Minggu, 15 Mei 2022

“’Ikutlah Aku!’: Panggilan Bagi yang Terpinggirkan”


 

GEKARI SOLA FIDE CIMAHI

Ringkasan Khotbah Minggu, 15 Mei 2022
“’Ikutlah Aku!’: Panggilan Bagi yang Terpinggirkan”
Nas: Matius 9:9-13

Oleh: Yosep Belay, M.Th

_________________________________________


Pendahuluan

            Dalam Injil Matius terdapat empat kali Tuhan Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku.” Pertama, ketika  Ia memanggil Petrus, “Ikutlah Aku...” (Mat. 4:19). Kedua, kepada salah seorang murid-Nya, “Ikutlah Aku...” (Mat. 8:22). Ketiga, kepada Matius, “Ikutlah Aku….” (Mat. 9:9). Dan keempat, kepada seorang muda yang kaya, “Ikutlah Aku…” (Mat. 19:21). Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa disetiap panggilan itu diberikan terdapat syarat dan tuntutan radikal yang Tuhan kehendaki agar mereka lakukan. Panggilan kepada Petrus, menuntun ia dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Panggilan kepada salah seorang murid lainnya, menuntut ia memprioritaskan Kristus lebih dari pada keluarganya. Panggilan kepada orang muda yang kaya, menuntut ia untuk mengasihi Allah dan sesama lebih dari hartanya.

            Bagaimana dengan panggilan kepada Matius? Ini yang akan menjadi renungan kita.

Nas: Matius 9:9-13______________________________________________

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (supaya mereka bertobat—Luk. 5:32).

______________________________________________________________________________

Eksposisi dan Bahasan

            Berkaitan dengan pembacaan firman Tuhan dalam perikop ini maka terdapat tiga pokok penting yang akan kita perlajari bersama, yaitu:

1.      Memahami Makna Panggilan Kristus: “Ikutlah Aku” (ay. 9a)

Menjadi pengikut Kristus bukanlah pilihan kita, tetapi pilihan Allah. Allah yang memilih, memanggil dan menyelamaknan kita, bukan kita yang memilih untuk percaya (ay. 9; Yoh. 15:16a). Di dalam panggillan itu tercermin jelas mengenai anugerah Allah yang besar bagi orang percaya. Terlebih besar lagi ketika anugerah itu dinyatakan bagi mereka yang terpinggirkan seperti Matius. Pekerjaan sebagai pemungut cukai adalah pekerjaan yang tercela karena, si pemungut merupakan kaki tangan Romawi yang memeras bangsanya sendiri, orang Yahudi. Itu sebabnya mereka dikucilkan.

Dalam pelayanan Kristus secara umum akan kita jumpai bahwa Ia selalu memprioritaskan pelayanan-Nya bagi mereka yang terpinggirkan. Mereka yang menerima panggilan Kristus itu berasal dari masyarakat kelas bawah—orang-orang yang dikucilkan secara ekonomi, sosial dan agama. Mengapa demikian? Karena pada masa itu, orang-orang Farisi/Rabi menganggap bahwa orang yang miskin, sakit dan melarat adalah orang-orang yang berdosa dan sementara terkena hukuman Allah. Maka mereka dikucilkan, tidak memperoleh kesempatan untuk dilayani, bahkan mendapat diskriminasi (Lihat: ay. 11 dan Luk. 18:9-14; Doa Orang Farisi dan Pemungut Cukai).

Akan tetapi, inilah fokus pelayanan Kristus sehingga gereja saat ini perlu dengan serius mempertimbangkan fokus pelayanannya. Jika pelayanan gereja hanya beorientasi pada kalangan tertentu, maka kita perlu berhati-hati. Jangan-jangan kita sementara terjebak dalam bentuk lain dari Farisi-Farisi modern. Tidaklah salah melayani kalangan tertentu, namun adalah keliru jika orientasi pelayanannya hanya mengarah ke mereka dan mengabaikan lainya.

Berbeda dari cara pandang teologi yang keliru dari kalangan Farisi, Kristus justru mencari orang-orang yang terpiggirkan, itu sebabnya Ia tegas mengatakan, “bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit.”  (9:12). Kitalah orang-orang sakit itu. Orang-orang sakit yang begitu dikasihi Allah; Orang-orang sakit yang dicari dan panggil oleh Kristus; orang-orang sakit yang kini telah ditebus dan dimerdekakan menjadi anak-anak Allah. Puji Tuhan!

John Stott: “Yesus mengajar kita dalam perumpamaan-Nya bahwa, apakah kita sadar untuk mencari Allah atau tidak, Ia pasti mencari kita. Ia seperti seorang wanita yang menelusuri rumahnya untuk mencari dirman yang hilang; seperti gembala yang mempertaruhkan hidupnya melewati bahaya di padang gurun untuk mencari satu domba yang hilang; dan seperti seorang ayah yang merindukan anaknya yang susah dikendalikan dan mengijinkannya merakasan pahitnya kebodohan dirinya sendiri, namun siap di setiap saat untuk berlari menemuinya dan menyambutnya kembali pulang ke rumah.”

“Ikutlah Aku!” adalah panggilan yang menggerakkan kita pada kehidupan kekal dalam persekutuan dengan Bapa karena Kristuslah “jalan dan kebenaran dan hidup.” Amin?

2.      Meresponi Panggilan Kristus: “…bangkit lalu mengikut Dia” (ay. 9b).

Untuk menjadi pengikut Kristus, setidaknya kita perlu memulai dari dua hal: Pertama adalah keputusan untuk meresponi panggilan itu, dan kedua dan paling mendasar adalah pertobatan.

Matius melakukan kedua hal ini. Ketika undangan Kristus sampai kepadanya, ia kemudian merespons, “maka berdirilah Matius lalu mengikuti Dia.” (ay.9).  Walaupun kita mendapati bahwa murid-murid lain yang dulunya nelayan kadang-kadang masih menjala ikan lagi setelahnya, tetapi kita tidak pernah mendapati Matius kembali lagi ke rumah cukai. Mengikut Kristus merupakan sebuah keputusan untuk beranjak dari zona nyaman, kehidupan lama yang berdosa serta lingkungannya yang membelenggu kita. Karena tujuan panggilan Tuhan itu adalah: “supaya mereka bertobat/metanoia” (Luk. 5:32).

Ada perbedaan antara penggemar dan pengikut. Kita tidak dipangil Kristus untuk menjadi penggemar-Nya yang hanya menjadi penonton namun tidak bertanding. Tetapi kita dipanggil Kristus untuk mengikuti-Nya. Menjadi pengikut, berarti berjalan bersama dengan-Nya dan melakukan apa yang Ia kehendaki. Mengikut berarti, masuk dalam arena pertandingan iman dan bertanding hingga akhir (1 Tim. 6:12). Mengikut Kristus menuntut sebuah perubahan radikal dalam hidup kita. Perubahan yang membuat kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus yang berbeda dari kehidupan lama kita (2 Kor. 5:17).

Kyle Idleman: “Yesus tidak pernah tertarik untuk memiliki penggemar…ada banyak gereja di dunia maupun di Indonesia yang telah berubah—dari altar menjadi stadion. Setiap minggu para penggemar memasuki stadion itu. Mereka bersorak bagi Yesus, namun tidak benar-benar berminat untuk mengikuti Dia. Ancaman terbesar gereja hari ini adalah banyaknya gerombolan penggemar yang menyebut diri mereka Kristen namun tidak benar-benar berminat untuk mengikuti Kristus.”

Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah: Saat ini kita sementara berdiri dalam kelompok yang mana? Penggemarkah atau Pengikut Kristus?

Untuk mempertegas posisi iman kita, maka saya hendak memberikan Bapak-Ibu sebuah tantangan, bersedia Bapak-Ibu? Tantangan: Ay. 9b, Maka berdirilah Matius ( …………………… ) lalu mengikut Dia.

3.      Mengikut Kristus berarti: Bersedia menjadi saksi-Nya (ay. 10; Yoh. 15:16b).

Menjadi saksi Kristus dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama, bersaksi melalui teladan hidup yang baik. Kedua, bersaksi melalui percakapan pemberitaan Injil kepada sesama. Dan keseluruhannya dapat secara efektif dimulai dari orang-orang terdekat  yang kita kasihi, yaitu keluarga, kerabat dan sahabat. 

Matius menjadi berkat bagi teman-temannya pemungut cukai dan orang-orang berdosa setelah ia mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan. Ia menjadi agen perantara yang mempertemukan teman-temannya dengan Kristus, sekaligus ia juga menjadi agen perantara bagi kita kepada Kristus ketika kita membaca Injil Matius.

Matius menjadi contoh yang paling baik bagi kita dalam menjadi saksi Kristus. Setelah perjumpaan dan tanggapan panggilannya, ia membuka rumahnya bagi Kristus dan mengundang kawan seprofesinya (orang-orang berdosa) untuk datang kepada Kristus. Tugas pelayanan Matius sederhana, hanya membuka rumahnya dan mengundang sahabat-sahabatnya kemudian mereka berjumpa dengan Kristus dan mengalami pemulihan. Sederhana namun sangat berdampak.

Akan tetapi teladan Matius yang menjadi saksi Kristus tidak hanya sampai di situ, melalui Maitus, kita menerima warisan dan menikmati berkat kebenaran firman Tuhan melalui Kitab Matius ini yang ditulis olehnya. Matius pemungkut cukai itu telah mengambil keputusan untuk mengikut Kristus dan telah mewariskan berkat rohani yang tak terhingga melalui tulisan Injilnya.

Fransiskus dari Asisi: “Beritakanlah Injil setiap waktu melalui perbuatan, namun jika memungkinkan, sampaikanlah dalam bentuk kata-kata.”

Kesimpulan

1.      Seperti Matius yang dipanggil Tuhan Yesus, maka melalui kebenaran firman ini, Tuhan Yesus juga sementara memanggil kita untuk masuk dalam persekutuan yang lebih intim dengan-Nya.

2.      Panggilan Tuhan itu menuntut kita untuk bangkit berdiri dan keluar dari kehidupan lama kita. Sebuah tuntutan untuk benar-benar bersedia memperbaharui kehidupan kita.

3.      Panggilan Tuhan itu juga sekaligus merupakan persiapan untuk masuk dalam misi Kristus, yaitu kehidupan yang menjadi saksi-Nya dalam perkataan, pikiran dan perbuatan. Kesaksian yang dimulai dari orang-orang terdekat kita di dalam rumah.

John Stott: “Jika kita sadar akan panggilan Kristus dan menyerah pada usaha melarikan diri dari-Nya, maka tidak ada ruang untuk menjadi sombong atas apa yang telah kita lakukan. Yang ada hanyalah rasa syukur yang teramat besar atas kasih karunia dan pengampunan-Nya, serta teguh berdiri dalam panggilan pelayanan sepanjang hidup kita.”

Soli Deo Gloria!

Jumat, 04 Februari 2022

Ringkasan Khotbah: “Panggilan Hidup Kristiani”

 

GPI Immanuel Bandung

Ringkasan Khotbah, Minggu 30.01.2022
Tema: “Panggilan Hidup Kristiani”
Nas: Matius 5:13-16

Oleh: Yosep Belay

____________________________________

5:13     "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14     Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15     Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16     Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

______________________________________________________________________________

Pendahuluan

Shalom.

            Gereja mula-mula merupakan gambaran dari gereja Tuhan yang ideal. Gereja zaman Rasuli ini memiliki memiliki tiga ciri utama yang merupakan pilar kekuatannya, yaitu: Bersaksi (Marturia), Bersekutu (Koinonia) dan Pelayanan meja/kasih (Diakonia). Baik secara organisasi maupun secara pribadi, ketiga ciri ini harus ada dalam kehidupan gereja Tuhan. Gereja yang sehat harus memiliki tiga ciri ini. Secara khusus dua diantara ketiga pilar gereja ini merupakan panggilan untuk semua orang percaya untuk menjadi berkat (bersaksi dan pelayanan kasih).

            Sayangnya, kedua hal ini justru yang sering diabaikan. Bapak-Ibu, Jemaat Tuhan, panggilan dan anugerah keselamatan yang kita diterima dalam Kristus disertai dengan tanggungjawab untuk memulai kehidupan yang berdampak dan menjadi berkat. Kita diselamatkan bukan hanya untuk masuk surga, tetapi juga untuk menjadi agen keselamatan dan kasih Allah bagi mereka yang terhilang. Kita adalah perpanjangan tangan kasih Allah bagi dunia yang terhilang. Ibu Teresa megatakan:

“Kita dapat menyembuhka penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya penyembuhan bagi kesepian, keputusasaan, dan hilang pengharapan adalah kasih dan anugerah Allah” (Ibu Teresa).

            Inilah tugas yang diemban gereja. Pagi hari ini kita akan berbicara mengenai panggilan hidup kristiani.

           Membaca Firman Tuhan: Matius 5:13-16.

Bahasan (Eksposisi)

            Untuk memahami pangilan hidup kita sebagai orang percaya, maka terdapat tiga hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:

1.      Memahami Panggilan dan Tanggungjawab Kita (ay. 13a; 14a).

Tuhan secara langsung menyebut orang percaya sebagai “Garam Dunia” dan “Terang Dunia.” Itu berarti kita dipanggil dengan tugas dan tanggungjawab tertentu dalam kehidupan kita di dunia ini.

Inilah tujuan panggilan dan jalan hidup seorang kristiani: Kristus memanggil gereja-Nya (Saudara dan saya) dari dunia (Yoh. 15:19), menguduskan mereka (Yoh. 17:19), kemudian mengutus mereka kembali ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Tetapi mereka tidak boleh serupa dengan dunia (Rm. 12:2), melainkan menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-14).

Seperti garam yang mampu mencegah pembusukan, kita dipanggil dan diperlengkapi untuk mencegah dunia dari pembusukan—pembusukan moral, agama, ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Kebenaran Injil bukan hanya berkaitan dengan hal-hal rohani, karena Injil adalah kebenaran Allah yang menyelamatkan manusia dan mengubah hidupnya, maka berita Injil juga mengubah hal-hal yang keliru di dalam sistem kerja dunia. Manusia yang diperbaharui di dalam Kristus mengalami perubahan dalam hidupnya dan mempengaruhi kinerja dalam profesinya di dalam dunia (mis. Ef. 4:28).

Garam hanya disebut garam ketika memberi rasa dan bermanfaat. Demikian juga terang, terang hanya dapat disebut terang ketika cahayanya dapat befungsi menerangi sekelilingnya. Dengan kata lain, menjadi garam dan terang dunia berarti: “Menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri ” (Yak. 1:22).

“Ketika gereja melupakan identitasnya (garam dan terang dunia)dan berhenti mempraktikan identitas itu dalam berbagai cara dalam kehidupannya, maka sarana utama yang telah Allah pilih untuk membawa kesaksian tantang kasih, rahmat dan keadilan Allah akan tersesat dan lumpuh.” (Mark Labberton).

Itu sebabnya Tuhan Yesus memberikan dua peringatan agar jangan sampai “garam” kita menjadi “tawar” dan “terang” kita menjadi gelap (Mat. 6:23), jangan sampai kehidupan kita sama dengan dunia—yang berakibat pada “dibuang dan diinjak orang” (ay. 13).

Bapak-Ibu, Jemaat Tuhan, kita dipanggil untuk menjadi Garam dan Terang dunia, wakil-wakil Kristus yang memberikan kesaksian bagi dunia. Kita tidak dapat disebut Kristen tanpa menjadi garam dan terang dunia. Sebaliknya, dengan menjadi garam dan terang dunia kita membuktikan buah dari iman kita sebagai seorang pengikut Kristus.

Siap menjadi barkat dan saksi Kristus Bapak-Ibu? Siap menjadi garam dan terang bagi dunia?

2.      Memahami Tempat Kita Menjadi Garam dan Terang (ay. 14b-16a)

Tuhan menempatkan kita pada dua tempat, “di atas gunung” (ay. 14) dan “di atas kaki dian” (ay. 15) dengan dua tujuan:

Tujuan pertama, agar  “menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (ay. 15b) Tempat pertama dimana Tuhan menghendaki agar kita menjadi terang atau berkat adalah di dalam Rumah kita! Sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai keponakan, atau kerabat, kita berusaha sedapat mungkin untuk menjadi terang/berkat bagi keluarga kita terlebih dahulu.

Sebelum kita menjadi terang/berkat di gereja, kantor, kampus, sekolah, dan lingukangan sekitar, kita pertama-tama dipanggil untuk menjadi garam dan terang di dalam rumah kita.  Amin? Apakah sudah tergenapi Bapak-Ibu? Kalau sudah, kiranya dapat ditingkatkan, dan jika belum, mari perbaharui dan membangun komitmen untuk saling membangun dan menjadi berkat di dalam keluarga kita.

Tujuan kedua, agar bercahanya “di depan orang“. Setelah dari keluarga, barulah kita dapat menjadi terang/berkat bagi orang lain. Teman-teman kita di gereja, di rumah, di kantor, di sekolah, dll.

Sudahkah kita menjadi garam dan terang di rumah? Ataukah kita menjadi api yang menghanguskan seisi rumah?

3.      Memahami Tujuan Akhirnya (ay. 16b; Yoh. 15:8)

Tujuan panggilan kita menjadi garam dan terang dunia adalah agar: “Orang lain mengenal dan mempermuliakan Bapa di surga.”

Bapak-Ibu, Jemaat Tuhan, tujuan dari pelayanan kristiani adalah untuk membawa orang datang kepada Bapa dan mempermuliakan-Nya. Maka hendaknya kita perhatikan dan renungkan dengan serius: Apakah khotbah, kesaksian, pelayanan, dan semua kebaikan dalam kehidupan kita mempermuliakan siapa?

Jika semua yang kita lakukan, bahkan dalam kegiatan yang paling rohani sekali pun namun tanpa disadari sementara meninggikan dan menunjukkan siapa kita, maka kita perlu waspada! Kita tidak sedang melayani dan meninggikan Tuhan namun sementara melayani dan meninggikan diri sendiri.  

Bapak-Ibu, dalam saya sering merenungkan antara panggilan sebagai hamba Tuhan dan gelar akademik yang disandang. Sebagai hamba Tuhan kita mungkin saja memiliki gelar yang panjang di depan dan dibelaknag nama kita, namun pada akhirnya status sebagai “hamba” itu membuat kita menyadari bahwa tidak ada yang bisa kita banggakan, semua karena anugerah, maka kiranya semua yang Tuhan percayakan kepada kita dapat digunakan semaksimal mungkin untuk membawa orang mengenal dan memuliakan Tuhan. 

“Ia Harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”—Yoh. 3:30.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tnah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yag melimpah-limah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”—2 Kor. 4:7.

            Bapak-Ibu, Jemaat Tuhan, tujuan akhir dari semua aktivitas pelayanan dan kehidupan kita haruslah bermuara untuk membawa orang mengenal Allah dan mempermuliakan-Nya. Inilah tujuan panggilan kita sebagai garam dan terang dunia.

Kesimpulan

§  Menjadi seorang pengikut Kristus berarti bersedia menjadi garam dan terang/ menjadi berkat bagi dunia.

§  Tuhan menempatkan kita menjadi garam dan terang dimulai dari rumah kemudian ke dunia luar.

§  Tujuan akhir dari pelayanan kita sebagai garam dan terang dunia adalah membawa orang kepada Tuhan dan mempermuliakan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita, Amin!

Jumat, 24 Desember 2021

 





Supremasi Nama Yesus Menurut Injil Matius 1:18-25:
Sebuah Analisis Teologis dan Reflektif

 

~Yosep Belay~

 

Pendahuluan

            Apa jadinya jika suatu objek tidak memiliki nama? Pasti akan timbul kesulitan-kesulitan dalam proses komunikasi. Nama memainkan peran penting dalam hubungan sosial sehingga manusia perlu mengetahui dan menamai suatu objek sebagai permulaan dalam membangun komunikasinya. Di dalam kebudayaan manusia, penamaan suatu objek dikaitkan dengan karakteristik objek tersebut sehingga nama selalu mewakili substansi dari suatu objek. Demikian juga ketika suatu nama dipilih dan dikenakan bagi seseorang hal ini berdampak pada terpolanya suatu karakteristik dan harapan-harapan yang melekat pada orang tersebut. Nama menyangkut eksistensi dan harapan-harapan yang sakral dari generasi sebelum kita sehingga perlu dijaga dan tidak untuk dilecehkan. Hal ini secara khusus terlihat begitu kuat dalam tradisi masyarakat Indonesia seperti di daerah Timur (Maluku, NTT, Irian Jaya) dan sebagain pada tradisi budaya masyarakat Indonesia bagian Barat (mis. Batak) yang mewariskan nama keluarga (fam—family name) sebagai kebangaan yang mengikat suatu kelompok klan pada suku-suku dalam suatu komunitas masyarakat.

            Dalam tradisi budaya Yahudi hal ini juga dijumpai, misalnya sebutan “Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune” (Bil. 14:6. Lih., penulisan nama dan keturunan dalam Kitab Bilangan) menggambarkan hal ini. Tradsi ini dipraktikkan dan pertahankan secara vertikal dari garis keturunan Yakub. Masing-masing keturunan diidentifikasikan menurut nama dari dua belas anak Yakub yang kemudian menjadi dua belas suku Israel. Nama-nama anak-anak Yakub tersebut terus berkembang menjadi family name pada generasi selanjutnya. Dalam Alkitab nama adalah hal yang sangat penting dan sakral. Nama-nama diberikan untuk menunjukkan keberadaan eksistensial dari suatu objek. Beberapa diantaranya juga diberikan dengan tujuan untuk mengingat keturunan sebelumnya (Kej. 4), sebagai jaminan mengenai janji Tuhan yang kelak akan digenapi (Kej.  17:5, 15), untuk mengenang perbuatan-perbuatan/anugerah Tuhan (Kej. 29-30), atau juga untuk mengenang peristiwa yang pahit dalam hidup (Rut 1:20). Lebih jauh secara filosofis bentuk penamaan ini sudah dimulai semenjak penciptaan. Dalam Kitab Kejadian, Adam diperintahkan oleh Tuhan untuk menamai binatang-binatang untuk mengungkapkan keberadaan mereka: “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan  dan segala burung di udara.  Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk  yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu” (Kej. 2:19).[1] Hal ini berlaku untuk nama setiap makhluk, sama halnya bagi Nama Tuhan yang sakral.

            Dalam Alkitab sampai dngan zaman Musa, Tuhan hanya disebut sebagai "Allah" atau Elohim. Dia juga disebut El Shaddai, atau “Allah Yang Mahatinggi.” Namun, ketika Musa bertemu dengan-Nya di semak yang terbakar, untuk pertama kalinya Ia mengucapkan Nama-Nya: YHWH, yang berarti “Aku adalah aku,” “Aku akan menjadi apa adanya,” atau hanya, "Aku."[2] Di zaman kuno karena kudusnya nama tersebut maka orang Yahudi tidak pernah menyebut Nama Kudus itu. Ketika Nama Tuhan ditulis alih-alih mengatakan "Yahweh," pembaca akan mengganti dengan sebutan “Adonai,” yang berarti "Tuhan." Penggunaan nama di dalam Alkitab sangat penting sehingga Hopko menjelaskan,

Why was naming so important in the ancient world? Because to know the name meant to know the person or thing the name referred to. To have a person’s name was, in a sense, to have him. When one knew a person’s name, one came to have power in relation to him. When God gives us His Name, then, He gives Himself to us as well, and yet it is a Name so holy that we dare not say it and take possession of Him.[3]

            Mengenal nama berarti mengetahui orang atau benda yang dimaksud dengan nama itu. Memahami/mengenal nama seseorang dalam arti tertentu, sama dengan memilikinya. Ada relasi yang terjalin secara psikologis dalam pengetahuan tentang sebuah nama. Karena nama seseorang berkaitan dengan relasi dan otoritas, maka sering kali nama seseorang digunakan sebagai bentuk legitimasi terhadap otoritas tertentu. Misalnya di dalam formula Baptisan, nama Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi materai yang mensahkan baptisan (Mat. 28:19). Atau dalam kaitannya dengan keselamatan, nama Yesus Kristus menjadi sentral karena hanya melalui nama-Nya, manusia diselematkan (Kis. 4:12) dan semua makhluk bertekuk lutut (Fil. 2:10). Dalam konteks ini, nama merujuk pada Pribadi yang menyandangnya sehingga meskipun dalam konteks masyarakat Yahudi abat pertama, banyak yang menyandang nama “Yesus,” namun hanya “nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu” (Kis.  3:6) yang memiliki kuasa dan otoritas Allah. Seperti yang akan dijabarkan penulis, nama Yesus mengindentifikasikan supremasi-Nya sebagai Allah yang telah datang menyapa umat manusia.

Supremasi Kristus Pada Prolog Injil Matius

            Supremasi Kristus selalu menjadi daya tarik pada semua kitab dalam Alkitab dengan berbagai gendrenya. Tidak seperti biasanya, dalam tulisan ini penulis hendak mengkaji supremasi Kristus menggunakan narasi Matius khususnya pada bagia pendahuluannya. Berbandig terbalik dengan pendekatan umum para teolog yang menggunakan narasi Injil Yohanes atau pun surat-surat Paulus yang sangat powerfull menyangkut kristologi tinggi. Meski demikian, Injil Matius juga mengemukakan gagasan kristologi tinggi yang unik dengan pesan yang mendalam, kuat dan menyeluruh menyangkut supremasi Kristus sehingga pantas untuk diberi perhatian khusus. Jika Yohanes dan Paulus menyajikan gagasan supremasi Kristus dengan pendekatan teologi-filosofis yang tinggi, Matius justru cenderung membumi dengan gaya bahasa sederhana dengan penekanan yang kuat pada penggenapan nubuatan PL dan implikasinya pada realitas kuasa dan kedaulatan Kristus. Matius menyajikan Pribadi Kristus yang sederhana sekaligus berdaulat dan berkuasa. Supremasi Kristus ditampilkan dalam perspektif paradox sehingga pembaca dapat menemukan kesederhanaan sekaligus kemuliaan-Nya dalam narasi Injil Matius seperti yang dikatakan Henry, “Perjanjian Lama diawali dengan kitab tentang garis penciptaan dunia, dan itulah kemuliaan kitab Perjanjian Lama. Namun kemuliaan di dalam kitab Perjanjian Baru jauh melampaui itu, karena diawali dengan kitab mengenai garis silsilah dari Dia yang menciptakan dunia!”[4]  

            Silsilah yang dicantumkan oleh para penulis Injil memiliki pesan khusus. Dalam perspektif pembaca modern, daftar nama keturuan kuno ini seringkali dilewati. Akan tetapi “daftar nama” itu merupakan bagian penting dari laporan Injil. Silsilah itu menunjukkan bahwa Yesus adalah bagian dari sejarah; bahwa seluruh sejarah Yahudi merupakan persiapan bagi kelahiran-Nya.[5] Seperti gendre sastra sejarah pada umumnya di abat pertama, Matius memulai Injilnya dengan penekanan yang kuat pada silsilah keturunan Kristus sebagai pembuktian akan otentisitas dan supremasi-Nya sebagai Mesias. Penekanan pada silsilah Kristus ini hendak mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan mengenai otoritas Kristus sebagai Mesias di kemudian hari.[6] Bukan hanya itu Injil ini memiliki keunikan tersendiri karena,

Matthew opens his Gospel by showing both Jesus' historic inseparability from the history of Israel and his inseparability from the Gentile mission already implicit in that history. He does this by listing Jesus' ancestors who evoke Israel's rich Old Testament heritage and by listing four Gentiles in Jesus' ancestry who came to participate in that heritage.[7]

            Matius memulai Injilnya dengan menghubungkan silsilah Kristus pada sejarah Israel, kedatangan Mesias dari keturunan Abraham dan Daud sebagai dua tokoh sentral PL yang menerima janji yang berkaitan dengan Sang Mesias. Di abat pertama, Abraham dan Daud merupakan wali utama atas janji-janji Allah bagi umat Israel. Janji tentang berkat diberikan kepada Abraham dan keturunannya sementara mengenai kekuasaan diberikan kepada Daud dan keturunannya.[8] Kristus merupakan Sang Keturunan yang menggenapi kedua janji berkat serta pemerintahan Allah tersebut. R.T. France kembali menegaskan hal ini bahkan dengan penekanan yang lebih seksama pada tokoh Yesus Kristus sebagai tokoh sejarah, sekaligus menekankan penggenapan nubuatan mengenai Mesias sebagai pembebas bagi Umat Israel,

The prominent repetition of the title “Messiah” (or, in many English versions, “Christ”) in 1:1, 16, 17, 18; 2:4, together with the other related titles which recur in these opening paragraphs of the gospel (“Son of David,” 1:1, 20; “King of the Jews,” 2:2), make it clear that Matthew is aiming to present an account not just of a historical figure (Jesus of Nazareth) but of the long-awaited deliverer of God’s people Israel.[9]

            Hal ini memperlihatkan bahwa supremasi Kristus benar-benar ditonjolkan dalam narasi pembuka Injil Matius. Meski demikian, Matius juga melibatkan empat tokoh wanita non Yahudi sebagai konfirmasi karya-Nya yang universal sekaligus terkesan “buram” karena status dari keempat wanita ini yang dua diantaranya orang asing, dan dua lagi sebagai pezinah. Matius tanpa ragu memasukkan nama-nama mereka secara eksplisit untuk menunjukkan kuatnya pesan Injil Kristus bahwa, “Ia menanggung keadaan dalam daging yang dikuasai dosa (Rm. 8:3), dan bahkan membawa orang-orang yang paling berdosa ke dalam hubungan yang paling dekat dengan-Nya ketika mereka bertobat.”[10] Matius merombak pemahaman Yudaisme yang cenderung eksklusif dan merendahkan wanita, sekaligus menekankan kasih Allah yang radikal bagi mereka yang terpinggirkan dengan dosa-dosa yang paling hina di dalam pelayanan Kristus sejak semula. Pesan sentral lainnya dijelaskan dengan sangat baik oleh Schreiner bahwa Matius hendak menunjukkan bahwa, “Yesus menggenapi apa yang dinantikan dalam PL: berkat bagi semua bangsa”[11] sebagaimana yang diserukan pada akhir Injil Matius untuk menjadikan semua Bangsa murid-Nya (Mat. 28:19).

            Matius kemudian menutup prolog bagian pertamanya dengan rangkuman mengenai tiga kelompok generasi yang masing-masing terdiri dari 14 nama. Rangkuman ini bukan tanpa tujuan, Matius memberi pesan implisit pada penekanan angka 14 yang berhubungan dengan jumlah seluruh huruf Ibrani dalam nama “Daud”: daleth = 4; waw = 6; daleth = 4[12] untuk mempermudah pembacanya mengingat daftar-daftar keturunan itu,[13] sekaligus menekankan kesempurnaan silsilah saat penggenapan Kristus sebagai keturunan Daud sebagai Sang Raja yang akan datang. Penekanan penting lainnya juga terdapat dalam ayat 16, dimana Matius menekankan asal-usul keilahian Kristus, “Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Kristus dilahirkan dari Ibu Insani tanpa melibatkan Ayah insani.[14] Penekanan mengenai keilahian Kristus semakin ekplisit ketika dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya mengenai kelahiran Tuhan Yesus. Sebagaimana yang juga ditegaskan oleh Dale C. Allison,

The story opens with Mary betrothed to Joseph; they do not yet live together as man and wife. But Mary is with child ‘of the Holy Spirit’. One might think of a new creation (cf. MT 1:1), for creation was the work of the Spirit (Gen 1:2), or perhaps of the traditional link between the Spirit and messianic times (e.g. Isa 44:3–4). But the main point is that Jesus has his origin in God, in fulfilment of a prophecy, Isa 7:14.[15]

            Kuatnya narasi Matius mengenai supremasi Kristus ini mendorong Spurgon memuji Injil Matius dan dengan penuh hormat mengatakan,

This verse gives us a clue to the special drift of Matthew's gospel. He was moved of the Holy Spirit to write of our Lord Jesus Christ as King—" the son of David." He is to be spoken of as specially reigning over the true seed of Abraham; hence he is called " the son of Abraham." Lord Jesus, make us each one to call thee, "My God and King!" As we read this wonderful Gospel OF THE Kingdom, may we be full of loyal obedience, and pay thee humble homage! Thou art both a King and a king's Son”[16]

Spurgeon memandang Injil Matius sebagai Injil Kerajaan yang menekankan supremasi Kristus sebagai Sang Mesias yang dijanjikan dan yang telah datang bagi kita. Seruan kebenaran yang menggema pada momen Natal yang mendorong kita untuk dengan rasa hormat dan sukacita menghampiri dan berseru kepada-Nya, "My God and my King!"

Supremasi Kristus: Pra Inkarnasi—Sejarah yang Bukan Kaleng-Kaleng

            Pergumulan Yusuf dan Maria di masa-masa transisi pra inkarnasi Kristus menjadi momen yang krusial dalam sejarah penebusan. Di masa ini Yusuf dan Maria berada dalam fase bertunangan (fase kedua dalam tradisi Yahudi sebelum perkawinan. Fase pertama, perjanjian/saling berjanji, kedua pertunagan, ketiga perkawinan).[17] Pergumulan itu bukan hanya menyangkut besarnya resiko yang mereka tanggung, namun juga secara eksplisit mengungkapkan keyakinan mereka terhadap kebenaran penggenapan nubuatan mengenai Sang Mesias. Keterandalan pesan Allah mengenai janji kedatangan Sang Mesias melalui keturunan mereka, sekaligus memberikan konfirmasi bagi para pembaca modern bahwa kisah tersebut bukan sebuah kisah kaleng-kaleng namun berakar kuat pada  narasi historis.

            Pesan penting dari landasan historis ini berangkat dari peneguhan mengenai berita sukacita yang dikonfirmasi secara langsung oleh malaikat Tuhan, baik kepada Yusuf (Mat. 1:10-24) maupun kepada Maria (Luk. 1:26-38). Konfirmasi dua arah ini menjadi penegasan penting bahwa wahyu yang disampaikan teruji oleh si pembawa (malaikat Tuhan) dan dua penerima (Yusuf dan Maria) sebagai konfirmasi akan Sang Anak yang akan dikandung Ibu Maria kelak. Otoritas kebenaran pesan Allah diteguhkan oleh tiga pihak yang bertindak sebagai saksi sekaligus: Allah (yang diwakili oleh malaikat-Nya), Yusuf dan juga Maria. Peneguhan ini juga dikonfirmasi kembali dengan nubuatan nabi Yesaya pada tujuh ratus tahun sebelumnya (Yes. 7:14; 9:6. Bdk. dgn. 2 Sam. 7:12-13) sehingga kelahiran Kristus merupakan penggenapan sejarah penebusan yang luar biasa. Penekanan pada unsur justifikasi kesaksian PL, “kesaksian dua orang adalah sah” (Yoh. 8:17; 2 Kor. 13:1) terlihat disini untuk menegaskan kebenaran momen inkarnasi Kristus. Momen inkarnasi itu benar-benar direalisasikan dalam ruang dan waktu sejarah dan terbukti secara sah dan meyakinakan.

            Kekuatan narasi dan pembuktian yang dikemukakan oleh Injil Matius memberikan penegasan akan supremasi berita yang Matius sampaikan. Kebenarannya teruji karena dikonfirmasikan langsung dari empat saksi, Allah/malaikat Tuhan, nubuatan pada Nabi, Yusuf dan Maria. Pesan ini kemudian menjadi semakin jelas saat pelayanan dan misi Sang Mesias mulai dijalankan. Serangkaian tanda dan mukjizat kemudian mengkonfirmasi penegasan awal berita dari Injil Matius sehingga sangat powerfull. Penekanan narasi ini juga membedakan Injil Matius dengan narasi-narasi pagan pada zaman itu yang tidak memiliki dasar historis dan tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya, termasuk tuduhan kelahiran dari anak dara yang diadopsi dari paganisme Yunani-Romawi. Mengenai hal ini Evan menegaskan, however, that early Jewish Christians, including the evangelist Matthew, would present Jesus in pagan garb. Jewish teachers were highly critical of pagan morals and myths. The idea of gods and goddesses having sexual relations with mortals was repugnant. [18] Suatu kejijikan jika Matius mengadopsi gagasan pagan untuk mengenakannya pada Kristus. Penegasan berita Matius berangkat dari kedaulatan serta kuasa Roh Kudus, The Jews specially connected the Spirit of God with the work ofcreation… The Spirit is the Creator of the World and the Giver of Life. So, then, in Jesus there came into the world God’s life-giving and creating power,[19] dan penggenapan nubuatan PL yang merupakan presuposisi Matius sehingga tidak ada celah bagi kemungkinan tersebut.

            Kemudian dalam proses rekonstruksi pesan, sebagai sejawawan Matius dengan jeli menggunakan sumber-sumber primer dari Sang Guru untuk merekonstruksi karya Kristus secara topikal, As noted above, ancient biographers often arranged their material topically; a good disciple could also arrange his teacher's sayings for relevance to the issues that he felt compelled to address,[20] termasuk dalam hal kelahiran Kristus. Kekuatan narasi historis Matius memberikan landasan yang sangat kuat bagi keyakinan historis dan teologis akan inkarnasi Kristus. Dalam konteks ini, peristiwa Natal benar-benar menghantarkan kita pada perjumpaan dengan Sang Juruselamat dalam ruang dan waktu sejarah. Sang Juruselamat yang dinamakan Yesus dan juga Imanuel.

Supremasi Kristus: “engkau akan menamakan Dia Yesus

            Sama seperti nama-nama dalam komunitas Yahudi pada umumnya, nama Yesus tidaklah begitu spesial pada abat pertama. Nama ini digunakan secara umum pada komunitas Yahudi[21] sehingga penyebutan nama Yesus perlu ditambahi keterangan seperti “Yesus Barabas” atau “Yesus yang disebut Kristus” (Mat. 27:17) agar menjadi jelas pribadi mana yang sementara dirujuk.  Meski demikian, ketika nama tersebut disandang oleh “Yesus yang disebut Kristus” atau “Yesus orang Nazaret” maka nama tersebut kemudian sangat berbeda karena memiliki kuasa dan otoritas yang melekat pada Pribadi penyandangnya. Popularitas penggunaan nama “Yesus” mungkin disebabkan karena terdapat hubungannya dengan salah satu nama pemimpin besar Israel, Yosua bin Nun. Akan tetapi di abat selanjutnya, baik orang Yahudi dan orang Kristen berhenti menggunakan "Yesus" sebagai nama untuk anak laki-laki mereka. Orang-orang Yahudi melakukannya karena berhubungan erat dengan Kekristenan yang sangat mereka benci. Sementara orang-orang Kristen menolak menggunakan nama “Yesus” untuk alasan yang berlawanan; karena nama itu terlalu istimewa dan dihormati.[22]

            Dalam penyebutan nama-Nya, kemungkinan besar ketika Maria dan Yusuf berbicara dengan putra mereka, mereka menggunakan bahasa asli mereka bahasa dan memanggil-Nya "Yeshua" atau "Joshua." Jika mereka menggunakan bahasa perdagangan Yunani, maka mereka memanggil Dia “Yesus,” karena seperti yang kita catat sebelumnya, “Yesus” adalah bentuk Yunani dari nama Ibrani “Josua.” Nama ”Yosua” adalah singkatan dari ”Jehoshua”, yang berarti ”Yahweh Juruselamat.” Sebenarnya, nama asli Joshua adalah “Hoshea,” berarti "keselamatan," dan diubah menjadi "Jehoshua" atau "Joshua" oleh Musa, mungkin ketika dia mengirimnya untuk memata-matai tanah di Kadesh-barnea (Bil. 13:16). Nama “Yesus/Joshua” diambil dari kata kerja Ibrani yasha yang berarti “diselamatkan.” Penggunaan pertama kali kata kerja ini dalam Kitab Suci merujuk pada benih doktrin keselamatan (Kel. 14:30). Keselamatan Israel di sana didefinisikan dalam hal penghancuran tentara Mesir di Laut Merah yang kemudian menjadi tipologi dari puncak keselamatan manusia dari dosa yang disediakan oleh Yesus di kayu salib,[23] By naming him Ἰησοῦς, Joseph will be making a statement about Jesus’s redemptive mission: “He will save his people from their sins.”[24] Seperti arti nama-Nya, misi dan karya Kristus mengungkapkan identitas-Nya sebagai Allah yang telah datang dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa, In Matthew, sin (ἁμαρτία, hamartia) is confessed by those whom John baptizes and is forgiven by Jesus (3:6; 9:2, 5, 6; 12:31; 26:28). Forgiveness is accomplished by Jesus’s gift of himself as a ransom for sinners in sacrificial death, as exemplified in the elements of the Last Supper (20:28; 26:26–30).”[25]

            Secara etimologis nama Yesus memiliki kaitan erat dengan nama Yosua. Hal ini bukan hanya mengenai persoalan kesamaan nama dan artinya, namun terdapat pesan teologis yang sangat dalam yang juga merujuk pada pola pelayanan kedua tokoh tersebut.  Thomas Hopko memberikan penjelasan mengenai hal ini dengan sangat baik,

This Old Testament account finds fulfillment in the New Testament. As Joshua son of Nun entered with the people of Israel into the Jordan River and placed twelve stones in the water to signify the twelve tribes, so too Jesus son of Mary is baptized in the Jordan and takes on twelve apostles to signify the twelve tribes of the new Israel of God—the Church. Joshua searched out the land with the help of the prostitute Rahab, whose life was saved as a result by the sign of a scarlet cord tied in her window (Josh. 2:18), which some of the Holy Fathers read as an allegory of sinful humanity saved by the blood of Christ. Joshua conquered Jericho and the sun stood still (Josh. 10:13), which the Orthodox conquered Jericho and the sun stood still (Josh. 10:13), which the Orthodox liturgical tradition contrasts with the earth standing still at the birth of Christ. In short, the name and life of Joshua is evoked and fulfilled in the name and life of Jesus of Nazareth, who is God’s own salvation—not just for Israel, but for the entire human race. God gives Mary’s child the name of Jesus, therefore, to teach us to contemplate Him first and foremost in the light of the foundational Old Testament narratives of Moses, Joshua, the crossing of the Jordan, and the entrance into the Promised Land. The Joshua of old was a prefiguration, a “type” (typos) of Him who was to come, the One who was the real embodiment of God’s salvation. Moses and the Law could not save us. Moses himself, great as he was—the man who spoke to God face-to-face, stood at the mercy seat, received the commandments, led the people—did not cross the Jordan. He did not enter the Promised Land, the land of the living. He died and was buried in Goshen. This point is literally flaunted in the Old Testament to remind us that nobody can keep the Law, not even Moses and Aaron. If they could have kept God’s commandments, the Scriptures state clearly that they would never have died. However, neither Moses nor Aaron could be perfectly obedient, and so they fell before God and died. Only Jesus of Nazareth, the new Joshua, cannot die, because he keeps the Law perfectly and totally. Therefore, He enters into the real Promised Land, the real land of the living, which is the Kingdom of heaven, the Kingdom that will fill heaven and earth when Jesus comes in glory and every knee on earth will bow before Him and glorify His Name.[26]

            Hopko dengan penuh kekaguman melihat kesejajaran tipologis dari pelayanan Yosua dan Musa dengan Kristus. Puzzle yang samar-samar dalam pelayanan Yosua dan Musa dalam momentum penyelamatan Allah bagi Umat Israel di PL, menjadi jelas saat penggenapannya di dalam Pribadi dan Karya Yesus Kristus di PB. Allah bukan hanya membuka mata kita melalui perjalanan panjang sejarah penyelamatan umat Israel di PL, tetapi Ia juga memecahkan kebuntuan dan ketulian dunia modern ketika nama Yesus diserukan!—Nama yang menghubungkan kita dengan janji yang Ia nyatakan di dalam PL dan yang dimanifestasikan pada pelayanan Yosua dan Musa. Seperti Yosua yang telah membawa umat Israel PL untuk masuk ke tanah perjanjian sebagai tipologi Kristus, maka demikian pula Yesus Kristus telah membawa umat-Nya untuk memasuki “tanah perjanjian Sorgawi.” (Yoh. 14:1-6; Ibr. 9:28). Di dalam nama Yesus, keselamatan Allah dinyatakan (Kis. 4:12). Kemuliaan, kasih dan anugerah-Nya yang besar dipertontonkan bagi dunia dalam momentum Natal dan Paskah! Sebagaimana yang juga dengan penuh rasa kagum dikemukakan Spangler,

Jesus is the personal name of the One we call Redeemer, Lord, and Christ. His name is intimately linked to the God of the Hebrew Scriptures because the name Yeshua means “Yahweh is salvation.” Indeed, Jesus is Yahweh come to earth. If you have ever pictured God as a distant, wrathful Being, you will have to reconsider that portrait in light of Jesus Christ, who is God bending toward us, God becoming one of us, God reaching out in mercy, God humbling himself, God nailed to a cross, God rising up from the grave to show us the way home. Jesus, name above all names, beautiful Savior, glorious Lord![27]

            Nama Yesus dalam relasi iman Kristen bukan sekedar nama biasa. Nama itu begitu mulia sehingga dalam segala keadaan, kita menyerukan nama-Nya. Dalam doa-doa kita meminta di dalam nama-Nya (Yoh. 16:23), dalam puji-pujian dan ucapan syukur juga di dalam nama-Nya (Ef. 5:20), dalam pergumulan hidup yang berat, kita memohon pada-Nya (Mat. 8:23), dan bahkan diakhir hidup kita, kita berseru seperti Stefanus “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku!” (Kis. 7:59). Yesus adalah segalanya-galanya bagi kita. Ia adalah Imanuel—Allah yang menyertai umat-Nya sepanjang zaman (Mat. 1:23; 28:20). Nama yang terlampau mulia ini telah menggerakkan Rasul Paulus sehingga dengan penuh keyakinan ia menyerukan, Yesus! “nama di atas segala nama…dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil.2:9-11).

Penutup

            Ketika berita sukacita Natal itu sampai kepada Maria dan Yusuf, identitas Sang Juruselamat telah dipersiapkan dalam nama Yesus. Dalam nama itu, Pribadi dan karya-Nya sekaligus dinyatakan. Penekanan pada dua natur Kristus begitu eksplisit, demikian halnya dengan keilahian-Nya. Prolog Injil Matius mengemukakan perspektif Kristologi tinggi yang sangat kuat. Pesannya begitu eksplisit sehingga dalam konteks Yudaisme abat pertama mampu meletakkan dasar Kristologi yang tak tergoncangkan. Tak lupa, karya Allah Tritunggal juga secara eksplisit dikemukakan, mulai dari kelahiran, pembaptisan Kristus hingga diakhir pelayanan-Nya yang dirangkum dalam forma baptisan amanat agung, “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

            Supremasi Sang Penebus yang dinyatakan dalam nama Yesus Kristus kiranya menjadi refleksi penting bagi kita menjelang Natal tahun ini. Yesus Kristus adalah Allah yang  bukan hanya telah datang dan menyelamatkan, namun juga Allah yang menyertai kita. Tanpa anugerah keselamatan dari-Nya, kita semua binasa, namun tanpa penyertaan yang sempurna dari-Nya, kita pun akan kembali terhilang. Sehingga Yesus Kristus haruslah Allah yang menyelamatkan dan Allah yang menyertai kita sepanjang perjuangan hidup di dalam dunia. Inilah kebenaran Allah yang dinyatakan di dalam Kristus, dan secara khusus di dalam Injil Matius. Soli Deo Gloria!

Selamat Natal 25 Desember 2021 dan tahun baru 2022, damai dan sukcatia dari Sang Penebus kiranya menyertai kita. Amin!

 

Daftar Pustaka

Barcley, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari, pen., S. Wismoady Wihono (Jakarta: BPK      Gunung Mulia, 2015.

Barclay,  William, The Gospel Of Matthew Volume 1: Chapters 1 To 10. Philadelphia,The             Westminster Press, 1975.

Barker, Chris dan Emma A. Jane, Kajian Budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2021.

Evans, Craig A., Matthew. Cambridge: Cambridge University Press, 2012.

France,  R.T., The Gospel of Matthew. Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 2007.

Henry, Mathew, Tafsiran Mathew Henry: Injil Matius 1-14. Diterjemahkan oleh Lanny      Murtihardijana, dkk.             Surabaya: Momentum, 2014.

Hopko, Thomas, The Names of Jesus: Discovering the Person of Jesus Christ through Scripture.   Chesterton: Ancient Faith Publishing, 2010.

Keener, Craig S., A Commentary On The Gospel Of Matthew. Grand Rapids: Eerdmans    Publishing, 1999.

Muddiman, John and John Barton (ed.), The Oxford Bible Commentary: The Gospels. Great         Clarendon Street: Oxford University Press, 2001.

Schreiner, Thomas R., New Testament Theology: Memuliakan Allah dalam Kristus.            Diterjemahkan olej Jhony The. Yogyakarta: Andi, 2015.

Spangler, Ann, Immanuel: Praying The Names Of God Through The Christmas Season. Grand     Rapids: Zondervan, 2009.

Spurgeon, C. H., The Gospel Of The Kingdom: A Popular Exposition Of The Gospel According    To Matthew. New York: The Baker & Taylor, 1893.

Towns, Elmer L., The Names of Jesus: Over 700 Names of Jesus to Help You Really Know the      Lord You Love. Lexington: Accent Publishing, 2000.

Turner, David L., Matthew. Grand Rapids: Baker Academic, 2008.

Wiersbe, Warren W., Seri Tafsir Matius. Loyal Di Dalam Kristus: Mengikuti Raja Segala Raja.     Diterjemahkan oleh Deddy Jakobus. Bandung: Kalam Hidup, 2012.

Zuck, Roy B., dan Darell L. Bock (ed.), A Biblical Theology Of The New Testament.         Ditejemahkan oleh Paulus Adiwijaya. Malang: Gandum Mas, 2011.

 



                [1]Dalam wacana filosofis khususnya pada mazhab post-strukturalisme, penamaan demikian dipandang sebagai bentuk kekerasan dan usaha menguasai suatu objek tertentu (will to power dalam terminologi Nietzche)  karena penamaan itu menempatkan benda/pribadi sebagai objek dan si pemberi nama sebagai subjek yang terkesan superior sebagaimana kritik Nietzsche dan Foucault (Lih. Chris Barker dan Emma A. Jane, Kajian Budaya [Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2021], 35). Meski demikian, asumsi ini merupakan usaha bunuh diri filosofis karena bagaimana pun, kedua filsuf tersebut juga terjebak dalam “lingkaran penamaan” ini dengan cara mengunakan nama-nama dari objek tertentu yang sudah dari sononya memang demikian (Saussure dan Derrida mengakui hal ini). Manusia secara alamiah dan intuisi logisnya dirancang Allah dan diberi mandat untuk melestarikan alam, ditata dan dipelihara (mandat budaya). Hal ini dimulai dengan penamaan objek seperti yang Adam lakukan. Oleh karena itu penamaan terhadap suatu objek dalam konteks Alkitab bukan untuk tujuan menguasai namun sebagai unsur pembeda dalam usaha untuk menciptakan relasi komunikasi sosial yang teratur dan terpelihara baik dalam hubungannya dengan Allah, dirinya, sesama dan alam semesta.

                [2]Thomas Hopko, The Names of Jesus: Discovering the Person of Jesus Christ through Scripture (Chesterton: Ancient Faith Publishing, 2010 ), 2.

                [3]Ibid.

                [4]Mathew Henry, Tafsiran Mathew Henry: Injil Matius 1-14, pen., Lanny Murtihardijana, dkk (Surabaya: Momentum, 2014), 2.

                [5]Warren W. Wiersbe, Seri Tafsir Matius. Loyal Di Dalam Kristus: Mengikuti Raja Segala Raja, pen., Deddy Jakobus (Bandung: Kalam Hidup, 2012), 21.

                [6]Ibid., 19.

                [7]Craig S. Keener, A Commentary On The Gospel Of Matthew (Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 1999), 88.

                [8]Mathew Henry, Tafsiran Mathew Henry, 2.

                [9]R.T. France,  The Gospel of Matthew (Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 2007), 94.

                [10]Ibid., 5.

                [11]Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Memuliakan Allah dalam Kristus, pen., Jhony The (Yogyakarta: Andi, 2015), 111.

                [12]Roy B. Zuck dan Darell L. Bock (ed.), A Biblical Theology Of The New Testament, pen., Paulus Adiwijaya (Malang: Gandum Mas, 2011), 25. Penulisan demikian merupakan gaya sastra yang lazim pada masa itu yang disebut sebagai gematria (kata serapan dari bahasa Yunani).

                [13]Warren W. Wiersbe, Seri Tafsir Matius, 20.

                [14]Ibid., 21.

                [15]John Muddiman and John Barton (ed.), The Oxford Bible Commentary: The Gospels (Great Clarendon Street: Oxford University Press , 2001), 33.

                [16]C. H. Spurgeon, The Gospel Of The Kingdom: A Popular Exposition Of The Gospel According To Matthew (New York: The Baker & Taylor, 1893), 1.

                [17]William Barcley, Pemahaman Alkitab Setiap Hari, pen., S. Wismoady Wihono (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 28.

                [18]Craig A. Evans, Matthew (Cambridge: Cambridge University Press, 2012), 41.

                [19]William Barclay,  The Gospel Of Matthew Volume 1: Chapters 1 To 10 (Philadelphia,The Westminster Press, 1975), 22.

                [20]Craig S. Keener, A Commentary On The Gospel Of Matthew, 20.

                [21]David L. Turner, Matthew (Grand Rapids: Baker Academic, 2008), 67.

                [22]Elmer L Towns , The Names of Jesus: Over 700 Names of Jesus to Help You Really Know the Lord You Love (Lexington: Accent Publishing, 2000 ), 2.

                [23]Ibid., 3.

                [24]David L. Turner, Matthew, 68.

                [25]Ibid., 67.

                [26]Thomas Hopko, The Names of Jesus, 2. Kutipan ini disertakan penulis dengan lengkap karena bobot penjelasannya sangat baik.

                [27]Ann Spangler, Immanuel: Praying The Names Of God Through The Christmas Season (Grand Rapids: Zondervan, 2009) ,38