Rabu, 10 Januari 2018

RENUNGAN : TUHAN ADALAH GEMBALAKU


Nats : "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." (Mzm. 23:1).

          Daud, pemazmur yang menulis Mazmur 23 ini bukanlah orang sembarangan. Ia adalah raja Israel yang memiliki karier dan kesuksesan yg luar biasa. Akan tetapi, Daud sesungguhnya menyadari betul akan satu hal. Ia sadar bahwa tanpa pimpinan Tuhan, semuanya akan sia-sia.

          Ketika kita mengatakan bahwa "Tuhan adalah gembalaku", maka seperti Daud, kehidupan kita seharusnya diserahkan sepenuhnya dalam pimpinan Gembala agung itu. Kita tidak dapat mengatakan bahwa "Tuhan, gembalaku, pimpinlah aku." Namun kita justru tidak mau menuruti apa yang menjadi kehendak pemimpin kita. Hal ini yang paling sering terjadi di dalam kehidupan umat Tuhan. Mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kemudian menyangkal kepercayaannya itu dalam tingkah lakunya. Setiap hari berdoa, setiap minggu ke gereja, tetapi jika ada masalah, menyimpang ke "orang pintar" (ngapain juga minta petunjuk ke "orang pintar" yang jadi pintar dengan cara-cara yang tidak pintar?).

          Hal ini merupakan permasalahan serius. Kita tidak dapat mengatakan "Tuhan adalah gembalaku, dan dukun juga". Keyakinan iman yang sejati hanya dapat disandarkan  kepada Tuhan. Hanya dengan demikian, janji berkat Tuhan bahwa kita tidak akan berkekurangan akan tergenapi.

salam... 
yb.

RENUNGAN : JANJI BERKAT DALAM TAKUT AKAN TUHAN


Nats : Mazmur 112:1-3 (TB)  Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.

____

       Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh B.B. Warfield pada abat ke 19 kepada dua keturunan dari Jonathan Edwards (seorang hamba Tuhan) dan Max Jukes (seorang ateis dan pecandu) yang hidup sezaman pada abad ke 18, didapati bahwa hampir semua keturunan Jonathan Edwards menjadi orang-orang penting, terhormat, berpengaruh, dan telah menyumbangkan pemikiran serta menjadi berkat bagi AS. Sebaliknya, dari sekitar 500 keturunan Max Jukes, hampir semuanya menjadi pelaku kriminal. Diperkirakan bahwa keturunannya telah memberikan kerugian yang cukup besar, sekitar 12 milyard rupiah bagi AS.

          Keluarga Jonathan Edwards merupakan gambaran yang ideal dari Mazmur 112 di atas. Kunci keberhasilan dari keluarga sang Teolog terdapat dalam ayat ini. Pemazmur dalam ayat ini memberikan dua hal mendasar yang menjadi kunci berkat bagi Umat Tuhan. Pertama, "Takut akan Tuhan", serta, "Suka kepada segala perintah-Nya". Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Kita tidak dapat "takut akan Tuhan", tanpa "suka kepada perintah-Nya", dan demikian pula sebaliknya. Keduanya harus berjalan seimbang.

         Jonathan Edwards telah menjadi teladan iman bagi generasi dan keluarga kristiani dalam membina keluarga. Ketaatan Edwards telah memberkati keturunannya dan Umat Tuhan hingga saat ini. Kesuksesannya itu hanya dimuai dari hal yang sangat sederhana, seperti yang telah kita lihat di atas. Jika Saudara ingin memiliki hidup yang berkualitas, berdampak serta memberkati keluarga dan keturunan Saudara seperti ayat Firman Tuhan di atas, maka mulailah melangkahkan kaki dengan dua hal Sederhana ini, "Takut akan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya."

RENUNGAN : TUJUAN HIDUP


Nats : Filipi 1:21-22 (TB)  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

_______

          Rick Warren dalam bukunya "The Purpose Driven Life", merangkum tujuan hidup umat Tuhan sebagai "Persiapan menuju kekekalan". Sedangkan Katekismus Westminster merangkum tujuan hidup umat Tuhan yaitu "Memuliakan Allah dan bersukacita di dalam-Nya selamanya." Meski terdapat perbedaan namun Keduanya memiliki pandangan yang hampir sama, yaitu persekutuan kekal bersama Allah.

          Rasul Paulus juga memiliki pemahaman yang sama ketika Ia menulis tentang tujuan hidupnya, namun dalam uraian yang lebih praktis. Sang Rasul membagi tujuan hidup menjadi dua, tujuan hidup di dunia dan di kekekalan. Bagian pertama dalam ayat ini Ia menulis, "bagiku hidup adalah Kristus". Sudara, ketika Rasul Paulus menulis surat ini, Ia sedang dalam penjara. Mengapa Ia dipenjara? Karena berita Injil Kristus. Dari latar belakang demikian kita dapat melihat suatu komitmen yang kokoh tentang iman serta tujuan hidup di dalam Kristus. Harga komitmen iman yang sangat mahal.

          "Hidup adalah Kristus" memiliki implikasi yang menuntut keserupaan dengan Kristus dalam segala hal (baik karakter, tujuan hidup, serta visi misi). Hal ini dijabarkan oleh Paulus dalam ayat berikutnya, "Tetapi jika aku  harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." Tujuan hidup di dalam dunia adalah bekerja keras untuk menghasilkan buah. Praktisnya "hidup adalah Kristus" merupakan kehidupan praktis umat Kristen yang menjadi berkat dalam segala hal. Karena panggilan, profesi, dan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita berbeda satu dengan lainnya, maka perihal bekerja menghasilkan buah merupakan penerapan praktis untuk menjadi berkat dalam bidang profesi kita masing-masing. Jadilah berkat di mana pun Tuhan tempatkan Saudara.

          Kedua tujuan hidup di kekekalan. Pada bagian ini, Rasul Paulus memandang kehidupan kekal sebagai dampak/hasil praktis dari kehidupan di dalam Kristus. Artinya hanya dalam cara hidup demikianlah (Hidup adalah Kristus) maka kematian bukanlah hal yang menakutkan. Suatu saat ketika kita sampai pada titik kritis di penghujung kehidupan manusia, kematian bagi kita umat Tuhan justru merupakan keuntungan, karena kita tahu ke mana kita akan pergi dan dengan Siapa kita akan berjumpa (Yoh. 14:2). Sebaliknya, di luar Kristus kematian merupakan suatu kegelapan misteri Ilahi yang sangat mencekam.

          Menemukan Tujuan hidup serta hidup di dalamnya merupakan pencapaian yang terbesar dalam hidup manusia. Lebih penting dan lebih besar dari pencapaian Saudara terhadap harta, jabatan, status sosial, dll (Luk. 12:20-21). Rasul Paulus telah meninggalkan teladan untuk tetap berbuah bagi Kristus meskipun dalam keadaan teraniaya dalam penjara. Ini merupakan tujuan hidup umat Tuhan yang tidak dapat diabaikan. Maka tidak ada pilihan lain selain Hidup dan berbuahlah di dalam Kristus maka kematian merupakan keuntungan.


Salam...
(yb).

RENUNGAN : SPIRITUAL CEK-UP


Nats : Mazmur 139:23-24 (TB)  Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

_____

         Jika Suadara seorang pengacara atau praktisi hukum, maka istilah "Selidiki" mungkin bukan hal asing lagi di telinga Saudara. Di dalam kasus-kasus hukum penyelidikan terhadap fakta-fakta dan data-data sudah menjadi standar baku dari mereka yang bersidang untuk memutuskan suatu perkara, apakah seseorang bersalah atau tidak secara hukum. Namun tentu saja dalam proses demikian harus disadari bahwa baik "hukum", dan para praktisinya bertolak dari pemikiran dan keterbatasannya sebagai Manusia, maka tidaklah mengherankan jika penyelidikan dan keputusan-keputusan yang diputuskan terkadang masih jauh dari prinsip dasar hukum itu sendiri, yang berasaskan keadilan. Lantas bagaimana jika yang menyelidiki hidup kita adalah Tuhan?

          Daud dalam Mazmur 139:23-24 ini memiliki kerinduan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Orang-orang pada umumnya akan menghindarkan diri dari hadapan Tuhan karena mereka begitu takut jika yang menyelidiki hidup mereka adalah Tuhan. Ya, ini memang kecenderungan prilaku manusia berdosa. Namun Daud tidak. Ia tahu bahwa standar Kebenaran dalam hidupnya adalah kebenaran Tuhan. Maka yang menjadi pengoreksi kehidupannya pun haruslah Tuhan. Saudara, jika Saudara memiliki kekayaan materi, maka Saudara akan menjumpai sebagian besar orang di samping Saudara yang hanya menjadi "penjilat". Tidak ada yang berani mengoreksi hidup Saudara yang bebal, karena materi membutakan mata. Namun tidak demikian jika Saudara berdiri di hadapan Tuhan.

            Beranikah kita berkata seperti Daud, "Selidiki aku ya Tuhan?!", membaca dan mengatakan kalimat sederhana ini memang sangat mudah, akan tetapi untuk membayangkan hal ini sangatlah berat. Namun hanya inilah satu-satunya cara jika Saudara menghendaki suatu kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan, yaitu jika Saudara mengijinkan Tuhan menyelidiki dan mengoreksi hidup Saudara. Maka, Mari, Datanglah pada-Nya dengan rendah hati, mohonlah pengampunan, dan mintalah Ia menuntun hidup kita di jalan-Nya.


Salam....
yb.

RENUNGAN : HAMBA DAN ORANG BERDOSA


Ntas : Mazmur 143:2 (TB)  Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu.

Psalms 143:2 (NKJV)  Do not enter into judgment with Your servant, For in Your sight no one living is righteous.

_____

        Jika Dalam renungan sebelumnya, penulis membahas tentang Mazmur 139:23-24 yang merupakan ungkapan permohonan Pemazmur agar dapat "diselidiki dan dibenahi" oleh Tuhan, maka kali ini ada hal yang berbeda. Suatu kecemasan dan kesadaran ketika Pemazmur berdiri di hadapan penghakiman Allah.

         Ketika Daud menulis Mazmur ini, ia benar-benar menyadari akan satu hal, status semua manusia adalah "berdosa" termasuk dirinya! Meskipun ia adalah raja, namun ketika berhadapan dengan Tuhan Ia begitu hormat dan gentar. Ia menggunakan dua status yang sangat rendah pada dirinya sebagai simbol penghormatan dan kegentarannya. Pertama, sebagai "hamba" (lihat: "hamba-Mu ini"), dan kedua sebagai "orang berdosa". Hanya dengan kesadaran demikian, Daud dapat mendekati Allah dan memohon Anugerah-Nya.

         Saudara terkasih, dua status yang disandang oleh Daud (Hamba dan Orang berdosa) merupakan kesadaran eksistensial akan kebutuhan terdalam manusia akan anugerah Allah. Kita tidak dapat membenarkan diri dengan kebaikan apapun di hadapan Allah. Terlalu banyak orang yang menganggap bahwa mereka dapat membenarkan diri mereka di hadapan Allah, namun bukankah dengan cara demikian pun kita telah berdosa?, berdosa karena kesombongan, dan berdosa karena merasa tidak memerlukan anugerah serta pertolongan Allah.

       Maka seperti halnya Daud, kenakanlah kesadaran bahwa kita adalah hamba dan orang berdosa yang membutuhkan anugerah Allah di dalam Kristus. Datanglah pada-Nya dengan rendah hati. Tuhan memberkati kita.

Salam kasih...
yb.