Surat Yohanes tersebut, sang Rasul dengan tegas mengatakan bahwa: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. Tidak perlu untuk bersusah payah mengeksegesis ayat tersebut, karena memang secara eklplisit sangatlah jelas bahwa Rasul Yohanes juga menasehatkan Orang percaya agar tetap mengaku dosa (bdk. juga dengan, Yakobus 5:16). Hal ini mengindikasikan bahwa walaupun kita telah hidup dalam Anugerah/Kasih Karunia Allah, akan tetapi kita tidak secara ajaib menggunakan “sayap dan buntalan putih dikepala”, akan tetapi terkadang Orang percaya jatuh, dan bangkit lagi. Hal ini merupakan suatu proses pengudusan yang terus berlangsung hingga kematian menjemput. Maka pertobatan (baik pengakuan dosa, maupun tindakan aktif untuk berpaling dari perbuatan dosa) tidak dapat dipisahkan dari pergumulan perjalanan Iman setiap Orang percaya.

          Hal ini bukan berarti suatu “Taurat baru” akan tetapi merupakan buah dan bukti dari pertobatan itu sendiri (bdk. Matius 3:8; Lukas 3:8). Penafsiran kalangan Hyper-Grace dimana suatu bentuk pertobatan yang aktif (dengan tindakan meninggalkan dosa) sebagai suatu “Taurat” adalah hal yang berlebihan dan suatu ketidak sadaran bahwa “menjadi manusia baru” tidak lantas menghilangkan natur “daging” dalam kehidupan orang percaya. Sebaliknya, suatu “Pertobatan yang tanpa buah adalah penipuan”. Itu sebabnya Rasul Yakobus mengatakan bahwa Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

2. Tinjauan Etimologi kata “Pertobatan”.

          Kata “Pertobatan” berasal dari bahasa Yunani Metanoia, kata sifat yang secara harfiah dapat berarti “Pertobatan; Perubahan pikiran; hal berpaling (dari dosa)”[8]. Akan tetapi jika kata tersebut berubah menjadi kata kerja Metanoeo, maka akan menjadi suatu tindakan aktif, “bertobat, menyesal, berbalik dan meninggalkan dosa”[9]. Dengan demikian secara etimologi pun tidak membenarkan klaim kalangan Hyper-Grace yang menilay makna “Pertobatan” secara pasif. 

          Disisi lain konsekwensi logis dari makna pertobatan yang pasif, akan berdampak suatu bentuk pertobatan yang semu karena sulit menilay apakah seseorang telah benar-benar bertobat atau belum. Jika hanya melalui perubahan pikiran, maka bagaimanakah kita mengetahui seberapa jauh pikiran orang tersebut telah berubah jika tidak ada buah yang disailkannya?.

Dampak lainnya dari “pertobatan pasif” tersebut adalah hilangnya tanggung-jawab moral Orang percaya. Pada titik yang ekstrem akan berujung pada pemahaman “gila” yang dianalisa oleh Brown seperti yang telah dibahas diatas.

BAB III. KESIMPULAN

Diatas telah dijabarkan secara singkat tentang pandangan-pandangan mengenai isu “Menentang pertobatan” baik dari sudut pandang kalangan konservatif, maupun dari kalangan Hyper-Grace, yang kemudian penulis evaluasi melalui kebenaran Firman Tuhan, maka pada bagian penutup ini, sebagai kesipulan, ada beberapa hal yang perlu penulis sampaikan,

1.   Firman Tuhan tidak pernah menentang/menolak pertobatan, sebaliknya, menyarankan pertobatan (perubahan pikiran dan tindakan nyata) sebagai rekonsiliasi dihadapan Allah serta bukti dan buah dari komitmen Orang percaya jatuh dalam dosa.
2.   Menjadi Orang percaya dan hidup dalam anugerah Allah bukan berarti bebas dari natur dosa. Pengudusan progresif terus berlangsung sepanjang hidup Orang percaya, untuk itu “jatuh” itu merupakan proses, akan tetapi “jatuh” bukan berarti menjadi pembenaran untuk berkudang dalam lumpur dosa. “Jatuh” sebaiknya dipandang sebagai kelemahan yang perlu diperbaharui, yang juga sekaligus mengkonfirmasikan bahwa, setiap Orang percaya membutuhkan uluran tangan kasih dan pimpinan Tuhan dalam hidupnya.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi berkat bagi jemaat Tuhan yang bergumul untuk tekun hidup didalam Kasih Karunia Tuhan dengan benar. Soli Deo Gloria!...



KEPUSTAKAAN.

Alkitab (TB), (Jakarta: LAI, 2012).

Paul Ellis, The Hyper Grace Gospel: Sebuah Respon Bagi Micheal Brown Dan Bagi Mereka Yang Menentang Pesan Kasih Karunia Modern (Jakarta: Light Publishing, 2015).

Sean Michael Lucas, Apakah Anugerah itu? (Surabaya : Momentum, 2013).

Barklay M, Newman, Jr, Kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012).

Buletin Doa GBI Sukawarna, edisi  September 2015.



[1] Dari makna kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hyper-Grace merupakan suatu pengajaran mengenai “Kasih Karunia yang berlebihan”, atau seperti istilah yang digunakan Brown, “Kasih Karunia over dosis”. Puncak dari pengajaran ini berlangsung dari tahun 2014 hingga kini. Salah satu tokoh yang menentang keras pengajaran ini adalah Michael L. Brown, yang  ia suarakan melalui bukunya, “Hyper-Grace: Kasih Karunia Over dosis”, Nafiri Gabriel, 2015.

[2] Paul Ellis merupakan seorang penulis, dan salah satu tokoh pengajar “Hyper-Grace” yang juga disinggung oleh Dr. Brown dalam bukunya. Saat ini Paul Ellis menggembalakan sebuah gereja multikultural di Hongkong.

[3] Paul Ellis, The Hyper Grace Gospel: Sebuah Respon Bagi Micheal Brown Dan Bagi Mereka Yang Menentang Pesan Kasih Karunia Modern (Jakarta: Light Publishing, 2015), 51.

[4] Sean Michael Lucas, Apakah Anugerah itu? (Surabaya : Momentum, 2013), 15.

[5] Paul Ellis, The Hyper Grace Gospel … 17.

[6] Buletin Doa GBI Sukawarna, edisi  September 2015.  Hal. 6. Sebagai catatan, Meskipun dalam bulletin tersebut mengkritisi mengenai konsep Hyper-Grace, namun teologi yang diusung oleh penulis bulletin tersebut adalah Armenian sehingga tidak cocok dengan bahasan mengenai “Anugerah Allah”, karena Anugerah Allah tersebut akhirnya menjadi tidak efektif dan dapat hilang (bdk. hal, 4). Anugerah Allah menjadi cacat karena berubah menjadi konsep “anugerah plus perbuatan”.
[7] Paul Ellis, The Hyper Grace Gospel … 51-52.
[8] Barklay M, Newman, Jr, Kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 106.

[9] Ibid.

Minggu, 14 Januari 2018

RENUNGAN : KEMURAHAN ALLAH

Nats: Ayub 25:3".... Dan siapakah yang tidak disinari terang-Nya?"

_______

      Para ahli dalam berbagai bidang, selalu memiliki kekaguman terhadap karya Allah bagi manusia ketika mereka menggeluti bidang profesinya. Para astronom akan kagum dan kaget ketika menyadari bahwa manusia begitu kecil dan bagaikan debu tanah jika dilihat dari keagungan susunan tata surya. Mereka kagum dengan posisi bumi yang begitu TEPAT (terlalu dekat, kita gosong, terlalu jauh kita beku) dalam lintasannya, terus berputar tanpa bergeser maju ataupun mundur Selama ribuan tahun. Para ahli pangan akan kebingungan untuk menjelaskan ketersediaan pangan bagi manusia dalam dunia ini, sambil bertanya "siapa yang menyediakan semuanya itu?." Mereka juga mungkin bertanya dalam hatinya "Apakah manusia dulu atau pangan dulu?". Para ahli anatomi akan dibuat kagum dengan susunan dan struktur tubuh manusia yang begitu rumit, sampai-sampai robot tercanggih buatan manusiapun hanya tampak seperti "kerajinan tangan anak sekolah dasar".

        Kekaguman ini nampaknya mulai pudar dalam dunia manusia modern. Suatu dunia yang sibuk bagi dirinya sendiri, sehingga lupa bahwa apa yang ia punya, Ia gunakan, Ia makan, Ia hirup adalah sebuah pemberian. Ayat di atas menyindir dan mengajar dengan tegas bahwa "siapakah yang tidak disinari terang-Nya?". Jika analoginya menggunakan terang dan sinar matahari maka bertanyalah pada diri kita, pernakah kita tidak terkena sinar matahari?, siapakah yang tidak membutuhkan sinar matahari?, atau siapakah yang dapat hidup dalam kegelapan tanpa sinar?.

      Sadar atau tidak, "sinar-Nya" menggambarkan kemuliaan, kebaikan, dan kemurahan Allah bagi saudara dan saya. Bahkan juga bagi kaum atheis. Kemurahan ini dinyatakan dalam berbagai hal dalam hidup kita, tidak ada hal yang merupakan hasil usaha kita, semuanya karena Anugerah Allah.
Kesadaran ini seharusnya menjadikan kita penuh dengan ucapan Syukur, kagum, dan hormat akan kebesaran Tuhan. Rasa kagum yang mendorong kita untuk hidup serta bertekun dalam kehendak dan rencana-Nya. Sudahkah saudara mensyukuri Kemurahan-Nya hari ini?.

Salam...
(yb).

RENUNGAN : FILSAFAT KRISTEN

Nats: "... Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi." (Ayub 28:28).

_______

       Istilah "filsafat" merupakan suatu istilah yang diadopsi dari bahasa serta konsep Yunani yang berarti "cinta Kebijaksanaan". Filsafat merupakan salah satu cabang ilmu yang dikembangkan manusia untuk berpikir serius mengenai dirinya, Tuhan, dan alam semesta. Singkatnya filsafat merupakan suatu proses pembelajaran untuk menggapai hikmat demi terwujudnya tatanan kehidupan manusia yang lebih baik. Namun semenjak jaman filsuf pra-Sokrates hingga pasca modern saat ini, ternyata keadaan manusia tidak lebih baik. Apa yang menjadi permasalahan mendasar dari hal ini?

        Permasalahan mendasar terletak pada pemisahan "hikmat" dengan "takut akan Tuhan". Banyak dari para tokoh hebat yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk mengejar hikmat. Sederetan gelar dan jidat yang semakin meninggi serta terlihat sedikit mulai "tandus" menjadi bukti sekaligus kebanggaan bagi mereka. Namun Sayangnya, tak sedikit dari para pegiat hikmat ini yang juga harus mengakhiri kariernya dengan cara yang kurang berhikmat pula, karena dengan terpaksa harus berurusan dengan penegak hukum.

        "Takut akan Tuhan itulah hikmat". Betapa indahnya Firman Tuhan ini! Tuhan adalah sumber hikmat dan pengetahuan. Hikmat dan kepintaran, harus dimulai dari hati dan lutut yang bersimpuh dalam penyembahan kepada Tuhan. Hikmat tanpa rasa takut akan Tuhan akan memberikan dampak yang destruktif bagi diri sendiri dan orang lain. Namun hikmat yang dimulai, dipimpin, dan diakhiri oleh rasa takut akan Tuhan akan memberkati semua orang. Teruslah mengejar hikmat, namun dengan lutut dan hati yang menyembah kepada Allah.

         Berfilsafat memang asik, akan tetapi filsafat yang tunduk dalam penghormatan dan pengagungan kepada Tuhan lebih asik.

Salam...
Yb.

RENUNGAN : TUJUAN HIDUP UMAT TUHAN

Nats : "... berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Fil. 3:13-14).

_______

           Dalam salah satu bukunya, Pdt. Candawasa menulis sebuah pesan reflektif yang sangat baik, Ia menulis demikian, "Menulis obituari ini penting karena hal itu dapat berfungsi sebagai panduan, sebagai visi atau gambaran besar mengenai bagaimana atau akan menjadi seperti apakah hidup yang kita kehendaki jika semua berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, jika hidup kita sekarang belum cocok dengan apa yang kita inginkan kelak tercatat di obituari kita, maka ubahlah itu sekarang juga. ... hal ini menentukan seluruh aktivitas kita dalam studi, keluarga, bekerja, dst." (Yohan Candawasa, "Menapaki Hari Bersama Allah", Bandung: Pionir Jaya, 2003, 20).

        Obituari merupakan catatan perjalanan hidup seseorang. Jika biografi menyoroti kehidupan manusia dari depan, maka obituari menyoroti kehidupan manusia dari belakang. Apa saja yang telah dilakukan, karya, kebaikan, serta segala sesuatu semasa hidup. Memang terkesan sedikit menyeramkan, namun obituari merupakan catatan panduan bagi manusia untuk bisa menoreh cerita apa saja yang ingin dibagikan ketika ia mengakhiri pertandingannya. Ada banyak orang yang memulai kehidupan mereka dengan kesukesan namun mengakhirinya dengan cerita pahit, ada juga yang sebaliknya. Dengan kata lain obituari merupakan rangkuman dari tujuan serta makna hidup seseorang, dimana hal itu dapat menjadi pesan reflektif bagi kehidupan pribadinya.

       Dalam bacaan di atas, Rasul Paulus merangkum tujuan hidup umat Tuhan yaitu dengan berjuang untuk menggapai panggilan Tuhan serta hidup di dalamnya. Hal ini menjadi tujuan mulia bagi kita semua. Panggilan Tuhan selalu memiliki dua arah, ke dalam dan keluar. Ke dalam, berarti kita dipanggil untuk berurusan dengan Dia secara pribadi (Pertobatan dan kelahiran baru), kemudian yang kedua adalah ke luar. Ke luar berarti kita bertumbuh dan berbuah dalam profesi kita masing-masing, sehingga dapat mempermuliakan Tuhan dan memberkati banyak orang.
"Hidup harus memiliki Tujuan, dan tujuan itu harus bermuara pada kemuliaan Tuhan".

"Rangkumanlah obituari saudara, letakanlah di dalam tangan Tuhan, dan berjuanglah menggapainya bersama Tuhan."
Salam...
(yb)

RENUNGAN : BUKAN KATA ORANG

Nats : "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Ayub 42:5).

_______

            Bertrand Russell dalam sebuah Wawancara mengatakan bahwa mengapa ia tidak dapat mempercayai adanya eksistensi Allah karena Allah tidak memberikan bukti-bukti yang cukup kepadanya. Russell merupakan salah satu tokoh intelektual abat 20 yang telah berpetualang dalam bidang Sains (khususnya matematika), sastra, filsafat, dan Agama sehingga meraih penghargaan Nobel. Ia merupakan salah satu perintis Agnostisisme modern.

             Terdapat banyak orang di dunia ini yang walaupun beragama namun memiliki pemahaman seperti Dr. Russell. Setidaknya dalam keadaan tertentu ketika masa-masa kritis dalam hidup mereka, mereka mulai meragukan dan bertanya, apakah Tuhan ada?, apakah Ia mendengar doa saya?, mengapa Ia terus berdiam diri?, dsb. Dan pada titik kritis tertentu mereka akhirnya kecewa dan meninggalkan Tuhan. Jika pergumulan Dr. Russell lebih kepada pergumulan intelektual, maka orang-orang beragama lebih menjurus kepada pergumulan relasi yang mencakup pertolongan Tuhan. Namun esensinya sama saja, pada intinya mereka sama-sama menuntut agar Tuhan membuktikan eksistensi-Nya. Yang satu untuk memenuhi ambisi intelektual, yang lainnya untuk memenuhi ambisi kebutuhan duniawinya. Sungguh mengerikan! Orang percaya hanya berbeda sangat tipis dengan para Ateis! Lantas apa penyebab hal tersebut?

             Dalam kisah pergumulan Ayub, Ia juga mengalami hal demikian. Ayub bahkan hampir putus harapan, dan hampir salah kaprah. Penyebab mendasar pertama, adalah karena Ayub (yang juga mewakili sebagian besar orang percaya saat ini) tidak pernah mengenal Allah dengan benar. Kita berpikir, jika kita baik, hidup seturut kehendak-Nya maka semua pasti lancar, Sukses, sehat, dan terus berjaya. Hal ini merupakan konsep lama Ayub mengenai hubungan antara Allah dan Orang percaya. Pada kenyataannya tidak demikian. Allah lebih tertarik kepada "Pengenalan yang benar kepada-Nya", daripada sekedar memberikan berkat. Dan untuk mengenal Dia, kita perlu masuk dalam proses yang terkadang sangat menyakitkan bagi daging kita. Namun Perhatikan jawaban Allah bagi Ayub, "Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub" (38:1 ; 40:1). "Dari dalam badai!", Perhatikan bahwa ketika Ayub di dalam badai ternyata Tuhan juga ada di sana, dan Ia menjawab! Artinya ketika Tuhan mengijinkan suatu pergumulan hidup yang berat, percayalah bahwa Ia juga ada di sana, dan memberi jawaban juga di sana. Ia adalah Allah yang setia dan mengasihi saudara! Jadi meskipun Ia mengijinkan ujian bagi saudara, namun Ia tidak meninggalkan Saudara.

            Alasan kedua mengapa banyak orang percaya masih memiliki konsep Iman seperti kaum Agnostic, karena kebanyakan dari kita "hanya mendengar dari orang saja". Kita tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Allah sehingga kita tidak pernah menjumpai Pribadi-Nya, merasakan jamahan-Nya, Kemurahan-Mu, serta Kasih-Nya. Maka ketika Allah membawa Saudara dalam pergumulan hidup, itu artinya Ia sedang mempersiapkan Saudara untuk berjumpa dan mengenali-Nya dengan lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, Saudara akan berkata seperti Ayub, "sekarang mataku sendiri memandang Engkau."

           "Untuk mengenal Allah, tidak cukup dari 'kata orang' saja, tidak akan pernah cukup dengan penelitian ilmiah. Allah tidak dapat dimasukan ke dalam ruang laboratorium untuk diteliti! Untuk itu Saudara harus berjumpa dengan-Nya secara Pribadi, dan hal ini hanya melalui Anugerah-Nya. Maka mintalah kepada yang empunya Anugerah itu." Amin, Gbu.
Salam...
(yb)

RENUNGAN : MURAH HATI

Nats : Matius 5:7 (TB) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. ; "Blessed are the merciful, for they will be shown mercy." — Mat 5:7 (NIV).

_____

         Dalam pergumulan panggilan yang berat, Ibu Teresa menulis dalam buku hariannya demikian: “... Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan para orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. ...". Ini merupakan Ungkapan hati dari seorang hamba Tuhan yang memberikan hidupnya untuk melayani mereka yang "termiskin dari yang miskin". Mereka yang sekarat di pinggir jalan, mereka yang dibuang oleh keluarga, mereka yang sudah seperti "sampah" masyarakat. Apa yang menggerakan Ibu Teresa untuk melayani mereka? Jawabannya adalah belas kasih, seperti Kristus.

          Belas kasih berhubungan erat dengan murah hati. Jika belas kasih (compassion) merupakan dorongan/sensifitas hati yang cepat merespon keadaan untuk memberi bantuan/pertolongan, maka murah hati (merciful) merupakan kapasitas hati yang tanpa batas, tanpa pamrih, dan tanpa syarat untuk terus membantu dan melayani. Dalam bacaan di atas, Kristus menegaskan satu pengajaran penting mengenai murah hati. Hal menarik dalam pengajaran ini adalah Tuhan Yesus memulai dengan suatu janji yaitu "Berbahagialah orang yang murah hatinya...". Kata "berbahagialah" dalam ayat ini "Makarios" (μακάριος) dapat juga berarti "diberkati". Terjemahan versi bahasa Inggris menggunakan kata ini (Blessed). Artinya mereka yang murah hati adalah mereka yang diberkati dan bahagia. Mengapa demikian? Karena orang-orang demikian senantiasa menyadari akan berkat Tuhan yang telah diterima, sehingga hidup mereka menghasilkan buah dalam berbagai pelayanan tanpa pamrih seperti Ibu Teresa.

            Perlu diperhatikan bahwa Gaya hidup demikian (murah hati) ternyata merupakan gaya hidup yang sesuai dengan karakter Allah (Luk. 6:36). Sebaliknya, orang yang pelit dan kikir sesungguhnya merupakan ciri dari orang-orang yang tidak memiliki karakter demikian (kemurahan hati), karena orientasi hidupnya hanya bagi dirinya sendiri. Orang-orang demikian akan sangat sulit untuk menjadi berkat.

          Dan bagian yang terakhir dari ayat ini adalah sebuah janji, "...Karen mereka (orang-orang yang murah hati itu) akan beroleh kemurahan". Dalam Lukas 6:38, dikatakan bahwa takaran yang kita gunakan untuk memberi, akan juga ditakarkan kepada kita. Maka ketika kita bermurah hati, kita juga akan beroleh kemurahan Allah. Tentu saja, Kemurahan ini hanya bersifat tambahan karena hidup kita sepenuhnya memang bergantung pada kemurahan Allah. Bukankah apa yang kita makan, pakai, nikmati, kesehatan, nafas hidup, bahkan keselamatan semuanya adalah karena kemurahan Allah? Jika demikian, lantas apakah ada alasan bagi kita untuk tidak bermurah hati?

"Bermurah hati tidak akan menjadikan Saudara miskin, hal tersebut justru menunjukan betapa kayanya hati Anda".

Salam kasih....
(yb).

RENUNGAN : BATU TIMBUL

Nats : Mazmur 49:13, 18 (TB) "Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. ... sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia."

_______

             "Batu timbul", judul dari tulisan ini merupakan salah satu jenis bebatuan yang memiliki bobot masa ringan, sehingga dapat mengapung di atas air. Pada daerah pesisir seperti di kampung halaman penulis (kota Ambon), jenis batu demikian akan sangat mudah dijumpai. Jenis bebatuan ini memang unik, unik karena seperti penampilannya batu tersebut mirip dengan bebatuan yang lain, namun isinya kosong, rapuh, dan mudah hancur.

           Filosofi tersebut memberikan gambaran real mengenai jiwa dan pengharapan umat manusia modern yang juga terkesan kokoh, namun sesungguhnya rapuh! Kerapuhan ini memang telah berakar lama. Khususnya pada saat Revolusi Sains yang dimulai oleh para pemikir sekuler seperti Descartes dan Bacon. Dampaknya, manusia modern menjadi para pemimpi yang mendeifikasikan (mengangkat menjadi Tuhan) dirinya menggantikan Tuhan. Suatu dosa klasik yang juga dilakukan oleh Hawa, Adam serta Nimrod, para pengkudeta Tuhan.

          Para pengkudeta ini menanamkan satu benih perlawanan yang sama bagi manusia modern. Suatu benih yang menghipnotis manusia modern untuk mengandalkan dirinya sendiri. Manusia modern dipaksa untuk hidup otonom, dan terlepas dari kebergantungan kepada yang Ilahi. Mereka menyangka bahwa kegemilangannya dan kemuliaan yang telah dicapai melalui serangkaian studi ilmiah dapat menggantikan posisi Tuhan (Yer. 17:5). Deisme dan Teologi Liberal merupakan contoh produk yang nyata dari para pengkudeta Tuhan bagi zaman ini, khususnya di dataran Eropa dan Amerika.

            Namun apa jawaban Firman Tuhan? Ayat di atas mengingat dengan tegas akan kesombongan manusia. "Kegemilangannya tidak dapat bertahan!", "kemuliaannya tidak akan dibawa mati!". Suatu pukulan keras yang hendaknya menghancurkan ego serta menyadarkan manusia modern bahwa semua pencapaian yang terbaik, tertinggi, dan termulia sekalipun tidak akan pernah dibawa dalam peti jenazah. Tidak pernah mengubah posisi manusia menjadi Tuhan.

             Kesadaran ini seharusnya membawa kita pada kerendahan hati id hadapan Tuhan. Maka palingkanlah wajah kita dari ilah-ilah zaman kepada Tuhan, mohonlah anugerah dari-Nya, mintalah pimpinan dari Roh-Nya yang kudus, dan dengan ucapan Syukur seharusnya kita bertelut mengadakan wajah dan tangan kepada-Nya dan berkata seperti Daud, "apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? ; Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu"

Jangan berbangga dan berharap pada Kesuksesan Saudara, tetapi berbanggalah dan berharaplah kepada Tuhan oleh karena Ia mengasihi Saudara. Amin...

(yb).