Selasa, 10 Maret 2020

RAGAM PANDANGAN ETIKA KRISTEN (Bag. 1)




RAGAM PANDANGAN ETIKA KRISTEN (Bag. 1)

[Semua materi dalam tulisan ini disadur dan dikembangkan dari 
diktat kuliah Etika Terapan STT KHARISMA Bandung]



1.    PERIHAL ASAL MULA NEGARA DAN PEMERINTAHAN.

     Dari keempat teori tentang asal mula negara dan kekuasaan (Mitologi Kerajaan, Hukum Kodrat, Kekuasaan Negara Berasal dari Setan, Kenegaraan Libiralisme Rasionalistis—Kedaulatan Rakyat), yang digagas oleh pemikiran sekuler, tidak ada diantaranya yang sesuai dengan prinsip etika Kristen. Alasan mendasarnya karena dua hal. Kesatu, semua teori tersebut bertolak dari pemikiran antroposentris yang telah jatuh di dalam dosa, tidak ideal, bahkan cemderung menyesatkan (bdk. dgn. Teori kedua) sehingga meninggikan kedaulatan humanistik sebagai penggagas utamanya. Dalam pemikiran demikian, Tuhan disingkirkan dan semboyan “dari kita (rakyat), oleh kita, dan untuk kita” (A. Lincoln) menjadi pesan sentral humanisme dan liberalisme komunal yang sangat kental. Dengan kata lain, teori-teori tersebut mengandalkan kekuatan, politik, ekonomi, dan kedaulatan manusia sebagai penggagas dan penggerak utamanya. Manusia menjadi subjek penggerak sekaligus objek tujuan yang dicapai. Disisi lain, natur manusia yang telah jatuh dalam dosa tersebut justru seringkali menjadi instrument kuasa-kuasa jahat sehingga tak jarang menghasilkan ragam kebijakan yang menentang Allah. Hal tersebut seperti mengulang kembali konsep pemikiran Menara Babel (Kej. 11) dimana suatu bentuk pemberontakan humanistic komunal dalam menentang kedaulatan pemerintahan Allah. 

            Kedua, keempat teori tersebut berseberangan dengan sudut pandang Alkitab yang menjadi sumber utama bangunan etika Kristen. Alkitab dengan jelas menempatkan Allah sebagai sumber terbentuknya Negara dan kekuasaan. Allah yang mengangkat para raja dan pemerintahan (Mzm. 72:1; Yoh. 19:11a; Rm. 13:1-2). Gambaran yang lebih jelas ketika Tuhan menolak Saul dan mengurapi Daud menjadi raja Israel (1 Sam. 16:1-13), bukan hanya sampai di sana, Allah bahkan dapat mengurapi Koresh raja Persia (Yes. 45:1) untuk menggenapi apa yang Ia rancangkan. Kesaksian ini membuktikan kebenaran Alkitab yang menjadi landasan etika Kristen bahwa perihal asal mula Negara dan kekuasaan berasal dari Allah. Secara implisit hal tersebut termanifestasikan oleh pemerintahan kekal Allah yang dinyatakan dalam ruang dan waktu melalui pemerintahan Negara yang kemudian menjadi instrument perpanjangan tangan Allah dalam menjalankan pemerintahan-Nya (meskipun kadang pemerintahan dunia membangkang) seperti pernyataan Rasul Paulus dalam Roma 13. Sementara secara eksplisit konsep kerajaan Mesianik di akhir zaman merupakan gambaran yang paling konkret tentang asal mula pemerintahan/Negara dan kekuasaan (Kej. 49:10; Why. 20:4).

            Impilkasinya jelas, pemerintahan yang ada dipilih dan ditetapkan oleh Allah, maka sebagai umat-Nya, secara pribadi penulis harus tunduk serta mendukung pemerintahan yang sah, selayaknya tunduk dan taat kepada Allah. Sebagaimana Yeremia dengan tegas mengatakan bahwa umat Tuhan harus mengusahakan kesejahteraan dan mendoakan kota dimana mereka tinggal (Yer. 29:7), bahkan jika kota tersebut merupakan kota para penjajah yang menjajah mereka. Sangat mengagumkan! Akan tetapi dengan mengingat bahwa pemerintahan itu juga dijalankan oleh manusia berdosa yang memiliki kecenderungan untuk memberontak terhadap Allah, maka dalam batasan tertentu, sebagai umat Tuhan, penulis perlu bijak dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang dibuat sehingga tidak terjebak dalam lingkaran setan yang ikut mengutuki Allah melalui ragam kebijakan yang menyesatkan.

2. PERIHAL KETAAN DAN KETIDAK TAATAN TERHADAP PEMERINTAH.

   Seperti yang telah disinggung pada jawaban di atas, dalam batasan/konteks tertentu padangan etika Kristen membenarkan umat Tuhan untuk tidak boleh taat kepada pemerintah. Mengenai hal ini terdapat tiga pandangan pada umumnya; Pandangan Anarkisme, Pandangan Patriotisme Radikal, dan Pandangan Submisionisme Alkitabiah.

            Pandangan Anarkisme, mengindikasikan bentuk perlawanan secara ekstrem dengan tindakan-tindakan kekerasan. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan prinsip dasar etika Kristen dan kebenaran Alkitab yang mewajibkan umat Tuhan untuk taat meski dalam batasan tertentu (Rm. 13:1-7; 1 Ptr. 2:13).  Pandangan Patriotisme Radikal. Seperti istilah yang digunakan, pandangan ini memposisikan dirinya secara mutkak untuk mendukung dan membela Negara, entahkah baik maupun salah Negara tersebut. Tentu saja pandangan ini keliru oleh karena Allah menetapkan Negara dan pemimpin tetapi bukan kejahatan yang dilakukan. Seperti yang telah disampaikan sebelummnya, ketaatan kepada pemerintah juga merupakan bentuk ketaatan yang berjalan dalam koridor kebenaran Allah sebagai prinsip dasarnya (Kis. 4:19). Kemudian menyangkut kejahatan yang dilakukan, orang percaya dilarang untuk ikut didalamnya (Dan. 3). Pandangan Submisionisme Alkitabiah. Submisionisme alkitabiah menekankan ketaatan dalam terang Alkitab. Ketaatan orang percaya terhadap pemerintah terbatas dalam batasan tertentu terbagi dalam dua kelompok, yaitu ketika pemerintah menetapkan suatu hukum yang bertentangan dengan firman Allah (Kaum  anti eksploitasi hukum), maupun ketika pemerintah memaksa orang percaya untuk berbuat kejahatan (Kaum anti Pemaksaan). Klaim posisi anti eksploitasi hukum disatu sisi sangat rasional, namun disisi lainnya justru tidak memiliki dasar biblical yang kuat sehingga tidak terdapat batasan  respons yang jelas[1] misalnya pada saat melakukan aksi protes. Sementara kaum anti pemaksaan lebih cenderung menggunakan cara-cara kampanye/dialog damai yang sesuai dengan pendekatan biblical (Kel. 1:15-21; 5:1; 1 Raja. 18:4; Dan.3, 6; Kis. 4:19; Why. 12: 11). Bahkan jika tidak memungkinkan terdapat dua hal yang dilakukan, menolak melakukan kejahatan yang diperintahkan, namun dengan berani menerima konsekuensi hukum yang dijatuhkan  pemerintah (sebagaimana Daniel dan Para Rasul ketika berhadapan dengan putusan hukum mereka).  

            Dari ketiga pandangan tersebut pandangan Submisions Alkitabiah versi Anti Pemaksaan yang bagi penulis sesuai dengan etika Kristen dan prinsip-prinsip Alkitab. Bukan hanya karena alasan biblical namun juga karena alasan konteks sosial yang lebih luas, misalnya dalam konteks Negara yang memiliki penduduk mayoritas keyakinan non Kristen, penerapan versi anti eksploitasi hukum tentu saja akan sangat sulit dilakukan. Sebaliknya, jika hal ini memungkinkan untuk dilakukan pada Negara yang memiliki mayoritas penduduk Kristen, konskuensi pelanggaran hukum justru menjadi resiko yang tak terhindarkan mengingat ekspresi dari penerapannya tidak menutup kemungkinan bagi tindakan-tindakan anarkis. Ini merupakan sebuah dilematis yang sangat tidak relevan. Maka pandangan submisions alkitabiah versi anti pemaksaan adalah padangan yang paling ideal dalam kontejs etika Kristen dan  bagi penulis.

3. PERIHAL TOLERANSI.

    Dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia, keinsyafan batin orang percaya perihal toleransi beragama merupakan kesepakatan bersama founding fathers yang dirumuskan dalam filosofi kebhinekaan yang tertung dalam UU pasal 18, oleh karena didasarkan atas semangat kebersamaan dalam perbedaan menuju kesejahteraan bersama. Sebagai generasi yang lahir kemudian, hal ini merupakan warisan kebudayaan dan kebangsaan yang memiliki peran sentral untuk menjaga kedaulatan bangsa.[2]  

            Sepanjang perjalanan sejarah gereja, hal ini pun secara tak terhindarkan hadir dalam komunitas-komunitas Kristen, baik Gereja-gereja Timur maupun Barat. Bahkan jauh sebelumnya, para Rasul juga menghadapi dan memberikan teladan sikap yang sama (menjunjung tinggi toleransi tanpa mengkompromikian kebenaran iman), baik ketika mereka di tengah-tengah umat Yudhaisme, maupun di tengah-tengah kalangan penganut agama pagan Yunani-Romawi. Meski demikian, penegasan akan batas toleransi tersebut perlu digaris bawahi sehingga sebagai orang percaya, umat Tuhan tidak terjebak dalam sinkretisme atau semacam kompormi yang pada akhirnya jatuh pada keyakinan pluralisme[3] agama. Toleransi yang sehat menerima keberagaman, namun sikap toleransi tersebut tidak mengkomporimikan atau mendegradasikan nilai-nilai kebenaran absolut iman Kristen terhadap keyakinan lain.
           
            Meski demikian, terdapat kecenderungan yang keliru ketika isu tersebut digemakan dalam komunitas Kristen. Kecenderungan negatif yang timbul adalah kemandulan pemberitaan Injil. Sikap toleransi yang salah tempat, pada umumnya menyebabkan umat Tuhan enggan dan segan untuk memberitakan Injil oleh karena perasaan takut menyinggung dan menimbulkan masalah. Pemberitaan Injil dan tidak toleran adalah dua hal yang berbeda. Pemberitaan Iniil tidak menjadikan umat Tuhan tidak toleran, oleh karena sifat dasarnya yang hanya menyangkut “pemberitaan” bukan “pemaksaan”. Sebagai warga negara yang baik, toleransi beragama harus dijunjung tinggi, namun tetap waspada agar tidak terjebak dalam kompromi/sinkretisme, dan terus memberitakan Injil.

            Sementara kebebasan berpendapat dinyatakan oleh UU pasal 19. Kebebasan berpendapat merupakan salah satu hal penting yang terkait dengan kebebasan beragama, sekaligus menyatakan hak-hak menyakut kemajuan kemanusiaan oleh karena pendapat juga berkaitan erat dengan ide penemuan atau rumusan ilmiah populer. Oleh karena itu kebenasan berpendapat perlu didukung namun dalam kerangka hukum serta norma etika yang jelas. Sejarah gereja telah memperlihatkan masa kelam dimana gereja juga terjebak dalam penghakiman yang tidak seharusnya. Meski demikian, kebebasan berpendapat sebagai umat Tuhan dalam konteks etika Kristen perlu didukung namun harus dilakukan dalam koridor payung hukum yang berlaku serta norma-norma etika yang sepadan, dalam hal ini sesuai dengan prinsip-psinsip kebenaran Alkitab.

4. PERIHAL HUKUMAN MATI.

    Secara umum padangan etika Kristen yang penulis anut adalah pandangan retribusionisme. Padanngan yang melegitimasi hukuman mati oleh pemerintah/otoritas sesuai dengan kasus khusus/kejahatan besar tertentu. Penerapan hukuan mati dalam pandangan ini bertujuan untuk menghukum. Titik tolak posisi penulis adalah karena dari kedua pandangan etika lainnya (rehabilitasionisme dan rekonstruksionisme) ), pandangan ini (retribusionisme) yang memiliki dalil alkitabiah yang cukup kuat, serta relevan dan dapat diterapkan di dalam hukum positif kenegaraan bahkan jika memungkinkan, dalam jangakauan hukum universal. Alasan relevansinya adalah karena natur dosa yang memperbudak manusia pada tahap tertentu dapat memimpin manusia itu pada tingkat kejahatan yang mengerikan dan sadisme. Dalam konteks demikian hukuman mati dapat saja diterapkan.

            Meski demikian, dalam penerapannya penulis cenderung pesimistik terhadap keadilan yang digagas oleh keputusan manusia. Perbedaan mendasarnya terletak pada hal ini; Pertimbangan hukuman mati oleh Allah dan Manusia. Meskipun gagasan ini mengakomodasi pertimbangan biblical yang cukup kuat, namun kelemahannya adalah semua dalilnya berpatokan para “kesamaan prinsip hukuman mati” yang dipertahankan oleh PL dan PB, sedangkan pada umumnya, psinip yang disarikan itu secara keseluruhan merupakan gambaran hukuman mati yang secara langsung dilakukan oleh Allah. Dari hal ini, pertimbangan utamanya menjadi jelas. Ketika Allah melakukan penghukuman (mati), dasar pertimbangan dan keadilan yang dilakukan-Nya itu sempurna, sementara peradilan dan pertimbangan yang dilakukan oleh pemerintah (yang mana merupakan wakil Allah jika merujuk pada dalil Roma 13), dapat saja salah, keliru, dan sesat. Salah satu contoh kasus di Indonesia adalah eksekusi Tibo cs, pada 22 september 2006 yang justru lebih sersifat politis dan sosiologis, ketimbang memenuhi asas keadilan.[4] Kasus tersebut menjadi pembuktian yang sangat nyata mengenai pesimistik penulis terhadap penerapan hukuman mati secara adil oleh pemerintah.         

            Hal berikunya yang perlu dikaji lebih jauh adalah menyangkut batasan mengenai kata “kejahatan besar” (kejahatan tertentu) yang dimaksud. Kejahatan besar seperti apakah yang patut menerima hukuman mati? Penafsiran ini tentu saja akan berbeda dalam penerapan dan kebijakan masing-masing Negara sesuai dengan nilai-nilai ideologi, politik, budaya, dan agama yang ikut memberikan kontribusi terhadap penafsirannya (penegakan HAM misalnya yang digagas oleh PBB, ditolak oleh negara-negara Arab oleh karena pertimbangan hukum mereka yang ditegakkan berdasarkan hukum Islam). Perbedaan batasan tersebut pada masing-masing pemerintahan akan menimbulkan pertanyaan lanjutan: “Jika batasan hukuman mati pada masing-masing Negara berbeda-beda, maka Negara manakah yang dapat benar-benar dianggap sebagai wakil Allah yang absolut?” Sebagai wakil Allah yang satu itu, dapatkah masing-masing Negara menerapkan standar hukum yang berbeda, sedangkan sumbernya berasal dari satu kebenaran Allah yang absolut? Meskipun  tentu jawabannya akan berpulang pada keadaan mansuia yang telah jatuh dalam dosa sehingga timbul ragam pandangan dan penafsiran, dan Allah yang mungkin saja mengijinkan perbedaan tersebut, akan tetapi hal tersebut tetap saja menjadi pembelaan yang lunak, karena tidak pernah sampai kepada keseragaman universal tentang penegakan keadilan yang mengatasnamakan kebenaran Allah yang absolut dan universal.

            Sebagai kesimpulan, meskipun penulis mendukung penerapan hukuman mati, namun sekali lagi, di dalam keadaan dunia yang telah jatuh dalam dosa, penulis pesimis dengan setiap petimbangan hukuman mati yang dijalankan pemerintah, meskipun hal ini tidak dimaksudkan sebagai suatu usaha generalisasi (karena tentu dalam kasus-kasus tertentu yang dapat dibuktikan secara sah dan meyankian secara hukum dapat dijalankan), namun harus diakui bahwa akan sangat sukar untuk memenuhi asas keadilan, selain hanya sampai pada pemenuhan asas penghukuman. Peradilan manusia hanya dapat sampai pada pemenuhan asas penghukuman namun tidak dapat sampai pada asas keadilan. Pertimbangan dasar ini yang menjadi posisi etika penulis.

5.     PERIHAL KEMISKINAN DAN TANGGUNGJAWAB TERHADAPNYA.

     Tanggungjawab yang diemban orang Kristen terhadap pelayanan kaum marginal didasari oleh kasih dan kepedulian Allah terhadap orang misikin seperti yang terlihat dalam banyak ayat baik di dalam PL (Im. 19:10; 23:22; Ams. 22:7,9 ; 28:27Ul. 12:11-3; 15:4-6; Mzm. 72:12-14; Yes. 41:17; dst). Demikian halnya di PB ( Yoh. 13:27-29; Gal.2:10; Rm 15:25-27, dst). Kemudian tanggungjawab itu diemban dengan beberapa alasan:
1.      Tuhan memberkati kita sebanding dengan apa yang kita berikan keopada orang miskin (Ul. 15:1-6; Ams. 22:9; 28:27, bdk. dengan Yeh. 16:49)
2.      Kita memuliakan Tuhan dengan cara menyatakan belas kasih kepada orang miskin (Ams. 14:31).
3.      Belas kasih kepad aorang miskin merupakan salah satu kriteria untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mrk. 12:30-31; Mat. 25:34-36, 40, 45-46).
4.      Tindakan belas kasih yang dilakukan untuk orang miskin adalah merupakan tindakan mengumpulkan harta di Sorga (Luk. 14:13-14)
5.      Harta orang yang mengenakan riba diberikan kepada orang yang menruh belaskasihan kepada orang lemah (Ams. 28:8).
           
            Sementara tiga langkah praktis yang digagas gereja masa kini dalam rangka mengentaskan kemiskinan di Indonesia adalah mengusahakan tiga sektor penting yaitu: Pendidikan (sekolah-sekolah), Kesehatan (sarana dan prasarana kesehatan), dan Ekonomi (gerakan-gerakan sosial baik berupa bantuan langsung, pelatihan, sosialisasi, maupun seminar). Kemiskinan bukanlah isu sentral yang berdiri secara tunggal, oleh karena kemiskinan dihasilkan dari akumulai beragam faktor penyebab yang kompleks, dan ketiga faktor tersebut merupakan indikasi kuat terhadap penyumbang angka kemiskinan di Indonesia. Peran gereja dalam usaha pementasan kemiskinan dalam sector tersebut hingga saat ini terus belangsung dan terus meningkat, meksipun belum maksimal.[5] Usaha-usaha tersebut juga terlihat dari banyaknya didukung oleh lembaga-lempaga parachurch yang ikut terlibat.

            Namun disisi lainnya, harus juga diakui bahwa terjadi pergeseran yang cukup signifikan terutama perihal visi pada bidang pendidikan. Pergerakan sekolah-sekolah Kristen “unggulan” saat ini lebeh cenderung mengarah kepada pencapaina profit, gengsi, eksistensi, dan hal-hal sekunder lainnya, dibandingkan dengan pencapaian misi dan semangat etika Kristen yang semula.  Jika demikian, maka sudah pasti jangkauan dari sekolah-sekolah tersebut hanya mendarat pada kalangan menengah-atas saja dan sama sekali tidak menyentuh kalangan bawah, apalagi miskin.
           
            Dalam konteks gereja lokal, penerapan langkah praktis gereja yang dinyatakan dalam bentuk persembahan kasih (diakonia) rutin, seringkali justru menjadi factor pemicu kemalasan dan timbulnya mentalitas ngemis kasih. Beberapa Jemaat bahkan dengan sengaja menjadi simpatisan dari sebagain gereja besar dengan harapan dapat memperoleh dukungan finansial bulanan. Menimbang hal ini maka perlu kebijakan dan edukasi yang tepat dari pihak gereja sehingga dapat mengaplikasikan amanat kasih Kristus tanpa mengkerdilkan mentalitas Jemaat yang berada dalam kondisi ekonomi buruk.

6.      PERIHAL ETIKA KERJA.

     Kerangka kerja etika umat kristinani menurut Titus 2:9-10, Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. Kerangka kerja yang dijabarkan dalam ayat ini meliputi lima pokok penting, yaitu: Kesatu, ketaatan terhadap pemimpin. Kedua, memiliki hasil kerja yang senantiasa memuaskan hati pemimpin. Ketiga, mampu mengatasi konflik dengan benar. Keempat, kejujuran dan integritas yang memadai. Dan kelima, tulus dan setia.

            Tentu saja penerapan prinsip kerja ini tidak dilandasi dengan semangat/motivasi memperolah seleri tinggi atau promosi yang lebih baik, oleh karena semuanya itu merupakan konsekuensi logis dari seorang pekerja Kristen yang memenuhi kriteria tersebut. Sebaliknya, semangat kerja tersebut merupakan manifestasi dari kehidupan seorang Kristen yang saleh dan usaha untuk menjadi terang dan garam dunia (Mat. 5:14, 16). Orang-orang demikian akan melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhah dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23).

7.      PERIHAL KEWAJIBAN PERUSAHAAN TERHADAP KARYAWAN.

   Kewajiban Karyawan Terhadap Perusahaan. Terdapat tiga bentuk kewajian karyawan terhadap perusahaan dalam pandangan etika Kristen, yaitu :Kewajiban Ketaatan, Kewajiban Konfidensialitas, dan Kewajiban Loyalitas. Ketiga kewajiban tersebut sesuai dengan prinsip dasar pekerja Kristen yang dijabarkan pada etika kerja di atas.

            Kewajiban Ketaatan. Meskipun salah satu bentuk kewajiban yang perlu dijalankan oleh seorang karyawan adalah ketaatan, namun bukan berarti segala sesuatu harus taat secara multak kepada perusahaan. Untuk itu ada beberapa hal yang tidak perlu ditaatati oleh seorang karyawan, atara lain:
o   Karyawan tidak perlu dan malah tidak boleh mematuhi perintah yang menyuruh dia melakukan sesuatu yang tidak bermoral (Mencuri, menipu, manipulasi, dll).
o   Karyawan tidak wajib juga memathi perintah atasannya yang tidak wajar, meskipun dari segi etik tidak ada pelanggaran (memperbaiki mobil, renovasi rumah, mengantar keluarga atasan, dll).
o   Karyawan juga tidak perlu mematuhi perintah yang memang demi kepentingan perusahaan, tetati tidak sesuai dengan tugas yang telah disepakati (jobdesk) ketika ia menjadi karyaan di perusahaan itu (mengerjakan tugas bagian lain, dll).
            Kewajiban Konfidensialitas.[6] Kewajiban konfidensialitas adalah suatu kewajiban untuk menyimpan informasi yang bersifat konfidensial (rahasia), yang diperoleh oleh karena suatu profesi/jabatan tertentu. Hal-hal ini menyangkut baik profesi (Dokter, Akuntan, dll), trade secrets (rahasia perusahaan—bahan baku, bumbu tertetu), hingga future plan (rencana masa depan perusahaan).

            Kewajiban Loyalitas. Kewajiban loyalitas merupakan konsekuensi dari status seseorang sebagai karyawan. Dengam memulai bekerja di suatu perusahaan, karyawan harus mendukung tujuan-tujuan perusahaan, karena sebagai karyawan ia melibatkan diri untuk turut merealisasikan tujuan-tujuan tersebut, dank arena itu pula ia harus menghindari segala sesuatu yang bertentangan dengannya.
8.   PERIHAL KEWAJIBAN KARYAWAN TERHADAP PERUSAHAAN.

    Kewajiban Perusahaan terhadap karyawan meliputi tiga hal utama: Kesatu, Perusahaan tidak boleh mempraktekkan diskriminasi. (warna kulit, gander, orientasi seksual, cacat tubuh. Sementara dalam konteks Indonesia, diskiriminasi lebih banyak terjadi dalam hal pribumi dan non-pribumi). Kedua, Perusahaan harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja/pekerja. Dan ketiga, kewajiban memberikan gaji yang adil.

            Ketiga kewajiban ini merupakan prisip etika umum yang bukan hanya disepakati oleh etika kerja Kristen, namun juga etika kerja universal. Namun tentu pada prakteknya banyak pertimbangan yang dilakukan perusahaan terhadap penerapan kewajiban tersebut, mulai dari kondisi geografis, keuangan, kontrak kerjasama/kesepakatan dengan perusahaan lain , dan kebijakan lainnya.

9.      PERIHAL KUADRUM EKONOMI.

    Terdapat empat kuadrum ekonomi dalam perspektif etika Kristen. Kuadran 1: Kaya dan Beriman. Orang-orang yang tergolong dalam kuadran ini adalah mereka yang beriman dan memiliki kekayaan yang melimpah seperti Abraham maupun Ayub. Pada Kuadran 2: Miskin tapi Beriman, diwakili oleh tokoh-tokoh kitab suci seperti Janda di Sarfat. Meskipun miskin, namun ia memilki iman yang kokoh dalam menghadapi pergumuluan. Contoh lainnya juga tentang Janda miskin yang memberikan persembahan dua peser ke Bait Allah. Kuadran 3: Miskin dan tidak beriman. Komunitas yang tergolong dalam kuadran ini adalah mereka yang masih hidup di luar Kristus sekaligus hidup dibawah garis kemiskinan, seperti sebagian Negara-negara di Afrika, Pakistan, dan India. Dan yang keempat, Kuadran 4: Kaya tapi tidak beriman, diwaili oleh gambaran orang-orang farisi yang dikecam Kristus, Anak muda kaya (Mat. 19), atau pada masa kini diwakili oleh sejumlah konglomerat yang hidup di luar Kristus.

            Dalam konteks iman Kristen, mengusahakan umat Tuhan yang sedang berada pada kuadran 2 menuju kuadran 1 (atau minimal keluar dari standar/kriteria/indicator yang ditetapkan pemerintah tentang masyarakat miskin), tentu perlu mengkombinasikan antara prinsip berkat Tuhan dan prinsip kerja keras—cerdas (Rajin, Jujur).        Prinsip berkat Tuhan, oleh karena perihal pintu berkat hanya Tuhan yang mampu membukanya (Mzm. 127:1-2; Ams. 10:22). Dengan kata lain, kerja keras dan kerja cerdas tidak akan memperoleh hasil apapun, atau memperoleh hasil tetapi dengan mudahnya “menguap” begitu saja oleh karena tidak disertai dengan perkenana Tuhan atasnya. Pada kasus-kasus tertentu yang sukar, hal-hal yang tidak terpikirkan terkadang justru menjadi pintu berkat bagi mereka yang menyertakan Tuhan dalam perjuangan kerja mereka. kunci utamanya oleh karena Tuhan adalah sumber berkat ultimat, manusia yang menjadi atasan atau owner hanyalah saluran berkat yang Tuhan dapat gunakan seturut kehendak-Nya.

            Jika prinsip pertama menyertakan dan mengandalkan Tuhan (dari atas), maka prinsip kedua adalah take action (dari bahwah—kerja keras, cerdasa, dan
 jujur). usaha yang dimaksud adalah prinsip kerja keras dan kerja cerdas. Akan tetapi prinsip ini juga perlu dilandasi dengan semangat etika Kristen seperti yang dijabarkan dalam Titus 2:9-10. Kedua prinsip ini jika dilaksanakan dengan tekun, tidak mungkin keadaan ekonomi orang percaya yang berada di kuadran 1 tidak mengalami perubahan. Cepat atau lambat, pasti ada peningkatan dan perbaikan ekonomi. Dunia kerja secara universal merupakan dunia realitas pertimbangan rasionil menuju kemajuan dan profit perusahaan (bahkan jika anak Tuhan tersebut berwiraswasta), dengan demikian, tidaklah mungkin jika seorang anak Tuhan yang saleh, memiliki skill, kecerdasan, serta kecakapan kinerjanya tidak memperoleh promosi atau perbaikan ekonomi.  

10.  PERIHAL KEKAYAAN.

    Kekayaan merupakan salah satu berkat yang Tuhan sediakan bagi manusia demi untuk memeprmuliakan-Nya, namun kejatuhan menjadikan manusia diperbudak dan dikendalikan (kdang juga oleh kuasa jahat) oleh kekayaan. Tujuan akhir dari kekayaan sama seperti tujuan dinyatakan kekayaan itu kepada manusia—semuanya akan berpulang kepada kemualiaan dan pengagungan Allah.

          Dalam penerapannya terdapat dua cara yang digunakan Allah untuk mnegembalikan kekayaan bangsa-bangsa kepada-Nya. Cara kesatu, Tuhan membawa kekayaan bangsa-bangasa melalui umat-Nya (Mi. 4:13). Pada proses ini Tuhan menngunaka umat-Nya sebagai rekan sekerja yang terlibat didalamnya. Cara kedua, bangsa-bangsa dengan sukarela membawa kekayaan mereka kepada Tuhan (Why. 21:22-26). Cara keuda tersebut merupakan alternatif lain jika cara pertama tidak dapat bejalan oleh karena faktor-faktor tertentu dari suatu bangsa. Meski demikian, kekayaan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu bagian dari janji Allah kepada umat-Nya (Yes. 60:11; 66:120) yang akan diterima pada saat umat Tuhan berfungsi sebagai Imam dan pelayan Tuhan (Yes. 61:6).


             Sementara kaitannya dengan amanat agung adalah kekayaan yang cukup dapat menjadi sarana pendorong dan kekuatan operaisonal misi Injil hingga ke ujung dunia. Perjalanan-perjalanan misi tentu memerlukan biaya yang cukup besar, baik biaya transportasi, akomodasi, dan penungjang lainnya. Tanpa kekayaan (baca: dana) yang cukup, jangkauan misi Injil juga pasti tidaklah maksimal, meskipun  hal tersebut bukanlah satu-satunya factor penentu, namun harus diakui bahwa kekayaan/dana misi ikut mempengaruhi pergerakan dan pengembangan misi Injil Kerajan Allah.




                [1] Pada bagian, respons kaun anti eksploitasi hukum terbagi dua golongan, ada yang pro terhadap pendekatan demonstrasi tanpa kekerasan, namun ada juga yang pro terhadap pendekatan kekerasan bahkan hingga melegalkan pembunuhan.
                [2] Salah satu contoh yang paling rill adalah pada peristiwa kerusuhan di Ambon. Pemulihan kota Ambon dapat terjadi dengan cukup cepat oleh karena terdapat semcam warisan kebudayaan (dalam istilah orang Maluku dikenal dengan  sebutan “Pela-Gandong”) yang mengikat masyarakat yang berbeda keyakinan—Kristen-Islam, dalam satu tradisi persaudaraan dan toleransi yang kuat.
                [3] Keyakian bahwa semua agama sama-sama benar, dan sama-sama menghantarkan manusia ke sorga, hanya dengan jalan/nama yang berbeda. Pada era postmodern saat ini, kaum pluralism memiliki dukungan yang lebih kuat oleh gencarnya filsafat postmodernisme yang mendestruktualisasi (J. Deridda) kebenaran objektif menuju kebenaran relative berdasarkan individu maupuan asyarakat komunal tertentu dalam konteks budayanya sehingga kekristenan juga ikut terkena dampaknya.
                [4] Untuk kasus ini, penulis sama sekali tidak setuju dan  mengutuk keras oknum-oknum pemerintahan yang menggunakan perangkat negara serta mengambil keputusan dan pertimbangan hukum yang menyesatkan sesuai dengan kepentingan-kepentingan golongan tertetu.
                [5] Kecuali mungkin di daerah tertentu yang mayoritas masyarakatnya didominasi oleh umat Kristen. Kemudian ketidakmaksimalan peran gereja juga oleh kerana tentu selain terbatas dalam hal keuangan, dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayorotas non Kristen, gerakan sosial gereja juga selalu dibatasi, diawasi, dan dicurigai, meskipun maksud dan tujuannya jelas sesuai dengan panggilan sebagai Umat Allah dan sejalan dengan amanat  UU yang konstitusional.
                [6] Konfidensialitas berasal dari kata Latin “Confidere”, yang berarti “mempercayai”.

Senin, 05 Agustus 2019

DOKTRIN KRISTEN : ALLAH TRITUNGGAL




DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL

Oleh: Yosep Belay.

Pendahuluan.

          Keyakinan iman dan teologi Kristen memiliki keunikan tersendiri khususnya dalam konsep teologi Proper (doktrin Allah—Tritunggal). Doktrin tersebut unik sekaligus rumit sehingga pada perkembangannya di setiap zaman, doktrin Allah Tritunggal menjadi polemik yang diperdebatkan secara masif baik dalam lingkungan kekristenan maupun ketika berhadapan dengan keyakinan non-Kristen. Melalui pengajaran ini pula, kita menjumpai perbedaan yang tajam dengan para kalangan bidat baik pada gereja mula-mula maupun zaman modern saat ini, misalnya Saksi Yehovah dan Unitarian (yang dalam beberapa hal memiliki pandangan serupa dengan konsep allah dalam Islam). Singkatnya, doktrin Allah Tritunggal merupakan aspek yang fundalamental dimana oleh doktrin tersebut kita dapat membedakan yang ortodoksi dan yang bukan ortodoksi.[1]

          Kesulitan yang umum dijumpai dalam mempelajari doktrin ini adalah karena cakupan bahasannya yang menggunakan terminologi filosofis metafisik, dengan pemaknaan yang ketat dan mendalam sehingga sulit untuk dipahami oleh jemaat awam. Belum lagi keterbatasan natur kita sebagai ciptaan yang terbatas dan korup karea dosa, tidak memungkinkan untuk memahami misteri Allah sebagai pencipta. Namun kata “sulit” bukan berarti tidak dapat dipahami. Sebaliknya, ungkapan “dapat dipahami” juga bukan berarti bahwa kita dapat secara menyeluruh memahami Pribadi agung Allah (Ayb. 36:26; Yes. 55:8-9). Pernyataan ini hanya ingin menegaskan bahwa setidaknya kebenaran yang telah Ia nyatakan melalui firman-Nya (Alkitab) kepada kita, dapat menghantarkan kita untuk mengenal lebih dekat tentang Pribadi-Nya yang agung dan penuh misteri itu sesuai dengan batasan wahyu yang dinyatakan (Ul. 29:29; Rm. 11:33). Meski demikian, penekanan yang penting perlu kita pahami bahwa penyataan wahyu Allah melalui kebenaran firman-Nya adalah kebenaran dan pengetahuan yang benar, karena kebenaran itu berasal dari Allah yang adalah kebenaran (1 Yoh. 5:20).[2] Atau seperti yang diungkapan oleh Katekismus Westminster, “Satu-satunya alasan kita untuk mempercayai doktrin Trinitas adalah semata-mata karena Alkitab tidak memberikan kemungkinan bagi pandangan lain.”[3]

          Akan tetapi pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan berikutnya adalah mengapa penting memahami pengajaran mengenai Allah Tritunggal? Belajar untuk mengenal Allah merupakan panggilan terpenting umat manusia, terutama bagi umat Tuhan. Hal ini penting karena mengenal Allah yang benar akan menghantarkan kita pada pengenalan yang benar pula mengenai; siapa kita, apa fokus dan tujuan hidup kita yang sejati, keyakinan iman dan pengharapan yang teguh dimana kita berpaut, serta relasi kita dengan sesama dan alam semesta. Untuk itu pengajaran ini merupakan salah satu pengajaran yang penting bagi iman Kristen. Sebagaimana yang dinyatakan J.I. Packer, “Kita sedang bersikap kejam pada diri sendiri jika kita berusaha untuk hidup di dunia ini tanpa berusaha untuk tahu apa pun tentang Allah yang menjadi pemilik dan pemelihara dunia ini.”[4]

          Sebaliknya, pengenalan yang keliru tentang Allah akan bedampak pada kesesatan eksistensial. Dengan kata lain, jika kita tidak mengenal Allah yang sejati, maka tentu kita memiliki semacam konsep yang keliru dalam penyembahan kepada allah palsu, dimana wawasan dunia spiritual tersebut menjadi panduan dan pengharapan  yang mengahantarkan kita pada kesesatan dan kebinasaan kekal (Bdk. Hos. 4:6; Mzm. 49:14-15). Selain itu  tujuan terpenting panggilan umat Tuhan adalah memberitakan amanat agung Kristus (Mat. 28:19-29), dan hal tersebut dimulai dari pengenalan yang benar akan Allah Tritunggal sebagaimana yang ditunjukan Tuhan Yesus dalam perintah baptisan, “...baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Suatu deklarasi iman yang sangat nyata mengenai Allah yang unik dalam ke-Tritunggalan-Nya yang kudus. 

Tinjauan Sejarah Singkat.

          Istilah “Tritunggal” tidak terdapat di dalam Alkitab. Namun istilah tersebut merangkum kebenaran yang terpancar dari Alkitab mengenai Allah. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Tertulianus, bapa gereja Latin (155 M - 220 M) dalam tulisannya Adversus Praxean. Sebuah pembelaan iman Kristen terhadap pandangan sesat dari salah seorang tokoh yang bernama Praxeas pada zaman itu.[5] Ia mengatakan bahwa Ketiganya adalah tiga, “bukan dalam kondisi, tetapi dala tingkat, bukan dalam substansi tetapi dalam forma; bukan dalam kuasa tetapi dalam aspek; namun dari satu substansi (unius autem substantiae), dan dari satu kondisi, dan dari satu kuasa, karena Ia adalah Allah yang esa.”[6] Dalam perkembangannya, bersama dengan dua rekannya Ireneus dan Origenes, doktrin Tritunggal Kudus digumuli hingga pada puncaknya dirumuskan dan disahkan sebagai pengakuan iman dibawah pimpinan Athanasius dalam sidang konsili Nicea (325 M).

          Doktrin Allah Tritunggal pada abat ke-4 yang terus diserang oleh bidat Arianisme, kemudian kembali dipertahankan oleh serangkaian pembelaan yang kuat oleh Bapa-bapa Kapadokia. Basilius dari Kaisarea, sahabatnya Gregorius dari Nazianzus, dan adiknya Gregorius dari Nyssa. Ketinganya berasal dari salah satu bagin propinsi Romawi yang terletak di Turki zaman sekarang. Dalam pembelaanya, mereka menjabarkan kerangka Tritunggal Athanasius dengan lebih jelas dan gamblang. Basilius dalam salah satu suratnya menjelaskan demikian,

“Perbandingan hakikat terhadap hypostatis sebagai yang universal terhadap yang khusus. Masing-masing kita mempunyai bagian dalam eksistensi melalui hakikat yang sama, namun masing-masing kita    adalah individu yang khusus karena mempunyai sifat-sifat   tersendiri.”[7]

Basilius mengangkat dua tema penting dalam penjabarannya yang membedakan sekaligus menyatukan masing-masing Oknum Allah, yaitu “Hakikat” dan “Hypostatis”. Misalnya sebagai manusia, kita memiliki hakikat yang sama yaitu “kemanusiaan” kita. Sementara didalam hakikat sebagai “kemanusiaan” itu kita secara pribadi juga memiliki “Hypostatis” yang berbeda sebagai ciri khusus yang menggambarkan kepribadian kita itu berbeda dengan yang lainnya. Hal ini yang mendasari keyakinan dasar Allah Tritunggal ortodoksi, bahwa ketiganya—Bapa, Anak, Roh Kudus—Esa dalam “Hakikat” ke-Allahan, namun sekaligus tiga dalam “Hypostasis” (Persona/Person/Pribadi) yang berdeda dan membedakan Mereka.

          Generasi ketiga pasca Baba-bapa Kapadokia yang kembali merumuskan kebenaran ini dengan lebih sistematik adalah Agustinus. Ia merumuskan dan melengkapinya dengan beberapa analogi (meskipun terbatas) kemudian merangkumnya dalam pengakuan iman Atanasius yang diterima secara universal oleh semua gereja yang Am hingga saat ini (baik Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental (sebagian), mau pun gereja-gereja Reformasi; Protestan, Pentakosta, dan Kharismatik). Pada abat pertengahan hingga pasca reformasi, doktrin Allah Tritunggal telah menjadi salah satu doktrin iman kristen yang fundamental dan final. Tentu saja diluar kalangan bidat seperti Saksi Yehovah yang meskipun diakui Negara sebagai salah satu denominasi Kristen di Indonesia, namun secara tradisi dan penyataan Kitab Suci mereka tentu berada di luar keyakinan iman Kristen.  

Tritunggal Dalam Pemaknaan.

          Seperti yang telah disampaikan di atas, secara hakikat, Allah tidak dapat dikekang dalam sebuah rumusan-rumusan kalimat teologis. Namun rumusan teologis yang alkitabiah sangatlah penting dan perlu (meski terbatas) sebagai instrument pengajaran dasar yang dapat memimpin umat-Nya, sesuai dengan wahyu Allah, untuk dapat mengenal Allah yang sejati dalam misteri ke-Tritunggalan-Nya yang supra rasio (melampaui akal budi/rasio kita).

          Rumusan dogma Trinitas dalam pemaknaannya tidak terlepas dari apa yang Tertullian telah jabarkan. Hal ini yang juga dijumpai dalam pandangan dari beragam teolog Injili. Paul Enns mendefinisikan Tritunggal sebagai, “Tiga Pribadi yang satu tanpa keterpisahan eksistensi, secara komplet bersatu untuk membentuk satu Allah. Natur Ilahi hidup dalam tiga perbedaan—Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Carles C. Ryrie mengutip Warfield, mengatakan bahwa: “Ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi dalam keesaan dalam Keallahan ini ada tiga Pribagi yang sama kekal dan sepadan, sama dalam hakikat tetapi berbeda dalam Pribadi.”[8] Dengan penjabaran serupa R.C Sproul mengatakan bahwa, “Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini merupakan suatu hal yang misteri dan paradoksal tetapi tidak kontradiksi.”[9]

          Atau dalam penjabaran yang lebih terperinci namun sedikit rumit oleh Ensiklopedi Alkitab Masa Kini; “Ajaran Tritunggal mengajarkan bahwa Allah satu dalam harkat dan hakikat-Nya, tetapi dalam dirinya-Nya terdapat tiga Oknum yang tidak membentuk perseorangan yang tersendiri dan berbeda. Akan tetapi tiga ‘Oknum’ adalah ungkapan yang tidak sempurna untuk mengungkapkan kebenaran itu karena ungkapan itu mengartikan kepada kita perseorangan yang tersendiri, yang berbudi dan bias memilih. Padahal dalam hakikat Allah, BUKAN tiga perseorangan, tetapi hanya tiga pembedaan dalam diri Allah yang satu seutuhnya.”[10] Sebagaimana yang disampaikan juga oleh Matakupan, “Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang esa memiliki tiga pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Allah yang memiliki tiga pribadi bukan berarti tiga Allah, melainkan satu Allah. Dengan demikian, tiga Pribadi di sini bukan dalam pengertian arti kata biasa; bukan merujuk kepada tiga individu, tetapi lebih kepada tiga cara/bentuk dimana Roh Ilahi bereksistensi (sesuai dengan kesaksian kitab suci).”[11]  

          Keesaan dari Allah ini dinyatakan sebagai esensi-Nya (hakikat) atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam tiga Pribadi. Ketiga Pribadi tersebut adalah sederajat (co-equal), sama-sama kekal (co-eternal), sama-sama ada dengan sendirinya (co-existent), dan sama-sama berkuasa (co-powerfull).[12]    

Ajaran-ajaran yang Keliru tentang Allah Tritunggal.

      Tri-Theisme. Tri-Theisme mengajarkan/menafsirkan secara keliru bahwa Allah Tritunggal sama dengan Tiga Allah. Atau terdapat tiga Allah yang memerintah layaknya Tri Murti dalam keyakinan Hinduisme, atau juga dalam kesaksian Qur’an yang seolah-oleh menuduh kaum Nasrani menempatkan Isa (Tuhan Yesus) dan Mariam (Ibu Maria) sebagai “dua Tuhan” lain di selain Allah Bapa. Tentu saja  hal ini keliru, karena keyakinan dasar Rasuli dan Bapa-bapa gereja mula-mula (yang bertolak dari Kitab Suci dan sejarah seperti yang telah dibahas di atas) tidak pernah mengajarkan demikian. Justru kekristenan menentang paham demikian, dan paham ini justru termasuk dalam penyembahan kepada banyak allah (Politeisme).

          Sabellianisme atau Modalisme. Pandangan ini berasal dari Sabellius (200 M) yang mengajarkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah tiga cara manifestasi dari satu Allah yang sama. Pada perjanjian Lama, Allah yang satu itu menggunakan bentuk “Bapa”, kemudian pada peristiwa inkarnasi, Ia menggunakan bentuk sebagai “Anak”, dan bentuk terakhir, Ia menampakkan diri sebagai “Roh Kudus”. Jadi menurut pandangan ini, baik Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sesungguhnya hanya satu Oknum Ilahi saja yang menggunakan “tiga topeng” atau “tiga peran” berbeda (layaknya seorang aktor) dalam tiga masa pelayanan-Nya. Kekeliruan ini yang paling sering dijumpai dalam pemahaman jemaat awam ketika menjelaskan tentang Allah Tritunggal. Analogi-analogi seperti, Pendeta-Guru-Ayah, dan Air yang dapat berupa bentuk Cairan-Uap-Es, atau analogi yang serupa justru tidak mengakomodasikan konsep Allah Tritunggal, tetapi pengajaran menyimpang Sabelianisme/Modalisme.

          Subordinatianisme. Paham ini mengajarkan bahwa Tuhan Yesus lebih rendah hakikat-Nya dari Bapa, dan Roh Kudus lebih rendah dari Tuhan Yesus dan Bapa. Jadi terdapat semacam hierarki dalam hal ahkikat pada ke-Tritunggalan Allah. Contoh yang paling jelas dari paham ini adalah pengajaran dari para Saksi Yehovah. Ajaran demikian berakar dari kekeliruan Origenes yang penekanannya mendekati konsep dualisme Platonis. Pandangan Plato ini mengajarkan bahwa allah yang menciptakan dunia itu adalah “allah kecil” (demiurgos) yang lebih rendah dari Allah sejati yang transenden. “Allah yang lebih kecil” itu diidentifikasikan oleh Origenes sebagai Sang Logos (Kristus). Pandangan ini diteruskan oleh Arius (bidat) yang berseberangan dengan Tertullian pada abat ke-3, dan berlajut hingga kini dengan beberapa bentuk dan modifikasi seperti Saksi Yehovah.

Ke-Esaan Allah Sekaligus Ke-Tritunggalan Allah dalam Kitab Suci.

          Pada bagian ini kita akan sama-sama melihat dasar-dasar Alkitab sebagai penyataan wahyu Allah akan kebenaran mengenai Tritunggal kudus.

          Tidak dapat dipungkiri bahwa Alkitab baik dalam PL maupun PB secara konsisten memproklamasikan Allah kita sebagai Allah yang Esa. Ke-Esaan-Nya ini menjadi Shema Israel (pengakuan iman umat Israel) yang dibacakan diawal peribadatan mereka, baik ibadah harian maupun sabbat. Pengakuan iman ini diambil dari kitab Ulangan 6:4,

          “Dengarlah hai Israel; TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

          “Syema’ Yssrael, Adonay eloheinu, Adonay echad!”  

Ayat ini juga dapat diterjemahkan sebagai, “Tuhan adalah Allah kita, Tuhan saja!” Terjemahan ini menekankan keunikan Allah lebih daripada keesaannya, tetapi sekaligus mengandung arti keesaan yangs ekaligus mengesampingkan penyembahan kepada banyak allah (Politeisme).[13]

          Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa tata bahasa Ibrani membedakan secara tajam antara kata “Esa” (echad) dan kata “Satu” (Yachead) secara matematis atau satu secara mutlak. Kata Echad (esa) bukan menunjukan “satu secara mutlak” namun merujuk kepada kesatuan dalam kejamakan atau kolektif dari beberapa subjek. (Bdk. dengan Kel. 26:6, 11; Yeh. 37:17, 19). Salah satu contoh yang paling baik dalam penggunaan kata ini oleh Alkitab adalah dalam Kejadian 2:24, “Keduanya menjadi satu (=echad) daging”.[14]

        Maka dalam pemaknaan kata “Esa” (אחד) dalam Ulangan 6:4 menggambarkan keesaan Allah, sekaligus kejamakan Pribadi Allah Tritunggal (meskipun masih secara implisit) sebagaimana yang juga diungkapkan pada karya penciptaan ketika Ia menggunakan kata ganti bentuk jamak (“Kita”) sebagai subjek utama penciptaan (Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes. 6:8), namun dengan kata kerja “Bara” (בָּרָא) bersifat subjek tunggal. Kejamakan ini (Plural Majestik) juga tampak dalam penggunaan istilah “Elohim” (אֱלֹהִ֑ים)  yang diterjemahkan dengan kata “Allah” dalam PL, meskipun sekali lagi masih samar, belum secara ekplisit seperti pada PB. Penyataan ke-Tritunggalan Allah juga Nampak dalam kebenaran awal penciptaan, dimana secara implisit, Alkitab menggambarkan peranan dari Ketiganya pada saatkarya  penciptaan berlangsung,

        Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum     berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan      Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. (Kej. 1:1-3).

          Kebenaran ini menggambarkan secara implisit mengenai keberadaan Allah Tritunggal dimana Sang Bapa, Firman, dan Roh Kudus, bersama-sama berdiri sebagai subjek yang menciptakan alam semesta. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa di dalam keesaan Allah itu secara implisit juga menggambarkan ke-tritunggalan-Nya.

          Dalam Perjanjian Baru, pewahyuan mengenai Allah Tritunggal menjadi lebih terang dan eksplisit. Karena sifat wahyu Alkitab yang progress (bertahap), maka ketika kita membaca Perjanjian Baru kita menjumpai peneguhan dan gambaran yang lebih jernih tentang Allah Tritunggal yang masih samar dalam Perjanjian Lama.

          Seperti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru pun menekankan kebenaran mengenai Allah yang esa, sebagai contoh nas-nas seperti 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:3-6; dan Yak. 2:19 mengkonfirmasikan kebenaran tersebut. Namun Perjanjian Baru juga menekankan ke-Tritunggalan Allah secara eksplisit. Sebagai contoh: Mat. 3:16; 12:18; 12:28; 28:19; Luk. 1:35; 3:21-22; 24:49; Yoh. 3:34; 14:11-17; 20:21; Ki. 2:32; Rm. 15:16; 1 Kor. 6:15; 1 Kor. 12:4; 2 Kor. 13:13, dst.

          Ketiganya juga diakui sebagai Allah sebagaimana kebenaran firman-Nya dalam PB. Bapa adalah Allah (Yoh. 6:27; 1 Ptr. 1:2), Anak adalah Allah. Ia sendiri menyatakan natur Ilahi-Nya dalam kuasa dan tindakan yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Ia mahatahu (Mat. 9:4), maka kuasa (28:18), mahahadir (Mat. 28:20), Ia menopang alam semesta (Kol. 1:17), Ia ikut dalam karya penciptaan (Yoh. 1:3), dan Ia adalah Sang Firman yang secara kekal bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 1:1). Roh Kudus adalah Allah. Ia disebut sebagai Allah (Kis. 5:3-4), Ia mahatahu (1 Kor. 2:10), mahahadir (1 Kor. 6:19), dan Ia melahirkan kembali orang-orang yang percaya (Yoh. 3:5-8). Suatu tindakan yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Meski demikian, Alkitab secara tegas membedakan ketiga-Nya. Bapa bukan Anak, bukan Roh Kudus. Anak bukan Bapa, bukan Roh Kudus, dan Roh Kududs bukan Bapa, dan bukan juga Anak (Lihat gambar 1.1).

Penutup.

          Dalam beberapa rangkuman, para teolog seringkali menjabarkan karya Allah Tritunggal bagi orang percaya dalam karya tiga rangkap; Allah Bapa di atas kita, Allah Anak menyertai dan besama-sama dengan kita, serta Allah Roh Kudus di dalam kita. Karya Allah Tritunggal tersebut jugalah yang nampak pada karya keselamatan. Bapa merancang, Anak melakukan, dan Roh Kudus melahir-barukan serta memimpin umat tebusan. Keseluruhan dari natur dan ciptaan-Nya, selalu meninggalkan jejak-jejak Ilahi dari karya agung Allah Tritunggal.

          Kiranya menjadi jelas bahwa konsep keyakinan Allah Tritunggal yang dinyatakan sesuai dengan kebenaran firman-Nya sendiri, mejadi dasar dan pondasi iman dimana kita berpijak. Kebenaran ini sekaligus mendorong kita untuk menempatkan diri dalam penyembahan yang benar kepada Allah, baik dalam pelayanan gerejawi maupun dalam pelayanan publik (karakter, dan perilaku hidup).

Soli Deo Gloria!



Kepustakaan.

          Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: LAI, 2012).

          A.A Jones, R.A Cole, dkk, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016).

          Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1 : Panduan Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab (Yogyakarta: Andy Offset, 1991).

          G. I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum, 2006).

          Jan. A Boersema, dkk, Berteologi Abat XXI: Menjadi Kristen Indonesia di Tengah Masyarakat Majemuk (Surabaya: Literatur Perkantas, 2015).

          J.I. Packer, Knowing God: Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah (Yogyakarta: Andi, 2009).

          Jonar S, Theologi Proper : Menjelaskan Pribadi Allah Yang Benar, Hidup dan Absolut (Yogyakarta: Andy Offset, 2015).

          Paul Enns, The Moody hand Book Of Theology 1 (Malang: Literatur SAAT, 2010).

          Robert Letham, Allah Trinitas: Dalam Alkitab, Sejarah, Theologi, dan Penyembahan (Surabaya: Momentum, 2014).

          RC. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: Literatur SAAT, 2016).

          Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007).

            Thomy J. Matakupan, Theologi Doktrin Allah (Surabaya : Momentum Literatur, 2010).

          Walter A. Elwell, Analisa Topikal Terhadap Alkitab Jilid 1: Allah Kristus dan Roh Kudus (Malang: Literatur SAAT, 2003).







            [1] Paul Enns, The Moody hand Book Of Theology 1 (Malang: Literatur SAAT, 2010), 243.
            [2] Jan. A Boersema, dkk, Berteologi Abat XXI: Menjadi Kristen Indonesia di Tengah Masyarakat Majemuk (Surabaya: Literatur Perkantas, 2015), 128.
            [3] G. I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum, 2006), 32.
            [4] J.I. Packer, Knowing God: Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah (Yogyakarta: Andi, 2009), 5.
            [5] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 13.
            [6] Tertullian, Against Praxeas dalam Robert Letham, Allah Trinitas: Dalam Alkitab, Sejarah, Theologi, dan Penyembahan (Surabaya: Momentum, 2014), 102.
            [7] Tony Lane, Runtut Pijar…, 30.
            [8] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1 : Panduan Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab (Yogyakarta: Andy Offset, 1991), 78.
            [9] RC. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: Literatur SAAT, 2016), 43.
                [10] A.A Jones, R.A Cole, dkk, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016), 491.
                [11] Thomy J. Matakupan, Theologi Doktrin Allah (Surabaya : Momentum Literatur, 2010), 24.
            [12] Jonar S, Theologi Proper : Menjelaskan Pribadi Allah Yang Benar, Hidup dan Absolut (Yogyakarta: Andy Offset, 2015), 262.
            [13] Charle C. Ryrie, Teologi Dasar 1…, 75.
            [14] Jonar S, Theologi Proper…, 276.