Kamis, 24 Januari 2019

STUDI TEOLOGI : Apakah wawasan Dunia Itu?

Dunia kita telah dibudayakan dengn beragam jenis ide-ide mengenai kebenaran dan realitas. Latar belakang perspektif saya berbeda dengan tetangga di sebelah saya, yang memiliki beranekaragam asumsi, sama seperti tetangga di seberang jalan. Seseorang mungkin percaya jawaban untuk permasalahan kita terletak pada apa yang dimaksudkan sebagai kejahatan oleh orang-orang lain. Nirwana seseorang adalah neraka bagi orang-orang lain. Pada inti tampilan yang berbeda ini terbentang pandangan seseorang mengenai Allah dan bagaimana sifat-sifat ilahi itu berhubungan dengan dunia. Lensa intelektual tempat kita mengamati dan menginterpretasikan segala sesuatu ini disebut wawasan dunia (worldview), dan setiap orang telah memilikinya.

Worldview adalah sekumpulan asums-asumsi dasar yang menata penjelasan-penjelasan kita tentang hidup dan segala sesuatu di dalamnya – sekumpulan pokok-pokok kepercayaan yang kita anut dengan tanpa disadari ketika kita memilihnya. Cara pandang semesta kita merupakan gambaran besar yang menuntun kita menempuh hidup, dan kita harapkan juga akan menuntun kita melalui kematian. Landasaan kerangka acuan ini menggarisbawahi filsafat hidup dan teologi kita.

Beberapa contoh worldview sebagai berikut: Teisme. Teisme mempercayai sesuatu yang terbatas, Allah yang berpribadi ada dan berhubungan dengan dunia ciptaan-Nya. Deisme. Deisme menerima Allah menciptakan alam semesta, tetapi kemudian Ia dipercaya tidak lagi berhubungan dengan ciptaan-ciptaan-Nya. Ateisme. Ateisme menolak sepenuhnya kepercayaan kepada Allah. Panteisme. Panteisme percaya alam semesta adalah Allah, tempat dimana Politeisme percaya kepada banyak allah.

Kata “worldview” terdengar abstrak dan lepas dari kehidupan sehari-hari. Tetapi, sangatlah penting bahwa sebuah wordlview perlu dipahami dan dibedakan dari worldview-worldview lainnya. Setiap kepercayaan yang kita anut, setiap isu yang kita pertimbangkan, setiap topik yang kita diskusikan, merupakan perpanjangan dari wordlview kita. sebagain besar konflik manusia muncul dari benturan antyar-worldview ini. Apakah kita telah memikirkannya dengan sadar atau tidak, wordlview kita menembus kehidupan kita, menentukan nilai-nilai kita, dan menjadi kompas kehidupan kita. Pikiran-pikiran kita dan pilihan-pilihannya disaring melalui wordlview ini, dan tindakan-tindakan kita pun akan merefleksikannya.
___________
Sumber: Rick Cornish, 5 Menit Apologetika (Bandung: Pionir Jaya, 2007), 81.


Selasa, 22 Januari 2019

RENUNGAN : SANG PERANCANG AGUNG

Yeremia 1:5 (TB) "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
______

"Tuhan tidak pernah bermain dadu", demikian kata Einstein. Fisikawan ulung yang serius menggeluti hukum-hukum dasar kosmologi, menyadari betul akan suatu prinsip yang tak terelakan mengenai rancangan agung dengan rangkaian hukum-hukum yang teratur serta tujuan tertentu bagi kelangsungan eksistensi alam semesta. Seperti Einstein yang melihat ke atas untuk mengapai realitas mengenai Sang Perancang Agung, demikian juga dengan Luis Pasteur yang melihat "ke bawah" untuk berjumpa dengan Sang Perancang itu. Luis Pasteur, Ilmuan terkemuka yang menggeluti bidang kimia ini menjumpai suatu realitas bahwa, "Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo" (Semua kehidupan berasal dari telur, semua telur berasal dari kehidupan). Eksistensi kehidupan di alam raya ini tidak dapat tidak, harus berasal dari Sang Hidup pula, karena tidak ada kehidupan yang berasal dari ketiadaan kehidupan.

Demikianlah kebenaran yang dinyatakan Tuhan pada saat Ia memanggil Yeremia. Tuhan bukan hanya membentuk Yeremia, namun Ia juga mengenal, Ia menguduskan, dan Ia juga memiliki suatu tujuan serta tugas tertentu bagi Yeremia. Kebenaran ini memberikan makna penting bagi jawaban eksistensial umat manusia tentang "mengapa dan untuk apa kita hidup?". Tuhan punya suatu rancangan dan tujuan yang mulia bagi kehidupan kita, tidak peduli bagaimana bentuk tubuh, wajah, hidung, kulit, dan rambut. Kita semua berarti bagi-Nya. Ia mengenal, mengasihi, dan memiliki suatu rencana yang mulia dalam hidup kita.

Namun sayangnya kita terlalu sering memfokuskan diri kepada hal-hal sekunder untuk menyenangkan manusia seperti selalu mengeluhkan bentuk tubuh, hidung, rambut, dsb. Kita lupa bahwa Tuhan menerima dan mengasihi kita bukan karena alasan-alasan tersebut namun karena Ia memang mengasihi oleh karena kita adalah ciptaan-Nya yang mulia. Terlebih lagi kita, ciptaan-Nya yang berdosa ini telah ditebus oleh-Nya untuk dikembalikan kepada rancangan-Nya yang semula. Seperti yang dikemukakan Rasul Paulus kepada Jemaat Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Ef. 2:10).

Tuhan tidak bermain dadu, Ia tidak sembarangan menciptakan manusia. Ia memiliki tujuan yang mulia bagi Saudara dan saya, maka hendaklah kita tidak memfokuskan diri dan menghabiskan sisa hidup kita pada hal-hal yang tidak berfaedah, namun berjuang untuk hidup dalam kehendak dan rencana Tuhan, serta dalam pimpinan-Nya. Kiranya Tuhan memampukan kita. Amin! Tuhan Yesus memberkati. Salam. (yb).

Selasa, 01 Januari 2019

RENUNGAN : MELANGKAH BERSAMA ALLAH

Nas : “Pada mulanya Allah...” [Kejadian 1:1]
__________

Setiap kali kita merayakan dan memasuki tahun baru, kita sesungguhnya sedang merayakan suatu fakta tentang realitas hidup umat manusia yang terbatas dalam “ruang” dan “waktu”. Kita terikat dalam dua dimensi ini. Tidak ada satu makhluk hidup di bawah kolong langit ini yang tidak takhluk di dalam ruang dan waktu. Suatu fakta yang mengkonfirmasikan bahwa Saudara dan saya memiliki keterbatasan eksistensial yang memaksa kita untuk tunduk dan takhluk di hadapan dua realitas tersebut. Merayakan tahun baru memang mengasikkan dan menggembirakan, namun sekaligus juga mengekspresikan misteri mengenai keterbatasan kita sebagai manusia di dunia fana ini.

Kebenaran ini mendorong kita untuk mau tidak mau harus bergantung pada Sang Khalik yang melampaui ruang dan waktu, dan yang kekal itu. Bukan suatu kebetulan jika di pasal pertama dan ayat pertama dalam Alkitab dimulai dengan satu pewahyuan kebenaran yang sahih sebagai jawaban dari kekosongan eksistensialis umat manusia. “Pada mulanya Allah...”, mengkonfirmasikan bahwa Ia selalu ada sebelum keberadaan yang berada, dan Ia juga yang menjadi satu-satunya penopang bagi kefanaan kita di dalam ruang dan waktu. Allah harus menjadi yang terutama dalam kehidupan kita, termasuk ketika kita membuka lembaran yang baru di tahun yang baru ini.

Seperti Alkitab yang memulai pewahyuan kebenaran dari keyakinan mendasar akan Allah yang hidup, yang mencipta, menopang, memelihara, dan mengendalikan perjalanan hidup manusia serta sejarah alam semesta, demikian halnya kita sebagai umat-Nya. Hari pertama di tahun yang baru ini kiranya kita tidak hanya berfokus dan larut dalam euforia perayaan sehingga melupakan esensi dan refleksi iman bahwa kita tidak dapat memulai sesuatu yang baru tanpa penyertaan, pimpinan dan anugerah Allah. Mulailah segala sesuatu dengan Allah, dengan demikian kita akan mampu menghadapi setiap kemungkinan hidup yang terburuk sekalipun hingga di akhir tahun baru ini, karena Ia bukan hanya Sang Alfa namun juga Sang Omega; Yang awal dan Yang akhir, dan Yang melampaui ruang dan waktu. Selamat tahun baru, sertakan Tuhan selaludalam segala langkah hidup kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati. (yb)_

Rabu, 19 Desember 2018

NARASI FILSAFAT: Manusia, Hewan yang Berideologi [Kritik Filosofis Humanistik]

Pertanyaan abadi yang diperdebatkan dua mazhab filsafat besar Idealisme Platonis dan Empirisisme (juga Materialisme) adalah apakah ide mandahului materi atau sebaliknya materi mendahului ide. Lebih dulu mana objek materi yang berbentuk bangku atau ide tentang bangku yang menghasilkan bentuk materinya?.
Kedua mazab ini memiliki jawabannya masing-masing sesuai dengan paham (isme) yang diyakini. Seperti mereka, apa pun jawaban kita, pastilah akan mencerminkan gagasan dari salah satu mazhab tersebut yang secara tidak langsung mengekspresikan juga suatu bentuk ideologi filsafati yang juga kita anut. Apa yang terjadi dalam dialektika semacam ini merupakan suatu perdebatan mendasar yang sedang berbicara mengenai keyakinan ideologis.

Konsepsi mengenai ideologi telah menjadi pola mendasar yang mewarnai sejarah panjang pemikiran dan peradaban umat manusia secara universal. Bahkan Hawa ketika memutuskan untuk memakan buah terlarang di taman Eden, hal itu pun merupakan ekspresi dari semacam ideologi baru yang memimpinnya dalam suatu tindakan konkret. "Ideologi" (Yun. Idea—Ide atau gagasan dan Logos—Ilmu) merupakan suatu istilah yang paling banyak menghasilkan definisi, tergantung “siapa” dan “bidang apa” istilah ini digunakan.
Destutt De Tracy memperkenalkan istilah ini pertama kalinya dengan merujuk pada studi komprehensif yang bertujuan untuk mengembalikan ide-ide pada kesan-kesan asali. Ideologi juga terkadang disandingkan dengan istilah worldview (Weltanschauung—Jer.) atau wawasan dunia yang mana merupakan suatu rangkuman pemahaman serta dasar pijakan seseorang dalam memahami realitas eksistensialnya.

Tulisan ini tidak dikhususkan untuk menelusuri perdebatan etimologi serta sejarah filosofisnya, tetapi lebih cenderung sebagai kritik filosofis praktis yang menyangkut judul di atas. Ideologi, seperti kata Bacon, adalah suatu sintesis pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup. Ideologi bukan hanya menyangkut dunia politik seperti yang umum dipahami, namun lebih besar dari itu, menyangkut segi eksistensial yang mengendalikan hidup manusia.

Mengapa saya menulis? Karena saya dikendalikan oleh suatu ideologi dan gagasan yang membentuk pola pikir serta bidang minat saya. Mengapa Anda membaca? Karena Anda pun dikendalikan oleh semacam ideologi yang membentuk norma-norma, gagasan, tindakan, karakter, prinsip, serta perilaku hidup. 
Termasuk ketika Anda memilih untuk membaca tulisan ini pun, hal itu berkaitan dengan suatu bidang minat ideologi tertentu. Anda dapat menayangkan dan mempertanyakan pertanyaan yang sama terhadap perilaku semua manusia di mana pun, dan Anda akan menemukan satu jawaban bahwa semua perilaku itu dikendalikan oleh suatu ideologi tertentu.

Manusia tidak dapat hidup tanpa suatu “ideologi”. Manusia adalah makhluk yang berideologi. Tidak berideologi pun merupakan suatu ideologi, “ideologi yang tidak berideologi”. 
Kalangan evolusionis yang meganggap manusia merupakan organisme yang berevolusi oleh serangkaian seleksi alam akan menjadi linglung ketika berhadapan dengan isu ini. Hipotesis evolusionis terlalu menyederhanakan rumitnya konsepsi dunia ide pada manusia. Evolusionis paling-paling hanya mampu sampai pada serangkaian hipotesis mengenai fenomena-fenomena fisik yang tampak, namun tidak akan pernah sampai pada fakta-fakta tentang dari mana asal usul dan bagaimana dunia ide yang begitu kompleks pada manusia itu berkembang serta memengaruhi kehidupannya.

“Manusia sebagai hewan berideologi” pada judul ini sebenarnya merupakan suatu parodi yang saya jadikan sebagai kritik eksistensial bagi penganut evolusionis. Anda mungkin saja dapat menjumpai “beberapa persamaan fisik” dalam serangkaian analisa ilmiah antara hewan primata seperti orangutan dan manusia, namun Anda tidak akan mungkin mendapatkan kesamaan dalam dunia ide, etika, dan ideologi antara keduanya. 

Pernahkah Anda menyaksikan sekelompok orangutan mempraktikkan ideologi Marxisme? Tentu saja “hewan” tidak ada yang berideologi, namun lucunya manusia ada yang menganut ideologi yang meng-hewan-kan manusia.

Meskipun lucu dan menyedihkan, namun bukankah sudah saya katakan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa ideologi?—manusia harus berideologi. Jadi baik ataupun buruk suatu ideologi, kemanuisaan kita mendorong kita untuk harus menganutnya.

Ada beberapa filsuf/ilmuan sekuler dan ateis yang menganggap bahwa keyakinan teologis memperbudak manusia, namun mereka pun lupa bahwa mereka juga sedang diperbudak oleh semacam “tuhan” lain yang menjadi ideologi yang mereka yakini. Dari sini kita melihat bahwa konsepsi nihilisme Nietszchean pun sebenarnya tidak benar-benar menghasilkan sesuatu yang “nihil” dalam dunia ide, karena konsepsi demikian pun merupakan suatu ideologi jenis baru.

Hewan memang tidak dan tak dapat berideologi. Kita manusialah yang berideologi, namun terkadang ideologi yang dianut manusia menjadikan ia bertintak laksana hewan bahkan melebihi setan. Sebagai penutup, kritik ini bukan hanya menjadi sebuah parodi filosofis bagi kaum evolusionis, namun lebih jauh, merupakan bentuk ajakan agar kita perlu mempertimbangkan dan mengkaji secara kritis setiap keyakinan dasar yang menjadi ideologi kita. 

Alasan mendasarnya karena ideologi-ideologi ini cepat atau lambat akan berbenturan ketika bersinggungan di ruang publik. Hal ini penting karena percaya atau tidak, sebagian besar konflik yang terjadi (baik fisik dan verbal) dalam konteks personal maupun komunal, selalu didahului oleh konflik dalam dunia ideologis. Singkatnya, ideologimu termanifestasikan dalam tindakanmu.
__________
Sumber :  https://www.qureta.com/post/manusia-hewan-yang-berideologi.

Kamis, 13 Desember 2018

Badut-Badut Natal : Kritik Bagi Euforia Perayaan Natal Post Modern

“Natal” merupakan salah satu hari raya yang paling dinantikan bagi umat Kristen. Natal selalu identik dengan sukacita dan berkat yang diekspresikan melalui dekorasi, makanan, pakaian, hingga THR. Sementara dalam konteks bisnis Natal kini menjadi “hari raya masyarakat global” karena Natal adalah momentum yang dinanti oleh kalangan pebisnis untuk merauk keuntungan lipat ganda.

Di belahan Timur Negeri ini,  suasana Natal bahkan telah terasa semenjak bulan November. Ornamen Natal telah terpasang di mana-mana, bahkan hingga di pepohonan seolah-olah sedang mengikuti lomba dekorasi. Lagu-lagu Natal juga terdengar di hampir semua rumah, saling sahut-menyahut bagaikan lapak PKL yang menjajakan dagangan. Tak lupa persediaan beberapa “botol minuman penghangat” khas masyarakat timur yang menjadi ritual bagi para pemabuk untuk menyongsong Sang Penebus. Mungkin karena Natal bukan hanya milik umat Tuhan yang taat namun juga “umat Tuhan” dari kalangan pemabuk.

Salah satu fenomena yang tak ketinggalan yang marak di daerah Timur adalah jadwal kunjungan rutin si kakek tua berjenggot dengan pengawalnya si hitam. Si kakek yang lebih tenar dibandingkan dengan Sang Penebus ini, kini muncul dengan inovasi baru yang entah bagaimana ceritanya, sekarang ia didampingi seorang peri cantik. Mungkin si kakek santa terlalu renta dan tidak tahan sendirian jadi perlu asisten yang cantik. Mirisnya, jadwal kunjugan kakek tua dan pasukannya ini justru yang paling dinantikan anak-anak ketika Natal karena konon si kakek dan rombongannya ini doyan berbagi hadiah—meskipun hadiahnya merupakan titipan dan pesanan orang tua.

Trik murahan yang justru lebih menonjolkan sisi bisnis dibanding pesan moral. Lebih jauh, praktek demikian sedang memperlihatkan sebuah pesan yang menjungkir balikkan pengajaran iman dan pengharapan anak kepada Tuhan, dan digantikan dengan pengharapan palsu kepada si kakek tua Santa. Menyedihkan!
Tidak hanya sampai disitu, parahnya uforia-uforia demikian tidak hanya melanda umat Tuhan namun juga gereja-Nya. Tuntutan biaya yang membengkak untuk perayaan, doorprize, “bintang tamu” (siapa pun dia, entahkah hamba Tuhan atau pun artis, penyebutan demikian merupakan sebuah pelecehan terhadap Kristus yang menjadi sentral utama Natal), konsumsi, iklan, dll, terkadang telah menjadi “salib yang dipaksakan” untuk dipikul jemaat. Lantas apa yang diperoleh dari perayaan-perayaan demikian? Sukacita? Ya sukacita. Tetapi jika harus jujur, kita semua tahu bahwa sukacita yang diperoleh itu bukan karena Kristus yang lahir tetapi karena “euforia perayaan itu”.

Apa yang tersisa dari euforia ini? Yang tersisa hanyalah sepenggal cerita keseruan dari penampilan si A, gaya si B, doorprize, bingkisan Natal hingga konsumsi. sekali lagi, hanya tersisa sepenggal cerita, tidak lebih! Sangat sedikit sekali dari umat Tuhan yang benar-benar mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Kristus dan memperoleh sukacita yang sejati. Sebuah fenomena terbalik yang memperlihatkan bahwa gereja post modern lebih cenderung memberi untuk kegiatan euforia sesaat daripada berkorban untuk pekerjaan misi Injil. Lagi-lagi menyedihkan!

Inilah wajah fenomena Natal di zaman ini. Kelahiran Sang Juruselamat di era post modern merupakan momentum tanpa arti yang dikambing hitamkan untuk memperoleh sukacita yang semu. Natal telah berubah wujud menjadi ajang bisnis komersil yang memabukan semua orang. Tidak mengherankan jika dibeberapa denominasi gereja, perayaan Natal ditolak habis-habisan baik karena alasan teologis maupun alasan etis.

Sejatinya Natal merupakan ungkapan syukur terbesar, teragung dan termulia yang mengalir dari kesadaran hati kita yang paling dalam bahwa janji Allah akan  kedatangan Sang Penebus umat manusia telah digenapi. Lebih jauh, Natal bukan hanya berbicara mengenai keyakinan teologis dan historis, namun juga menyangkut sisi etika Kristen. Maka ketiga unsur tersebut harus dipertimbangkan secara serius.

Sisi teologis mendorong kita untuk memahami esensi Natal secara benar sehingga satu-satunya fokus Natal hanyalah Kristus Tuhan, bukan “selebrasi perayaan yang kosong”. Sisi historis mengajak kita untuk menjalankan Natal sesuai dengan tradisi gerejawi yang alkitabiah, bukan terbawa arus fenomena zaman yang tidak bermakna dan sarat kedagingan. Serta sisi etika yang menuntut kita untuk berperilaku (baik sikap, perkataan, pakaian, dan gaya hidup) secara pantas selayaknya umat Tuhan yang menyambut kedatangan Tuhannya.  Jika tidak ada lagi pertimbangan yang jelas (menyangkut tiga hal di atas) antara perayaan Natal gerejawi dan duniawi, maka hal itu hanya menyisakan satu kesimpulan: “Gereja (umat Tuhan) telah sama dengan dunia”.

Jangan lagi mengkambing-hitamkan kelahiran Kristus demi euforia semu yang tanpa makna. Merayakan Natal dengan fokus, serta  sikap hati yang tidak tertuju pada Kristus tetapi pada hal-hal sekunder, sama halnya dengan seorang tamu yang datang ke suatu resepsi namun sama sekali tidak melirik dan menyapa Tuan rumah karena mata dan hatinya hanya tertuju pada “euforia kesenangan pesta”. Tamu-tamu demikian adalah tamu-tamu yang kurang ajar.

Kita tidak dapat menghentikan semangat zaman yang berkembang dengan segala keinginan dan kamuflase yang termanifestasi di dalam perayaan Natal, namun kita dapat memegang teguh esensi dari Natal Kristus yang sejati selama kita memahaminya dengan benar. Selamat menyambut Sang Juruselamat. Salam. (yb).


Kamis, 29 November 2018

RENUNGAN : KEBEBALAN HATI

Amsal 26:11 (TB) Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.

משלי 26:11 (WLC) כְּכֶלֶב שָׁב עַל־קֵאֹו כְּסִיל שֹׁונֶה בְאִוַּלְתֹּו׃
______

Kebebalan merupakan istilah yang digambarkan Alkitab untuk menunjukan suatu sikap penolakan terhadap hikmat dan didikan yang benar. Kebebalan juga menyebabkan sensivitas nurani manusia menjadi tumpul dan terbiasa dengan suatu pola hidup/kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Penulis Amsal menganalogikan sikap kebebalan demikian dengan kebiasaan buruk anjing yang kembali ke muntahnya. Muntahan merupakan sesuatu yang menjijikan. Betapa lebih menjijikan ketika dimakan kembali oleh anjing. Kebebalan bagaikan rantai yang mengkang orang bebal untuk kembali ke "muntahnya". Meskipun hal-hal tersebut buruk, menjijikan, merugikan, dan bahakan suatu kejahatan namun bagi orang bebal hal itu menarik serta memikat hatinya sehingga matanya tidak dapat berpaling dari "muntahan" yang menjijikan itu. Kebebalan membelenggu hati dan pikirannya sehingga tidak ada nasihat dan didikan yang mampu menembus kupingnya.

Sebagai umat Tuhan kita pun tak luput dari kebebalan. Meskipun hanya dalam tingkatan yang ringan seperti tidak ingin dinasehati mengenai hal-hal sepele yang menyangkut kesehatan, kebersihan, dan disiplin-disiplin rohani lainnya. Namun kebebalan "kecil" yang dibiasakan akan menuntun kita pada kebebalan-kebebalan yang lebih besar dan serius. Yudas Iskariot menjadi binasa bukan ketika ia menerima uang suap dari ahli Taurat, tetapi ketika ia mulai membiasakan diri dengan kebebalan-kebebalan kecil pada saat menggerogoti uang kas. Para candu narkoba memumulai petualangan dengan menolak didikan dan mengijinkan kebebalan-kebebalan kecil hingga pada titik kritis mereka tidak lagi dapat keluar dari jerat. Inilah intinya. Maka membuka hati untuk menerima didikan dan teguran adalah cara terbaik untuk menjauhkan kita dari kebebalan. Teguran yang nyata adalah bentuk kasih yang sesungguhnya (Ams. 27:5), oleh sebab itu janganlah menghindar dari teguran dan didikan karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr. 12:6). Kiranya Roh Kudus membuka hati kita dan memampukan kita untuk menerima didikan dan hajaran Tuhan untuk memurnikan kita dari kebebalan. Amin! (yb)._

ISU APOLOGETIK : WHO MADE GOD?



“Siapa yang menciptakan Allah?”

Pernah mendengar pertanyaan mengenai “Siapakah yang menciptakan Allah?”. Pertanyaan ini merupakan salah satu dari beberapa pertanyaan favorit kalangan ateis untuk menggugat klaim Teisme. Menurut mereka (ateis), argumentasi hukum sebab-akibat yang digunakan sebagai dalil penciptaan (Causa prima Aristoletian) saharusnya digunakan secara konsisten juga bagi Allah. Itu sebabnya mereka kemudian mempertanyakan tesis kalangan Teisme sebagai berikut, “jika Allah menciptakan alam semesta, maka siapakah yang menciptakan Allah?”. 

          Pertanyaan demikian sesungguhnya merupakan pertanyaan yang keliru secara kategoris, setidaknya karena dua hal. Pertama, pertanyaan ini tidak akan menemukan ujung pangkalnya. Mempertanyakan bahwa “Siapa yang menciptakan Allah” sama halnya dengan bertanya “Siapakah yang menciptakan pencipta?”. Pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan blunder yang menyesatkan dan absurd karena tidak memiliki kejelasan titik pangkal serta makna. Jika ada pencipta yang ternyata juga dicipta, maka tidak ada pencipta yang layak disebut sebagai pencipta karena semua dicipta. Kata “ciptaan” dan “pencipta” tidak memiliki makna apapun dalam kalimat demikian. 

          Kedua, Allah tidak diciptakan. Ia telah ada dan selalu ada. Satu-satunya eksistensi yang memiliki kemutlakan eksistensi hanyalah Allah, Ia kekal dan tidak bergantung kepada siapa pun, itu sebabnya Ia tidak memerlukan pencipta. Hanya hal-hal yang memiliki awal seperti alam semesta yang memerlukan pencipta, sementara Allah tidak memiliki permulaan semacam itu maka Ia tidak dicipta dan memerlukan pencipta.

          Apabila Allah yang ada adalah Allah yang tidak memiliki permulaan, maka sangat tidak masuk akal untuk bertanya “Siapakah yang menciptakan Allah?”. Ini merupakan pertanyaan yang keliru secara logika. Pertanyaan demikian sama halnya dengan bertanya, “Siapakah yang menciptakan yang Tidak Diciptakan?” atau sama seperti kita bertanya, “Siapakah istri pria lajang itu?”.[1]



            [1] Diedit seperlunya dari argumentasi Norman L Geisler, Who Made God? [Siapa Yang Menciptakan Allah]: Jawaban-jawaban untuk Pertanyaan Sulit tentang Iman (Bandung: Pionir Jaya, 2008), 21.