Rabu, 14 November 2018

STUDI FILSAFAT : KRITIK EPISTEMOLOGI [EMPIRISISME & SAINTISME]

Kritik terhadap klaim empirisisme dan saintisme telah banyak diajukan oleh para Filsuf, Teolog, maupun dari kalangan Ilmuan sendiri. Tulisan-tulisan yang membahas mengenai hubungan dua hal ini juga telah banyak beredar, namun sayang hanya sedikit tulisan yang mengkritisi dari sudut epistemologi mengenai klaim-klaim kebenaran yang diajukan oleh kedua mazab tersebut. Tulisan singkat ini mencoba untuk mengisi kekosongan pada gap tersebut.

Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa tulisan ini disajikan. Pertama, kita sedang hidup di dalam era sains modern dengan filosofinya yang seringkali berbenturan dengan keyakinan-keyakinan dasar masyarakat timur yang religius. Kedua, kita seringkali tertipu oleh klaim-klaim yang mengatas namakan sains, namun ternyata merupakan sebuah filsafat, atau bahkan hanya fiksi. Ketiga, sebagai kritik epistemologi dalam usaha untuk menempatkan secara proporsional kedua kajian filosofi tersebut.

Berbicara mengenai Empirisisme(1) kita pasti akan menyinggung pula mengenai metodologi sains dan saintisme(2). Demikian pula sebaliknya, bebicara mengenai sains dan saintisme, kajian-kajian empiris akan menjadi data serta metodologi yang mendukung klaim kebenaran dalam sains dan saintisme.
Maka pembahasan dan kritikan terhadap empirisisme tidak dapat dipisahkan dari metodologi sains modern, namun pada bahasan ini, penulis sengaja memisahkan keduanya agar penjabarannya lebih spesifik dan jelas.

Empirisisme

Empirisisme yang mengandalkan penelitian melalui pengamatan indrawi manusia, telah mendatangkan banyak kritik. Salah satunya kritik yang diberikan oleh Suriasumantri. Ia menjelaskan bahwa, indra manusia begitu terbatas dan tidak dapat diandalkan secara mutlak dalam menganalisa suatu objek. Kelemahan ini terlihat misalnya dalam contoh pengamatan-pengamatan seperti, Sebuah tongkat lurus yang sebagiannya dimasukan kedalam air akan terlihat bengkok. 
Bila kita naik kendaraan yang melaju kencang maka pepohonan akan terlihat seperti berlari.  Demikian juga dengan bumi yang sebenarnya mengelilingi matahari namun justru terlihat sebaliknya. Dengan contoh-contoh sederhana tersebut, klaim kebenaran empirisisme yang mengandalkan panca indra tidak dapat secara mutlak menjangkau kebenaran fakta empiris. Bahkan dengan tegas ia mengatakan, “panca indra kita bukan hanya terbatas namun juga dapat menyesatkan.”

Menyuarakan kritikan yang serupa Poespowardojo dan Seran yang menganalisa pemikiran Karl Popper menjelaskan bahwa, pengalaman sebagai data indrawi yang kita miliki tentang angsa tidak menjamin kebenaran kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih (bukankah kita tidak memiliki semua data tentang angsa karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan?).”

Keterbatasan penelitian dan pengamatan terhadap data dan fakta, memberikan batasan yang tegas tentang kebenaran indrawi. Keterbatasan-keterbatasan ini pada akhirnya diselesaikan dengan prinsip generalisasi data yang harus diakui sangat terbatas. Maka jelas bahwa pengalaman indrawi sebagai sarana empirisisme dalam menganalisa data, tidak dapat diandalkan keakuratannya secara mutlak.

Kemudian, memasuki ranah nomena objek (Kritik Kant), empirisisme terbukti terbatas dalam hipotesis-hipotesis yang subjektif.  Rapar menjelaskan bahwa kemampuan manusia untuk menangkap suatu objek secara utuh, tidaklah mungkin. Manusia hanya sampai pada beberapa pengetahuan mengenai objek tersebut, dengan demikian maka  jelaslah bahwa amat sulit untuk mencapai kebenaran yang lengkap dari objek tersebut.

Sejalan dengan Rapar, Suriasumantri menjelaskan demikian, “Apakah pendekatan empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran? Ternyata juga tidak, sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman (indrawi) kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka.  Fakta yang ada sebagai dirinya sendiri tidaklah mampu berkata apa-apa.  Kitalah yang memberimereka sebuah arti.”

Apa yang dijabarkan oleh empirisisme pada akhirnya hanyalah berupa kegiatan filsafat yang subjektif dari seorang Ilmuan. Fakta sebenarnya mengenai noumena dari objek tersebut tetaplah bisu. Dalam istilah Kant, “Ding an sich” (thing in itself) dimana realitas dari suatu objek pada dirinya sendiri (Ding an sich) mustahil untuk benar-benar diketahui dan dihayati 100%, meskipun realitas tersebut sudah dapat menjadi objek dari pikiran peneliti.  Atau dalam pemahaman Sartre, dimana realitas yang sesungguhnya dari “En Soi” (atau Ding an sich dalam terminologi Kant) tidak pernah dapat ditangkap secara sempurna oleh rasio manusia.

Pada akhirnya kita dapat menyaksikan bahwa empirisisme secara metodologis pun memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, baik itu objek penelitian (fakta dan data) maupun subjek penelitinya (manusia sebagai pengelola data). Karena tidak ada sesuatu yang bersifat final dan baku dalam suatu metodologi (baik filsafat mapun sains), maka kita perlu memahami bahwa kebenaran dalam prinsip dasar empirisime bersifat terbuka, berkembang, dan memerlukan kritik sebagai koreksi, sebagaimana metode Falsifikasi yang dirintis Popper.

Saintisme

Saintisme merupakan bentuk lanjutan dari mazab Empirisisme, atau dapat disebut sebagai neo empirisisme. Dalam beberapa tafsiran, saintisme sering kali juga dipandang/disamakan dengan Positivisme karena sama-sama bertolak dari metodologi yang memutlakan empirisisme sehingga menolak segala sesuatu yang tidak memiliki data serta fakta empiris seperti klaim-klaim teologis dan metafisika. Perbedaan keduanya hanya terletak pada bidang kajian masing-masing, saintisme pada ilmu alam sementara positivisme pada ilmu sosial.

Mengutip Jean Peaget, Heath mengatakan, kekeliruan sains modern yang pertama terletak pada tersamarnya istilah “Ilmiah” dan “Empiris”. Ia kemudian menjelaskan bahwa, kalau tujuan kita ialah mencari pengetahuan, tentunya kita harus berpikir secara ilmiah (logis), namun tidak wajar jika kita mempersempit lingkup penelitian dan pemikiran kita untuk mengikuti kriteria yang bersifat empiris semata-mata.

Kelemahan pertama sains modern terletak pada hal ini. Sains modern (etah sengaja ataupun tidak) telah mengabsolutkan metode empiris menjadi Sains empirisisme. Rekayasa ini tanpa sadar telah mereduksi sifat ilmiah dan menggantinya dengan suatu filsafat dengan topeng sains modern. Hal tersebut terlihat dari berbagai macam penolakan dari kalangan saintisme mengenai unsur-unsur supranatural dalam konsep agama-agama, yang kemudian dipaksakan dengan alur logika mereka dimana klaim-klaim demikian menjadi gugur karena tidak bersifat empiris.

Bukankah menuntut klaim demikian justru kontradiktif dengan metodologi sains? Bukankah menuntut suatu fenomena yang non empiris dengan data empiris justru menjadi tidak logis? Namun inilah wajah dari saintisme modern yang dirintis oleh kalangan ateis generasi kedua. Penekanan pada sikap demikian  bukanlah suatu kejujuran dari seorang saintis, akan tetapi cendrung kepada suatu sikap sentimen dari kalangan pemuja saintisme.

Selain itu, Heath juga menganalisa berbagai kelemahan yang terdapat dalam metode sains modern yang senada dengan Suriasumantri. Ia menjelaskan bahwa metode sains modern sesungguhnya tidak pernah lepas dari kegiatan fisafat. Hal ini dapat dijumpai dengan langkah pertama mengenai perenungan suatu objek, hingga langkah terakhir dalam mengambil kesimpulan, yang pada hakekatnya merupakan kegiatan berpikir yang didasari atas filsafat. Maka perlu dipertanyakan kembali, mungkin terdapat semacam sains modern yang benar-benar murni tanpa unsur dan kegiatan fisafat? Tentu saja tidak ada.

Permasalahan berikutnya muncul ketika saintisme mengatas-namakan ilmu pengetahuan kemudian mengklaim suatu ranah kajian ilmu yang bukan pada bidangnya. Misalnya kajian-kajian teoritis mengenai asal mula kehidupan, alam semesta, manusia, jiwa dan roh yang adalah milik disiplin keilmuan non-empiris (Teologi dan Filsafat) namun kemudian disabotase oleh saintisme dengan klaim-klaim yang seolah-olah “ilmiah”, namun tidak lebih dari suatu spekulatif filosofis.

Contoh-contoh demikian  terlihat dengan jelas pada kajian-kajian saintisme sepeti teori evolusi, big bang, lubang hitam yang dengan mengatas-namakan sains, dipublikasikan sebagai kebenaran ilmu pengetahuan hanya karena yang mengsung ide tersebut adalah seorang “ilmuan”. Ini merupakan bentuk kamuflase saintisme dalam sains modern. Sebuah penyesatan terselubung yang sangat halus.
Perlu diperjelas bahwa kajian mengenai asal mula semesta, manusia, dan alam, merupakan kajian yang meskipun bersifat empiris namun sekaligus bersifat nir waktu. Sederhananya sains modern yang objektif harus membatasi diri sekaligus dibatasi oleh ruang serta fakta dan data yang ada. Mencoba untuk keluar dari “data” dan “waktu” saat ini, serta melompat ke jutaan waktu lampau, itu bukanlah sains, tetapi suatu spekulasi saintis! Hal ini lebih mirip dengan kisah “kantong ajaib Doraemon”  yang mondar-mandir sesuka hati melampaui dunia waktu. Ini adalah sebuah fiksi ilmah, bukan fakta ilmiah.
Lantas jika kalangan saintimse tidak dapat/dan tidak menyaksikan data dan fakta-fakta pada kejadian asal mula tersebut maka apakah hipotesa mereka tersebut dapat diterima sebagai suatu ilmu pengetahuan? Tentu tidak. Hal demikian justru memperlihatkan suatu bentuk pelanggaran metodologis yang serius namun tidak pernah/jarang disadari (atau mungkin juga diabaikan) oleh kalangan akademisi. Kegagalan untuk mengkritisi hal-hal demikian menyebabkan publik tidak lagi dapat membedakan antara fakta ilmiah dan fiksi ilmiah.

Penutup

Permasalan-permasalahan epistemologis dari para pemuja saintisme jaman ini tidak dapat dipertahankan ketika diuji dengan prinsip-prinsip pokok epistemologi yang ketat.  Pembuktian ini memberikan satu konfirmasi bahwa empirisisme dimana saintisme memperoleh dasar pijakan dan metodologinya harus puas dengan data dan fakta empiris yang terbatas pada ruang dan waktu.
Mencoba keluar dari metode eksperimentasi yang nir-empiris dan nir-waktu, akan berakhir pada anti tesis dari hakikat dasar sains itu sendiri. Keterbatasan dan pembatasan metodologis serta epistemologis tersebut seharusnya menyadarkan para saintis untuk berlapang dada berbagi bidang kajian dengan disiplin ilmu lainnya yang non empiris, sekaligus menyadari bahwa kebenaran ilmu pengetahuan pun terbatas pada dirinya sendiri, serta terbuka terhadap kritik dan perkembangan. (yb)_

Catatan.
(1) Empirisisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani empeiria (=pengalaman), emperikos (=berpengalaman). Sejak abat ke-19 dan seterusnya, kata tersebut telah digunakan untuk menunjuk pada macam-macam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetuhuan yang valid.
(2) Sains dan Saintisme. Perlu diperhatikan bahwa istilah “Sains” mememiliki perberbedaan yang signifikan dengan “Saintisme”.  Sains membatasi metodologinya dengan serangkaian analisa yang terbatas pada data dan fakta empiris, maka meskipun terbatas namun sifat objektifitasnya dapat diterima sebagai suatu kebenaran ilmu. Sementara Saintisme bukan merupakan kegiatan ilmiah yang objektif karena dikendalikan oleh pemikiran empirisisme radikal sehingga mengasilkan suatu sistem pemikiran tertutup dan sikap sentimentil terhadap hal-hal yang bersifat supranatural.
___________
Kepustakaan
  • Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen. Vol. 1 (Surabaya: Momentum, 2011).
  • Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996).
  • Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012).
  • Paul E. Litle, Akal dan Kekristenan (Bandung: Kalam Hidup,  1967)
  • T.M. Soerjanto Poespowardojo dan Alexander Seran, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Hakekat Ilmu Pengetahuan, Kritik terhadap Visi Positivisme Logis, serta Implikasinya (Jakarta: Kompas, 2015).
  • W. Stanley Heath, Psikologi Yang Sebenarnya (Yogyakarta: Andi,1995).
  • _____________, Sains, Iman, dan Teknologi (Yogyakarta: Andi,1997).
  • Yakub B. Susabda, Teologi Modern—1 (Jakarta: LRII, 1990).
Sumber:  https://www.qureta.com/post/kritik-epistemologi-empirisisme-dan-saintisme.

Selasa, 06 November 2018

STUDI FILSAFAT : DIALEKTIKA TEOLOGI DAN EPISTEMOLOGI



DIALEKTIKA TEOLOGI KRISTEN DAN EPISTEMOLOGI

Oleh : Yosep Belay

Abstraksi
Dilaektika dalam ilmu Teologi dan Epistemologi merupakan dua hal yang saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan tidak dapat dipisahkan. Teologi dalam konsepsi agama apa pun pastilah memiliki semacam prinsip dasar epistemologi yang mendahuluinya sehingga menghasilkan serangkaian keyakinan teologis yang diyakini dan dihidupi, tak terkecuali dalam konsep teologi Kristen.

Tulisan singkat ini mencoba untuk membedah kedua disiplin ilmu tersebut untuk melihat titik singgung dan pisah dari keduanya, serta mencoba untuk memberikan suatu sintesa pada dunia ide dalam teologi Kristen.

Pendahuluan.

          Akal budi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia merupakan alat yang disediakan untuk mengenal-Nya, mempermuliakan-Nya, serta berrelasi dengan dunia disekitar manusia itu. Dengan akal, kita mampu menganalisa kebenaran firman Tuhan dan dengan akal pula kita memahami suatu kebenaran yang pada akhirnya kita pegang sebagai pedoman hidup. Akal budi menjadi instrumen mendasar dalam kajian Teologi dan Epistemologi.

          Mengenal akan Tuhan berarti kita berbicara mengenai suatu pemahaman/pengetahuan Teologis, sementara bagaimana kita dapat mengenal Tuhan dan apa yang menjadi keyakinan kita itu, itulah yang disebut sebagai Epistemologis. Kedua hal ini berkaitan satu dengan yang lain baik dalam usaha pengenalan iman Orang percaya maupun dalam praktek disiplin ilmu sekuler lainnya.

          Secara etimologi (asal usul kata), istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yang disusun oleh dua kata dasar yaitu, Episteme dan Logos. Kata pertama berarti pengetahuan (knowledge) dan yang kedua adalah ilmu atau teori. Dengan demikian epistemologi dapat disimpulkan sebagai teori pengetahuan atau suatu teori yang mengkaji dan berusaha untuk menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia. Singkatnya, epistemologi merupakan suatu studi komprehensif tentang bagaimana manusia dapat mengetahui tentang suatu pengetahuan, dan apakah pengetahuan yang ia tahu itu layak menjadi suatu pengetahuan atau tidak.

          Sementara “Teologi” juga dibentuk dari akar kata Yunani dengan dua kata dasar yaitu Theos dan Logos. Theos berarti “Tuhan”, sementara Logos memiliki makna yang sama dengan istilah pertama di atas yaitu “Ilmu, teori, atau kata”. Secara sederhana Teologi berarti “Pengetahuan/teori tentang Tuhan”. Namun pemahaman demikian terlalu umum karena istilah “teologi” dapat disandangkan kepada siapa saja yang sedang berbicara mengenai isu ke-Tuhanan, baik bagi mereka yang ber-Tuhan maupun tidak. Hal ini menggambarkan suatu pesan implisit bahwa semua manusia dalam konteks ini dapat menjadi seorang teolog, namun tidak semua adalah teolog.

          Seperti teologi, epistemologi pun bereksistensi dalam dialektik dunia ide dan tindakan praktek manusia. Tidak ada manusia yang tidak memiliki semacam prinsip dasar epistemologi. Karena ia memiliki semacam pengetahuan tentang dirinya dan dunia di sekitarnya, maka pastilah ia juga  memiliki semacam epistemologi sebagai metodologi yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Entahkah benar maupun keliru.   

Epistemologi dalam Konsepi Filsafat

          Pada umumnya Epistemologi manusia dihubungkan dengan dua aliran besar filsafat. Pertama, Empirisisme dan kedua, Rasionalisme. Istilah “Empirisismeini berasal dari kata Yunani empeiria (=pengalaman), emperikos (=berpengalaman). Sejak abat ke-19 dan seterusnya, kata tersebut telah digunakan untuk menunjuk pada macam-macam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetuhuan yang mutlak. Ciri khas dari empirisisme adalah pembuktian suatu klaim pengetahuan/kebenaran yang diakui valid, hanya jika dapat dikonfirmasikan melalui data dan fakta empiris/pengalaman indrawi. Tiga tokoh utama dalamm kajian filsafat modern yang menggagas konsep ini adalah John Locke, David Hume dan Aguste Comte.

          Epistemologi yang kedua adalah “Rasionalisme”. Jika Empirisisme bertumpu pada bukti-bukti data empiris sebagai petunjuk menuju suatu kebenaran dari pengetahuan yang valid, Rasionalisme (Rasio = akal budi + "Isme" = mazab) justru sebaliknya bertumpu pada penalaran rasio manusia sebagai penentu kebenaran dari suatu pengetahuan yang diterima. Rasiolaisme modern tidak dapat dilepaskan dengan nama Rene Descartes dengan slogannya, Cogito ergo sum, "aku berpikir maka aku ada".

          Kedua klaim epistemologi ini berusaha untuk menemukan suatu pengetahuan dan kebenarannya dengan dua metode yang berbeda. Empirisisme menggunakan data empiris/pengalaman indrawi sebagai penentu kebenaran sedangkan Rasionalisme menggunakan akal pikiran sebagai penentu suatu kebenaran. Kecenderungan dasar epistemologi demikian yang mengakibatkan penolakan para saintis terhadap keyakinan-keyakinan doktrinal Agama mengenai Tuhan karena dianggap tidak dapat dibuktikan dengan data indrawi serta tidak masuk akal. 

Korelasi Teologi Kristen dan Epistemologi

          Teologi dan epistemologi merupakan dua disiplin ilmu yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Di dalam suatu kajian teologi pasti terdapat suatu epistemologi sebagai metodenya. Karena sifat epistemologi sebagai metode untuk mencapai suatu pengetahuan yang valid, maka apapun disiplin ilmu yang dibangun, pastilah memuat semacam epistemologi di dalamnya termasuk Teologi.

          Dalam disiplin ilmu Teologi, kajian-kajian Empiris dan Rasional (Bedakan dengan "Isme"1[1] yang merupakan suatu akstreme) tetap digunakan. Hal ini terlihat jelas dari berbagai hal, salah satu yang paling jelas adalah pada peristiwa kebangkitan dan penampakan Tuhan Yesus kepada Tomas dalam Injil Yohanes 20:26-29,

        Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu danTomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang    dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. "Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
          Dalam peristiwa ini Tomas mewakili kaum Empiris sekaligus Rasionalis dan juga skeptis. Ia membutuhkan bukti nyata dan yang masuk akal sebelum mempercayai kebangkitan Tuhan Yesus.  Dan hal ini pun ditanggapi oleh Tuhan Yesus dengan menantangnya untuk membuktikan kebenaran faktual melalu penelitian singkat pada bekas luka-luka Tuhan. Hal ini membuktikan bahwa konsep Epistemologi dalam kajian filsafat dan sains modern sesungguhnya tidak bertentangan dengan iman Kristen, bahkan telah hadir dalam suatu metologi penelitian empiris dan rasional yang sangat eksplisit. Selain itu, kekristenan juga dituntut untuk mengkritisi semua kebenaran secara kristis (1 Tes. 5:21), serta memperoleh pertimbangan-pertimbangan rasional atas apa yang dipercayai. Prinsip dasar ini membuktikan bahwa iman Kristen bukanlah “suatu lompatan dalam kegelapan”, namun merupakan iman yang didasari atas pertimbangan fakta-fakta logis.

          Meski demikian, Teologi tidak selalu berjalan beriringan dengan Epistemologi dalam konsep filsafati karena terdapat beberapa bagian yang tidak dapat dijangkau oleh epistemologi. Misalnya mengenai konsep Kristologi (natur Ilahi dan natur Insani dalam satu Pribadi), Tritunggal, Roh Kudus sebagai Pribadi, hal-hal yang akan datang (akhir zaman) dan juga menyangkut eksistensi kekekalan. Hal-hal ini tidak terjangkau oleh indrawi dan akal manusia karena sifat dari pengetahuan tersebut yang melampaui akal serta indra (supra) manusia. sebagaimana yang diungkapkan Pemazmur, Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya (Maz. 139:6). Maka dalam kajian Teologis, Epistemologi yang digunakan bukan hanya pada pengalaman indrawi dan keakuratan rasio manusia, namun juga suatu konsep epistemologi yang "Supra rasio" dan "Supra Empiris".

          Titik singgung dan perbedaan yang kedua terletak pada sumber otoritas dari kedua disiplin ilmu. Teologi bercirikan/berpusat pada Allah (Tehosentris), sementara Epistemologi berpusat pada manusia. Teologi, Allah menyatakan pewahyuan kebenaran kepada manusia, sementara epistemologi, manusia mencari kebenaran berdasarkan serangkaian metode serta analisa-analisa data. Hal ini yang kemudian menyebabkan persamaan pada titik singgung objek kajian, sekaligus perbedaan pada titik jangkau keduanya mengenai isu kebenaran dari kedua disiplin ilmu.

          Pada titik yang tidak terjangkau oleh kajian epistemologi tersebut, Iman berdiri sebagai jembatan (Bdk. dgn. Ibr. 11:3) untuk menggapai apa yang tidak tergapai oleh keterbatasan epistemologi manusia. Meskipun hal ini ditentang oleh kalangan pengkaji filsafat dan saintis sekuler (yang bertolak dari dua metodologi filsafat di atas), namun mereka pun tidak dapat membantah akan keterbatasan rasio untuk menggapai suatu bentuk pengetahuan valid yang eksis di atas pengetahuan manusia. Bukankah pengetahuan manusia itu terbatas? Dengan demikian maka pastilah terdapat suatu pengetahuan lain di atas pengetahuan manusia yang terbatas tersebut. Dan pengetahuan yang sempurna ini adalah pengetahuan Allah. untuk itu epistemologi Kristen tidak berhenti pada kedua bentuk epistemologi yang umum digunakan, namun melanjutkan pada epistemologi yang berpusat pada pengetahuan Allah, epistemologi supra rasio.

Penutup.

          Pemahaman yang benar akan eksistensi kita sebagai manusia ciptaan yang berdosa dan terbatas, serta pentingnya iman sebagai pondasi yang menghubungkan antara apa yang tidak tergapai oleh kajian filsafat epistemologi, akan membawa kita pada kerendahan hati dan kekaguman pada Tuhan. Sebaliknya, mencoba keluar dari konsepsi iman sebagai instrumen epistemologi Kristen yang supra rasio, kemudian menggantinya dengan serangkaian metodedologi filsafat dalam bentuk dan aliran apapun, akan berdampak pada kesesatan dan ateisme.

Kepustakaan.
          Alkitab Terjemahan Baru (TB) (Jakarta: LAI, 2008).
          Akyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014).
          Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen. Vol. 1. pen. Lena Suryana dan Sutjipto Subeno (Surabaya: Momentum, 2011).
          Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000).
          Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002).




          [1] Istilah “Isme” pada akhir kata dalam kedua konsep filsafat tersebut (Empiris-isme dan Rasional-isme)  menerangkan suatu mazab filsafat. Dengan demikan, kedua aliran tersebut menekankan pada suatu objek tertentu (Fakta empiris bagi empirisisme dan Rasio manusia bagi Rasionalisme) sebagai penentu dari suatu kebenaran yang diterima dan diyakini.

Senin, 29 Oktober 2018

RENUNGAN : FOKUS MATA DAN HIDUP KRISTIANI

Nas  :  Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan! (Mzm. 119:37).
_____

Kehidupan manusia adalah suatu kehidupan yang didasari oleh serangkaian pilihan-pilihan. Setiap hari mata kita "menikmati" berbagai macam hal yang tersaji. Sayangnya kita tidak dapat membatasi kondisi di sekitar kita yang menyajikan sesuatu untuk dilihat mata kita. Kita tidak dapat melarang cara berbicara, berpakaian, berperilaku orang lain. Yang dapat kita lakukan adalah melalukan mata kita dari hal-hal hampa pada saat kita menjumpainya.

        Pemazmur menyadari hal ini dengan baik. Ia menyadari bahwa disekitarnya banyak sekali "pemandangan yang hampa". Pemandangan yang dapat mengalihkan fokus hidupnya dari Tuhan kepada hal-hal duniawi. Namun ia juga menyadari satu hal dengan baik. Ia menyadari bahwa dengan kekuatannya sendiri ia tidak akan mampu memalingkan pandangan matanya dari hal-hal hampa tersebut tanpa pertolongan Tuhan. Itu sebabnya ia berdoa, "Lalukan mataku dari pada melihat hal yang hampa".

       Kecenderungan hati manusia kepada dosa, tidak akan mampu membawa fokus hidupnya kepada Tuhan, selain oleh karena pertolongan dan anugerah Tuhan. Kita tentu tahu, bahwa melanggar sepuluh hukum Musa yang mengangkut hukum-hukum moral adalah suatu perbuatan dosa, namun pada kenyataannya perbuatan-perbuatan dosa itu justru menyenangkan. Maka jangankan sepuluh hukum, satu hukum saja tdak akan mampu dijalankan secara mutlak.

       Keadaan inilah yang disadari pemazmur sehingga dengan pengakuan yang jujur ia memohon kepada Tuhan untuk, "lalukanlah mataku dari hal-hal hampa dan hidupkanlah aku dengan jalan-Mu". Kalimat "hidupkanlah aku" memberi penegasan berikutnya mengenai keadaan manusia sebagai orang-orang yang telah mati dalam dosa, oleh karena perbuatan-perbuatan hampa. Dengan kata lain, pemazmur berdoa agar kiranya Tuhan lalukan pandangannya dari hal-hal yang tidak berkenan, dan memimpinnya dalam kebenaran firman Tuhan yang membawa kehidupan.

       Tanpa pertolongan Tuhan, kita tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari jerat kehidupan duniawi yang hampa. Keberdosaan kita tidak memungkinkan kita untuk lepas dari jerat dosa, selain oleh karena anugerah dan pimpinan Tuhan. Seperti doa pemazmur dalam ayat singkat ini, kiranya setiap hari kita berdoa dan berjuang untuk dapat memfokuskan mata serta kehidupan hidup kita bukan kepada hal-hal yang hampa, namun hal-hal yang kekal, serta semoga kita dipimpin senantiasa dalam kebenaran firman-Nya. Amin! (yb).

Selasa, 23 Oktober 2018

RENUNGAN : BELAJAR MENGANDALKAN TUHAN

Nas      : Yeremia 17:5, 7 (TB) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! .... Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 

Mengcopy-paste dan memposting dua ayat ini hanya membutuhkan satu menit. Membaca dua ayat ini juga tidak akan membutuhkan waktu lebih dari dua menit. Namun untuk mempraktekkan salah satu saja dari ayat ini, akan menghabiskan seluruh waktu dalam kehidupan kita. Mengapa demikian? Karena kita telah terbiasa dengan "cara dunia" yang memuja diri sendiri (narcisme dan antroposentris). Puas dengan diri sendiri. Percaya dengan apa yang kita miliki. Bangga dengan pencapaian-pencapaian diri sendiri sehingga tanpa sadar kita tidak lagi berfokus pada Tuhan, tetapi pada manusia (realisme model baru dalam Kekristenan). Pada titik ini, kita menyingkirkan kuasa Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri. Suatu kebanggaan semu yang justru dikutuk. Kehidupan yang tidak berdokus pada Tuhan tetapi pada diri sendiri merupakan bentuk lain dari cara seseorang mengungkapkan ketidak-percayaannya kepada Tuhan. Dengan kata lain, meskipun ia seorang Kristen, namun ia sesungguhnya tidak percaya kepada Tuhan.

            Di sisi lain, kita dituntut untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Suatu panggilan iman yang radikal. Radikal karena kita harus menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan yang secara empiris tidak terjangkau oleh panca indra kita, selain oleh iman. Hal ini pun sebuah konsep keyakinan yang terbalik dengan cara dunia. Cara-cara dunia membutuhkan fakta-fakta empiris untuk dapat menyokong apa yang kita yakini. Semenjak kecil, kita telah dilatih untuk bergumul dan berpengharapan dengan cara demikian, namun tidak di dalam iman. Iman yang sejati membutuhkan totalitas untuk berpengharapan pada Tuhan tanpa pembuktian empiris yang mendahuluinya. Abraham adalah salah satu contohnya (Bd. Rm. 4:12). Suatu teladan iman yang radikal dalam perngaharapan yang tidak pernah kadalwarsa oleh waktu.

             Menulis kebenaran ini bukan berarti saya telah "lulus" di dalamnya, namun kiranya kita sama-sama berjuang untuk mempraktekkannya karena lebih baik menjadi pelaku, daripada hanya menjadi pembaca (apalagi sekedar mengejar "like" pada postingan di akun media sosial) firman Tuhan. Selamat beraktifitas Saudara, tetap andalkan Tuhan selalu. Salam. (yb).

Minggu, 14 Oktober 2018

RENUNGAN : PANGGILAN DAN KESETIAAN ALLAH


Nas    : 1 Tesalonika 5:24 (TB) Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. 

_________

Panggilan Tuhan bagi semua hamba, pelayan, dan umat Tuhan untuk masuk dalam suatu persekutuan intim dengan-Nya, selalu memiliki corak, cara , serta cerita yang beragam. Panggilan ini pun menuntut perubahan dan keputusan-keputusan yang radikal dalam hidup seseorang. Tidak sampai di situ, karena panggilan ini pula lah, umat dan para hamba Tuhan telah masuk dalam suatu kehidupan yang penuh tantangan dan pergumulan bagaikan "Domba di tengah serigala". Seperti kawanan rusa yang dikelilingi oleh singa-singa buas. Sebuah panggilan menuju kematian. Panggilan yang seketika merenggut kenyamanan hidup.

          Pergumulan tiada akhir ini seringkali membuat banyak orang percaya menjadi undur, beberapa kepahitan, dan bahkan hingga menyangkal Tuhan. Pada titik kritis dalam sebuah panggilan itulah kita harus menyadari satu hal penting bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk persekutuan maupun pelayanan, Ia tahu semua hal dan resiko yang akan kita hadapi, maka Ia menasehatkan kita melalui kebenaran ini, "Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya". Kebenaran ini menyatakan dua hal, pertama, Tuhan yang memanggil kita itu adalah setia. Setia berarti kita tidak pernah dibiarkan sendirian atau dikhianati. Di dalam keadaan apapun Dia ada di sana bersama kita, menopang dan menghibur, menguatkan serta memimpin. Providensi serta imanensi Allah ini memberikan jaminan yang teguh bahwa kita tidak sendirian meskipun secara fisik kita tidak dapat melihat kehadiran-Nya seperti yang nyata dalam janji Tuhan, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20; Yoh. 14:16).

          Kebenaran kedua adalah Ia akan menyelesaikannya. Menyelesaikan apa? Menyelesaikan panggilan yang Ia nyatakan dalam hidup kita itu. Kalimat singkat ini mengungkapkan dengan jelas bahwa bukan Saudara dan saya yang menyelesaikan panggilan kita, kita tidak akan mampu, tetapi Tuhanlah yang mengerjakannya di dalam kita. Roh Kudus-Nya yang memampukan dan mendorong kita untuk menghadapi segala situasi untuk tetap berjuang dan hidup dalam panggilan itu. Kebenaran ini menyatakan dua hal, bahwa tanpa Tuhan, kita tidak akan memapu berjuang dalam panggilan kita, dan karena keadaan ketidak mampuan kita itu, maka kita perlu bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala sesuatu. Tidak mengandalkan kemampuan kita, tetapi bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

           Kiranya kebenaran singkat ini mendorong kita untuk terus tekun berjuang dengan pengharapan penuh, tidak mudah kecewa, serta dapat terus berkarya bagi kemuliaan Tuhan dalam panggilan kita masing-masing di segala bidang. Amin! (yb).