Selasa, 21 Desember 2021


 

GPI—IMMANUEL BANDUNG

Ringkasan Khotbah Minggu, 19/12/2021
Tema          : “Memaknai Natal Melalui Nama Sang Penebus”
Nas             : Matius 1:21-23.
Oleh           : Yosep Belay

 

Pendahuluan

            Dalam hubungan komunikasi sehari-hari, kita perlu mengetahui dan menghafal nama-nama, baik nama-nama benda maupun nama-nama orang di sekitar kita. Tanpa mengetahui nama-nama mereka, kita akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi. Nama memiliki peranan penting bukan hanya dalam hal komunikasi tetapi menyangkut maksud-maksud tertentu.

            Bapak-Ibu, jemaat Tuhan, saya kerap kali merenungkan jalan hidup saya yang Tuhan tempatkan di gereja ini. Gereja dengan nama sinode “Gereja Penyebaran Injil” dan secara khusus jemaat lokal kita yang diberi nama “Immanuel.” Saya percaya bahwa kedua nama tersebut bukan hanya diberikan begitu saja, pastilah terdapat visi, doa dan harapan-harapan yang dinyatakan Tuhan bagi para pemimpin kita melalui kedua nama itu. Nama sangat penting…

            Demikian juga penggunaan nama di dalam Alkitab. Dalam Alkitab nama merupakan hal yang sangat penting dan sakral. Nama-nama diberikan dengan maksud-maksud tertentu seperti:

  • ·      Untuk mengingat keturunan sebelumnya (Kej. 4:25—Hawa menamai Set untuk mengenag Habel).
  • ·      Sebagai jaminan mengenai janji Tuhan yang kelak akan digenapi (Kej.  17:5, 15—Tuhan menganti nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sarah).
  • ·      Untuk mengenang perbuatan-perbuatan/anugerah Tuhan (Kej. 29-30; Lea dan Rahel menamakan anak-anak Yakub).
  • ·      Untuk mengenang peristiwa yang pahit dalam hidup (Rut 1:20—Naomi mengganti namanya menjadi Mara). 

            Menjelang kelahiran Kristus, malaikat Tuhan menyampaikan pesan kepada Yusuf dan Maria untuk memberikan nama kepada-Nya. Nama yang diberikan kepada Sang Penebus kita itu memiliki makna yang sangat penting berkaitan dengan momen Natal. Pagi hari ini kita akan  merenungkan makna Natal berkaitan dengan dua nama yang diberikan bagi Sang Penebus tersebut.

Pembahasan (Eksposisi)

Bacaan Nas: Matius 1:18-25.

            Seorang Hamba Tuhan, Mathew Henry memberikan penjelasan yang sangat mengagumkan mengenai prolog Injil Matius. Hanry mengatakan, “Perjanjian Lama diawali dengan kitab tentang sejarah penciptaan dunia, dan itulah kemuliaan kitab Perjanjian Lama. Namun kemuliaan di dalam kitab Perjanjian Baru jauh melampaui itu, karena diawali dengan kitab mengenai sejarah dari Dia yang menciptakan dunia!” Ketika kita membaca Injil Matius, kita berjumpa dengan Dia, Sang Pencipta dan Sang Penebus yang telah datang ke dunia bagi kita.

            Secara khusus dalam bacaan ini terdapat penyebutan dua nama yang dikenakan kepada Sang Penebus, yaitu: “Yesus” dan “Imanuel.” Kedua nama ini menjadi pesan penting mengenai refleksi makna Natal bagi kita.

1.      Makna Natal Pertama: YesusAllah Menyelamatkan Kita!

 “…engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (ay. 21).


Makna Natal yang pertama berbicara tentang Nama “Yesus”: Allah telah datang menyelamatkan kita dari dosa!
(Lihat: Mat. 9:6; 26:28; Yoh. 1:29).

Nama “Yesus” di dalam bahasa Ibrani adalah Yehsua atau Yosua yang berarti: “Yahweh Juruselamat/Yahweh menyelamatkan.” Dengan kata lain, nama Yesus sinonim/sama dengan nama Yosua.


Di sini kita menjumpai kesejajaran pesan Alkitab yang bukan hanya sama dalam hal arti namanya, namun juga antara tokoh Yosua di dalam PL dan Yosua/Yesus Kristus di dalam PB. Yosua di dalam Perjanjian Lama membawa umat Tuhan untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian—Kanaan, merupakan gambaran bagi Sang Yosua (Yesus Kristus) yang kelak hadir di dalam Perjanjian Baru, membawa Umat Tuhan—Saudara dan saya—masuk ke dalam Tanah Perjanjian Allah yang Kekal! (Yoh. 6: 27b; 14:6; Kis. 4:12).

Dalam bacaan bagian pertama ini, kita melihat pesan yang jelas mengenai identitas dan visi Sang Juruselamat itu diperkenalkan dalam nama-Nya. Nama “Yesus” menyatakan bahwa Pribadi yang datang ke dunia itu adalah Allah yang menyelamatkan umat-Nya.

Tetapi menyelamatkan dari apa?

Kalimat terakhir ayat ini jawabannya: “…dari dosa mereka (umat-Nya).” Ini merupakan pesan penting yang perlu kita perhatikan. Tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus adalah menebus dosa kita. Itu sebabnya Allah tidak mengirimkan ahli ekonomi, ahli keuangan, ahli kesehatan, dan ahli-ahli lainnya bagi kita. Tetapi Dia mengirimkan Anak-Nya untuk memenuhi kebutuhan terpenting, terutama dan paling mendesak dari kita: “Keselamatan dan pengampunan dosa!” (Lihat: Mat. 9:6; 26:28; Yoh. 1:29).

Dosa telah merusak relasi kita dengan Allah dan membawa semua manusia dalam kuasa maut—kematian kekal dan penderitaan (Rm. 5:12). Keadaan kita yang telah mati secara rohani tidak memungkinkan untuk menyelamatkan diri, itu sebabnya kita membutuhkan Juruselamat (Rm. 3:23-28). 

Ilustrasi: Pada tanggal 26 Mei 2013 sebuah kapal terbalik dan tenggelam di Samudera Atlantik. Semua kru meninggal, hanya Harrison Okene (29 Tahun) juru masak kapal tersebut yang bertahan. Selama 3 hari dia berusaha bertahan hidup sambil mengharapkan mukjizat. Okene berkata: "Saya berada di dalam air, di dalam kegelapan total, hanya berpikir bahwa ini adalah akhir hidup saya." Pada hari ketiga, tim penyelamat baru sampai untuk mengevakuasi mayat para kru kapal, dan mereka terkejut menemukan Okene masih hidup meski sudah dalam keadaan yang lemah.

Bapak-Ibu Saudara, pengalaman horror Okene ini menggambarkan kondisi manusia yang sementara berada dalam kuasa maut. Manusia semuanya sementara mengantri menunggu kematian kekal, tidak dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan diri! Puji Tuhan! Seperti para penyelam itu, Kristus datang melampaui alam semesta untuk meyelamatkan kita dari kematian kekal. Haleluya!

Kemudian Bapak-Ibu, dalam ayat terssebut (ay. 21) terdapat kata “Umat-Nya” dan ”mereka” mengacu kepada semua umat Tuhan sepanjang zaman. Apakah Bapak-Ibu adalah Umat Tuhan? Jika Ya, maka kata “Umat-Nya” dan “mereka” dalam ayat tersebut dapat diganti dengan nama kita. Coba kita gantikan, baca dan renungkan sejenak dalam hati. Apa kesan Saudara ketika kedua kata itu diganti dengan nama kita? Kita begitu spesial dan berharga bukan? Kasih Allah nampak begitu besar, agung dan mulia bagi kita, karena Tuhan Yesus secara khusus datang untuk menyelamatkan kita.

Inilah makna Natal sukacita Natal yang sesungguhnnya seperti yang diberitakan Malaikat Tuhan, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud!” (Luk. 2:11). Natal berbicara mengenai “Yesus,” Tuhan yang telah datang dan menyelamatkan kita dari dosa.

Refleksi Praktis:

Sukacita Natal tidak terletak pada indahnya pujian, limpahnya makanan, souvenir, pakaian mewah, dan lainnya. Sukacita Natal terletak pada kesadaran bahwa Tuhan Yesus Kristus—Sang Juruselamat itu telah datang dan menebus dosa kita sehingga kita dapat masuk dalam kehidupan kekal.

Ini yang menjadi dasar kita menaikkan ucapan syukur, puji-pujian dan pengagungan kepada Allah dalam ibadah di gereja, keluarga dan sepanjang hidup kita. Maka mari membuka hati dan mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat! Amin!?

2.      Makna Natal kedua: Imanuel—Allah Menyertai Kita!

“…mereka akan menamakan Dia Imanuel"  —  yang berarti: Allah     menyertai kita.””(ay. 23).

Ayat ini (Mat. 1:23) merupakan kutipan dari Yesaya 7:14. Nabi Yesaya hidup sekitar 700 tahun sebelum Tuhan Yesus. Artinya terdapat jarak dari penggenapan nubuatan yang dikatakan oleh nabi Yesaya sekitar 700 tahun. Ini membukikan bahwa Allah setia kepada Umat-Nya. Janji-Nya telah digenapi.

Nama Imanuel atau Immanuel berasal dari bahasa Ibrani עִמָּנוּאֵל yang berarti “El atau Tuhan beserta kita." Nama ini terdiri dari dua kata Ibrani: אל (El, artinya Tuhan) dan עמנו (Immanu, artinya "beserta kita", "bersama kita" atau "dengan kita).

Dalam terjemahan yang lebih baik, arti kata Imanuel ini adalah Allah saat ini hadir dan terus-menerus menyertai kita.[1] Itu berarti Kristus menyertai kita dalam segala keadaan. Sementara dalam kaitanya dengan Natal Kristus, maka nama “Imanuel” yang dikenakan pada Tuhan Yesus berarti: Allah yang telah datang dan menyelamatkan kita itu, kini hadir dan terus menerus menyertai kita. Sang Firman Allah itu kini “diam di antara kita” (Yoh. 1:14) dan menyertai kita “sampai pada kesudahan zaman!” (Mat. 28:20).

Jika kita membaca Matius 4:15-16, sekali lagi Matius mengutip Yesaya 8. Dalam konteks pelayanan Yesaya pada masa itu, umat Yehuda sementara dalam keadaan terdesak karena tekanan dari kerajaan-kerajaan sekitar sehinga mereka semenatara berada dalam lembah kekelaman. Dalam kondisi demikian Allah memberikan janji mengenai Sang Imanuel yang akan menyertai mereka sehingga mereka mampu keluar dari kesuraman tersebut.

Seperti keadaan umat Yehuda, Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang menyertai kita sepanjang perjalanan hidup kita. Kita tidak pernah sendiran menghadapi hidup ini karena Dia hadir dalam segala keadaan hidup kita, dalam suka-duka, sehat-sakit, kelimpahan-kekurangan, senang-sedih. Dalam segala keadaan Yesus ada di sana bersama dengan kita! Inilah pesan penting Natal kedua bagi kita.

Refleksi Praktis:

Bapak-Ibu, Jemaat Tuhan, Saya tidak mengetahui pergumulan dan kondisi Bapak-Ibu saat ini, tetapi sebagaimana kebenaran firman Tuhan ini, ada jaminan yang Tuhan nyatakan bahwa Ia menyertai kita senantiasa. Penyertaan Tuhan ini menjadi kekuatan dan pengiburan bagi kita sehingga kita tidak kecewa dan berputus asah dalam menjalani kehidupan ini. Khususnya dimasa-masa pandemi saat ini.

Ini mungkin juga merupakan salah satu visi dan doa Ibu Gembala dan alm. Pak Gembala ketika menggunakan nama “Immanuel” bagi gereja ini. Bukan juga suatu kebetulan jika ulang tahun gereja kita pada saat Natal. Yang artinya setiap Natal dan jelang akhir tahun kita pasti akan membaca bagian Alkitab ini—Imanuel, Allah menyertai kita. Amin!?

Kesimpulan

·        Natal berbicara mengenai Yesus Kristus yang adalah Allah yang datang menyelamatkan kita dan sekaligus Allah yang menyertai kita. Tanpa kedatangan dan penyelamatan-Nya, kita semua binasa. Sementara tanpa penyertaan-Nya dalam hidup kita, kita tidak akan mampu menjalani hidup ini.

·         Maka sukacita Natal yang sejati terletak pada dua pesan ini: Allah yang datang menyelamatkan kita dan Allah yang menyertai perjalanan hidup kita hingga di akhir zaman. Sukacita ini melampaui berita sukacita apapun sepanjang sejarah manusia!

Pesan khotbah pagi ini dapat diringkas dengan satu kalimat: “Allah menyelamatkan dan Allah menyertai kita.”

Selamat menjelang Natal Kristus,
Tuhan memberkati kita, Amin!



                [1]Means, ἐστιν (estin). Verb - Present Indicative Active - 3rd Person Singular.

Strong's 1510: I am, exist. The first person singular present indicative; a prolonged form of a primary and defective verb; I exist.

Minggu, 12 Desember 2021

 Raksasa Iman Itu Telah Pergi

 

Catatan pribadi untuk Mama tercinta yang dipanggil Tuhan pada minggu, 12 Desember 2021 pulul, 08.30 WIB.

 

Sepenggal Kisah Hidup

            Semenjak tahun 70-an, keluarga kami telah merantau di kota Ambon. Sebagai pendatang dari kampung, kehidupan di kota bukanlah kehidupan yang mudah. Bapa yang hanya seorang buruh bangunan dan Mama sebagai “bidan” kampung yang (entah bagaimana kisah awalnya) kerap kali dipanggil untuk membantu persalinan warga sekitar. Kondisi yang pas-pasan tersebut membuat kehidupan keluarga kami di Ambon harus dilalui dengan pergumulan, terutama jika Bapak sedang menganggur. Lauk ikan momar (di Bandung nama ikan ini “kembung”) goreng dan sayur daun singkong tumis/santan adalah menu spesial keluarga kami. Jika tidak ada maka Sarimie adalah penggantinya. Namun jika keadaan ekonomi keluarga sementara berada di “padang gurun” maka kami pun harus berpuasa terpaksa. Perjalanan hidup itu memberikan rasa  yang beragam untuk memahami pekerjaan Tuhan yang kadang “ngeri-ngeri sedap” dalam hidup keluarga kami.

            Sudah dua puluh dua tahun saya meninggalkan kota Ambon, dan sudah dua puluh satu tahun saya meninggalkan keluarga di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat. Pasca kerusuhan tahun 1999 kami pulang ke kampung). Seperti pengalaman hidup umumnya, banyak hal yang dilalui tersebut telah membekas dan membentuk kehidupan pribadi saya, baik ketika bergumul di perantauan maupun dalam hal rohani. Dan hal-hal yang membentuk kerohanian saya tersebut semuanya bersumber dari pengalaman hidup saya dengan Mama.

Iman yang Menular

            “Mama Fita,” demikian sapaan dan panggilan akrab Mama. Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara kandung, Mama merupakan sosok yang sederhana, perhatian, akrab dan ramah senyum. Dalam kehidupan spiritualnya, Mama seorang pendoa sejati. Kehidupannya adalah kehidupan yang diwarnai dengan doa. Sebagai seorang Katolik yang taat, Mama hampir tidak pernah absen dalam kegiatan gerejawi dan rohani pribadinya. Kegiatan lainnya seperti membersihkan gereja hingga berziarah ke gua Maria, adalah kegiatan rutin yang menjadi agenda tahunannya. Dari semua kegiatan itu terdapat satu teladannya yang paling berkesan bagi saya—jam doa malam Mama. Mama memiliki waktu doa rutin setiap malam. Hampir setiap saat jika saya terbangun ditengah malam, khususnya sekitar jam 00.00 atau 01.00 WIT di hari, saya kerap melihat Mama dengan tekun berdoa. Terkadang ia mendahuluinya dengan beberapa pujian, kemudian melanjutkannya dengan doa-doa dengan serius. Hingga di masa tuanya, Mama memang tidak dapat lagi pergi ke gereja karena kondisi fisiknya, namun ia tetap antusias untuk mengikuti pelayanan gerejawi di rumah (tim pastoral—Suster, tiap minggu berkunjung ke rumah untuk memberikan sakramen kepada Mama. Saya sangat berterima kasih bagi pelayanan tersebut) dengan baik sampai di akhir hidupnya.

            Pengalaman-pengalaman spiritual Mama ini begitu membekas dalam dari saya sehingga menjadi inspirasi yang terus memotivasi kehidupan pribadi, khusunya dalam merespons panggilan dalam pelayanan gerejawi. Imannya yang didemonstrasikan melalui tindakan telah mengisi kehidupan pribadi saya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, namun saya mengucap syukur kepada Tuhan bahwa Mama telah menanam sebuah pohon iman yang kokoh sehingga “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak dapat layu daunnya” (Mzm. 1:3). Kekuatan iman yang ditularkan tersebut terus berbuah dan berdampak dalam kehidupan saya. Dalam kesenyapan, Tuhan telah menempatkan seorang Raksasa Iman dalam kesederhanaan hidup Mama di pada keluarga kami. Terpujilah Tuhan.

Mengakhiri Pertandingan Iman      

            “Lole…lole… lolee yoo… maku lole ko… Lole…lole… lolee yoo… maku lole ko…” demikian penggalan syair lagu daerah kami (Kep. Tanimbar—Maluku Tenggara Barat) yang kerap dinyakian Mama saat menidurkan saya sewaktu kecil. Syair lagu yang bertemakan suasana Natal ketika Ibu Maria menidurkan bayi Yesus dalam bahsa daerah ini seketika menjadi lagu yang berkesan mendalam bagi saya. Setiap kali berjumpa dengan Mama di kampung, saya selalu menyanyikan lagu tersebut bersama-sama dengan Mama. Demikian halnya ketika saya sementara sendirian dan mengingat Mama, lagu tersebut menjadi pengobat rindu saya kepada sosok sederhana Mama. Hari ini (senin, 13 Desember 2021, pagi) saya pun mendengarkan dan menyanyikan lagu ini, bedanya saya mendengarkan dan menyanyikan lagu ini sambil melihat foto Mama yang telah didandani dan sementara menuju ke pemakaman.

            Minggu pagi, ketika tiba di parkiran gereja, gawai saya tiba-tiba berdering. Saya menerima panggilan dari Kakak saya untuk memberitahukan kondisi Mama yang kritis. Setelah bebicara beberapa saat, kami pun berdoa dan menyerahkan semua ke dalam kedaulatan kehendak Tuhan. Mama pun dipanggil pulang pada minggu pagi kemarin (08.30 WIB). Raksasa iman itu telah mengakhiri pertandingannya di dunia. Mama tidak meninggalkan warisan harta materi, namun ia meninggalkan harta rohani—teladan iman yang menular dan memampukan saya berjuang serta bertahan dalam panggilan Tuhan di setiap keadaan. Tongkat estafet imannya sudah kami terima dan siap untuk melanjutkannya. Inilah hal yang paling saya syukuri. Meski demikian, sebagai pelayan Tuhan sekaligus seorang anak yang ditinggalkan, saya tidak dapat menyembunyikan kesedihan ini, namun dalam kesedihan itu saya pun bersukacita karena Mama telah  “mengakhiri pertandingan yang baik… mencapai garis akhir dan … memelihara iman.” (2 Tim. 4:7). Maka seperti seruan Ayub, ”TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” saya pun berusaha tegar untuk menerima kehendak Tuhan.  

Selamat jalan Mama, selamat jalan Raksasa imanku!
Peluk dan cium dari anakmu,

Yosep Belay.  






Selasa, 10 November 2020


Petunjuk-petunjuk dalam
Memahami Ayat-ayat Alkitab yang Sulit 

by. Gleason L. Archer

 

            Waktu menghadapi masalah-masalah Alkitab jenis apapun, apakah itu bersifat faktual atau doktrinal, lebih baik mengikuti pedoman-pedoman yang tepat untuk menentukan jalan keluarnya. Ini paling mudah dilakukan oleh orang-orang yang telah secara cermat serta penuh doa mempelajari Alkitab selama bertahun-tahun dan telah dengan konsisten serta setia menghafal Alkitab. Beberapa pedoman adalah sebagai berikut:

            1. Tetaplah pada pendirian Saudara sendiri bahwa ada penjelasan yang memadai meskipun Saudara belum menemukannya. Seorang insinyur penerbangan (aerodinamik) mungkin tidak mengerti bagaimana seekor lebah besar bisa terbang, namun dia yakin bahwa pasti ada satu penjelasan memadai tentang kemampuan yang mengagumkan dari binatang ini karena kenyataannya hewan itu bisa terbang! Kendati demikian, kita yakin sepenuhnya bahwa Sang Penulis ilahi menjaga setiap manusia yang menulis masing-masing kitab dalam Alkitab itu dari kesalahan atau kekeliruan ketika dia menuliskan naskah asli teks yang sakral itu.

            2. Janganlah berpindah dari satu apriori ke apriori yang berlawanan setiap kali suatu persoalan muncul. Alkitab adalah Firman Allah yang bebas dari kesalahan atau kalau tidak maka Alkitab merupakan catatan yang tidak sempurna dari manusia yang bisa saja melakukan kekeliruan. Sekali kita telah sepakat dengan Yesus bahwa Alkitab mutlak dapat dipercaya serta mempunyai otoritas, maka sama sekali mustahil bagi kita untuk berpindah ke asumsi yang berlawanan, bahwa Alkitab hanyalah catatan tidak sempurna dari orang-orang yang bisa saja keliru ketika mereka menulis tentang Allah. Jika Alkitab adalah benar-benar Firman Allah seperti dikatakan Yesus, maka Alkitab harus dihormati, dipercayai dan ditaati. Tidak seperti buku-buku lainnya yang dikenal oleh manusia, Alkitab turun kepada kita dari Allah dan di dalamnya kita berhadapan dengan Allah yang selalu hidup dan selalu hadir (Il Tim. 316-17). Ketika kita tidak dapat mengerti jalan Allah atau tidak mampu memahami Firman-Nya, kita harus dengan rendah hati berlutut di hadapan Nya serta bersabar menunggu Dia menjelaskan kesulitan itu atau melepaskan kita dari pergumulan kita setelah Dia menganggapnya tepat. Sangat jarang Allah akan berlama-lama bersembunyi dari orang percaya sejati yang menyerahkan hati dan pikirannya.

            3. Pelajarlah secara cermat konteks dan kerangka (latar belakang) dari ayat yang menimbulkan kesulitan itu sampai Saudara mendapatkan gagasan tentang apa yang dimaksudkan oleh ayat tersebut dalam konteksnya sendiri. Mungkin Saudara perlu mempelajari isi seluruh kitab di mana ayat itu ada, dan secara cermat memperhatikan bagaimana setiap istilah kunci dipakai dalam perikop-perikop lain. Bandingkan kitab satu dengan kitab lain, khususnya semua perikop pada bagian lain dari Alkitab yang membicarakan pokok atau ajaran yang sama.

            4 Ingat, tidak ada tafsiran Alkitab yang benar jika tidak didasarkan pada eksegese yang cermat, yakni pada komitmen sepenuh hati untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh penulis zaman dulu itu dengan kata-kata yang digunakannya Ini dilakukan dengan studi yang saksama terhadap kata-kata kunci sebagaimana didefinisikan oleh kamus-kamus bahasa Ibrani dan bahasa Yunani) dan sebagaimana dipergunakan dalam perikop-perikop yang parallel. Teliti juga pengertian khusus kata-kata ini dalam frasa-frasa ungkapan (idiomatik) seperti terlihat pada bagian-bagian lain dari Alkitab Perhatikan betapa seorang asing pasti bingung bila ia membaca pada sebuah harian Amerika: "The Prospectors made a strike (membuat galian) yesterday up in the mountains. "The Union went on strike (pemogokan) this morning. "The batter made his third strike (pukulan) and was called out by the umpire." "Strike up (mulai menyanyikan) with the Star Spangled Banner "The fisherman got a good strike (tangkapan) in the middle of the lake." Rupanya setiap penggunaan yang sama sekali berbeda atas kata yang sama ini (strike) berasal dari akar kata yang sama serta mempunyai etimologi yang sama. Tetapi bisa benar-benar membingungkan kalau orang salah memahami maksud pembicara memakai kata tersebut. Hendaknya diingat bahwa sifat tidak mungkin salah itu mengandung arti diterima serta dipercayainya apapun yang dimaksudkan oleh si penulis Alkitab dengan kata-kata yang ba gunakan. Jika yang dimaksud adalah arti harfiah, maka adalah keliru kalau kata itu diterima menurut arti kiasannya, tetapi jika yang dimaksud adalah arti kiasan, maka adalah keliru kalau kata itu diterima menurut arti harfiahnya. Jadi, kita harus menggunakan eksegese yang saksama agar bisa mengetahui apa yang penulis maksudkan menurut keadaan dan pemakaian pada zamannya. Itu memerlukan kerja keras. Intuisi dan penilaian tergesa-gesa bisa menjerat orang dalam kekeliruan dan praduga subyektif. Hal ini sering menimbulkan aliran sesat yang menghambat maksud Tuhan yang kepada-Nya orang mengaku melayani,

            5. Dalam kasus ayat-ayat yang paralel, satu-satunya cara yang dapat dibenarkan adalah harmonisasi. Artinya semua cerita dari banyak saksi mengenai apa yang telah dikatakan dan dilakukan ketika di hadapan mereka, harus diterima sebagai laporan yang bisa dipercaya kendatipun mereka mungkin melihat kejadian itu dari perspektif yang agak berbeda. Jika kita memilah-milah berbagai derita itu, menaruhnya berderetan, kemudian mempersatukan mereka kembali, maka kita akan mendapatkan pengertian lebih lengkap mengenai kejadian tersebut dibanding jika kita mengambil kesaksian tunggal yang diperoleh secara individual. Namun, sebagaimana halnya setiap penyelidikan yang dilakukan dengan sebaik-baiknya dalam satu peradilan hukum, hakim dan juri diharapkan menerima kesaksian masing- masing saksi sebagai benar jika dilihat dari perspektifnya sendiri - tentu saja, kecuali jika dia dinyatakan sebagai pendusta yang tidak bisa dipercayai Asumsi yang lain hanya akan menghasilkan ketidakadilan, misalnya bahwa setiap saksi diasumsikan tidak benar kecuali jika kesaksiannya dikuatkan oleh sumber-sumber dari luar. (Ini tentunya adalah asumsi yang dibuat para penentang pendapat bahwa Alkitab bebas dari kesalahan, dan itu membawa mereka kepada hasil-hasil yang sama sekali tidak benar.)

            6. Bacalah buku-buku tafsiran terbaik yang ada, terutama yang ditulis oleh para pakar injili yang mempercayai integritas Alkitab. Sembilan puluh persen dari masalah-masalah itu pasti dibicarakan dalam buku-buku tafsiran yang baik (lih. Bibliografi). Kamus-kamus dan ensiklopedi Alkitab yang baik bisa memperjelas banyak pokok yang membingungkan Konkordansi analitis akan membantu membuktikan pemakaian kata (mis. Strong's, Young's)

            7. Banyak hal yang sulit dalam Alkitab timbul karena kesalahan kecil si penyalin waktu menyebarkan teks tersebut. Dalam Perjanjian Lama kesalahan-kesalahan penyalinan seperti itu terjadi karena pembacaan (lafalisasi) yang tidak baik terhadap lambang bunyi-bunyi huruf hidup (vokal), pada mulanya Bahasa Ibrani hanya ditulis memakai huruf-huruf konsonan, serta tidak ditambahkan bunyi-bunyi huruf hidup (vokal) sampai seribu tahun sesudah diselesaikannya kanon Perjanjian Lama. Tetapi, ada juga beberapa konsonan yang mudah menimbulkan kesulitan karena mereka sangat mirip (mis. konsonan “Daleth dan "Resh atau “Yod dan “Waw). Selain itu, beberapa kata dipertahankan dalam bentuk ejaan yang kuno sehingga sangat mudah disalahtafsirkan (di salah mengerti) oleh para penyalin kitab berbahasa Ibrani yang belakangan. Dengan kata lain, kesulitan tersebut hanya bisa dijelaskan melalui penelitian Alkitab dari segi tekstual serta analisisnya terhadap jenis-jenis kekeliruan serta kesalahan yang paling sering terjadi (untuk bibliografi mengenai hal ini, bdg. Pengantar). Ini mencangkup juga kekeliruan pencatatan angka-angka, di mana berbagai kesalahan statistik ditemukan dalam teks Alkitab yang ada sekarang ini (mis. Il Raj. 18:13).

            8. Jika catatan-catatan sejarah mengenai Alkitab diragukan berdasarkan dugaan ketidaksesuaian dengan temuan-temuan arkeologis atau kesaksian dari dokumen-dokumen kuno di luar dokumen Ibrani, maka harus selalu diingat bahwa Alkitab sendiri adalah dokumen arkeologis dengan kaliber paling tinggi. Merupakan prasangka yang sangat bodoh kalau kritikus berpendapat, bahwa bila terdapat catatan di luar Alkitab yang tidak cocok dengan catatan Alkitab, maka yang salah pasti si penulis Ibrani. Sebagaimana penguasa kafir zaman modern, raja-raja kafir dulu melakukan propaganda memuji-maji diri; dan adalah sangat naif jika ada beranggapan bahwa hanya karena suatu pernyataan ditulis dalam huruf paku Asyur atau hieroglif Mesir maka pernyataan itu lebih dapat dipercaya daripada Firman Allah yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Selain Perjanjian Lama, tidak ada dokumen kuno lain dalam periode sebelum Masehi yang mempunyai begitu banyak bukti jelas tentang keakuratan serta integritas, karena itu adalah melanggar kaidah tentang pembuktian apabila beranggapan bahwa pernyataan Alkitab adalah salah kalau tidak cocok dengan tulisan atau naskah sekular yang sejenis. Dari semua dokumen yang diketahui manusia, hanya Alkitab salinan bahasa Yunani Ibrani yang telah dijamin keakuratan serta otoritas ilahinya mereka melalui pola nubuat serta penggenapan secarasempurna yang adalah di luar kemampuan manusia, dan yang hanya mungkin dilakukan oleh Allah.

 

Sumber: Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, pen. Suhandi Yeremia (Malang: Gandum Mas: 2004), 21-25.

Minggu, 08 November 2020

RENUNGAN: "PENCARIAN SANG GEMBALA"

 


PENCARIAN SANG GEMBALA

Akulah gembala yang baik; gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba (Yoh. 10:11). "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?  Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.  Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (Luk. 15:4-7).

_______________

            Sewaktu di Ambon, keluarga kami memiliki peliharaan beberapa ekor anjing. Beberapa waktu kemudian salah satu anjing peliharaan kami itu melahirkan sekitar lima ekor anak. Kebetulan di depan rumah kami terdapat selokan yang dalamnya kira-kira 1 M. Sekali waktu, salah satu anak anjing itu bermain di dekat selokan itu dan jatuh ke dalamnya. Anak anjing itu terus saja merang-raung hingga induknya kemudian berdiri di depan selokan itu dengan gesture yang gelisah karena tidak dapat menolongnya. Mengendar raungan anak anjing yang tidak kunjung henti itu, saya kemudia keluar menghampirinya, masuk ke dalam selokan tersebut dan mengangkatnya.

            Kisah singkat itu mengigatkan saya mengenai pencarian tanpa henti oleh Sang Gembala Agung—Yesus Kristus dalam ayat di atas. Yesus mencari domba-domba-Nya yang tersesat di antara masyarakat kelas bawah yang dianggap sampah masyarakat. Domba-domba yang bahkan secara social dijauhi dan dipandang sebagai “orang-orang berdosa.” Sekumpulan para pecundang yang bahkan jijik akan kehidupan mereka sendiri. Sekumpulan pecundang yang tidak lagi memiliki harapan. Sekumpulan pecundang yang sekarat secara spiritaual dan social. Kita perlu ingat bahwa dalam konteks kebudayaan Yahudi kala itu, orang-orang yang satatus kerohaniannya “tinggi,” tidak duduk, apalagi makan bersama kumpulan orang-orang berdosa. Bahkan mereka akan “lenggang kangkung” begitu saja ketika berpapasan dengan seseorang yang sekarat di pinggir jalan seperti dalam kisah “Orang Samaria yang Baik Hati” demi reputasi, “kekudusan” dan kehormatan mereka. Bukankah hari ini kita menjumpai hal yang serupa? Bukankah dalam pelayanan gereja hari-hari ini juga secara samar nampak dualisme prioritas pelayanan bagi “domba kaya” dan “domba miskin”? Yesus Kristus, tidak demikian! Ia justru melayani mereka yang terpinggirkan. Sang Gembala Agung itu mencari domba-domba-Nya yang sekarat dan ditinggalkan oleh para “gembala-gembala kapitalis” modern.

            Yesus Kristus mencari mereka yang bahkan  “berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah (mukanya) ke langit” saat berdoa (Luk. 18:13). Orang-orang seperti itulah yang adalah domba sejati namun terhilang. Domba-domba yang menyadari keadaan mereka yang sekarat dan membutuhkan Sang Gembala Agung. Bagi mereka, Tuhan Yesus datang di dunia ini. Bagi mereka, Ia memberikan pelukaan hangat dengan  “meletakkannya di atas bahunya dengan gembira” (Luk. 15: 5). Ia juga mengadakan perjamuan yang penuh dengan sukacita (Luk. 15:6), dan bahkan Ia mati untuk menebus keberdosaan mereka (Yoh. 10:11).  Dan tahukah Saudara bahwa pertobatan itu juga menghasilkan sukacita yang luar biasa di dalam Sorga! (Luk. 15:7). Sukcaita pertobatan itu secara luar biasa digemakan di dua tempat sekaligus, di dunia dan di sorga.

            Dalam konsepsi teologis, tentu saja tidak ada satu manusia pun yang dapat mencari Allah dan menyelamatkan dirinya sendiri. Saudara dapat membandingkannya dengan kisah singkat saya mengenai anak anjing yang tercebur ke dalam selokan di atas. Anak anjing itu mustahil untuk dapat keluar dari selokan tersebut. Demikian juga ketika induknya telah menemukannya, namun hanya mampu menatapnya dari atas tanpa dapat berbuat apa-apa. Keadaan manusia berdosa seperti itu. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Orang lain yang kita anggap sebagai seorang yang mampu, bahkan dengan gelar orang suci atau nabi sekalipun, mustahil untuk dapat menyelamatkan kita! Kita semua seperti anak-anak anjing yang sedang terjerumus di dalam selokan, merang-raung sambil menunggu Sang Tuan datang menolong kita! Kristus, Sang Tuan dan Sang Gembala agung itu kini sudah menemukan kita (Why. 3:20), maukah Saudara membuka hati bagi-Nya?

Tuhan memberkati Saudara,
Salam.
yb.